Meng-kampung-kan Diri di Kota Metropolitan

Durasi Baca: 2 menit

Kampung yang dihuni oleh banyak pendatang, menawarkan tempat tinggal yang murah asalkan nyaman untuk ditinggali. Di antara mereka memulainya dengan menimbun rawa di sana dan memasangkan tiang pancangnya sendiri. Lalu dibentuk hingga mereka menyebutnya rumah. ⁣

Miris.⁣

Akan tetapi… Masih banyak rahasia di dalamnya. Mengendap, ditutupi dengan segala intrik, namun kita dilarang mengintip.

Jalur rel itu sebagian masih aktif, namun mereka seakan tenang akan lalu lintas commuterline yang menurut pemikiran kita akan berbahaya untuk anak belia di kampung. ⁣

Mereka acuh, beradaptasi, dan mulai memanfaatkan tempat yang ada.⁣ Menjemur kasur di rel mati, memarkir kendaraan bermotor yang tidak kupikirkan bagaimana memasukkannya ke area rel yang berbatu.

⁣Motor itu pun berjejer dengan rapi, seakan memang sudah menjadi tempatnya untuk parkir di kampung tersebut dan timbul kesepakatan di antara mereka.

Di pinggir rel terdapat Musholla Baitus Saja’ah yang berdiri dibagian luar kampung padat penduduk yang disebut Kampung Mandiri. ⁣⁣
⁣⁣
Anak-anak kampung pun berbahagia bermain dengan asik di antara teriknya matahari, debu yang beterbangan ketika commuterline lewat, dan dengan segala kesederhanaan yang kelak akan menjadi cerita masa kecilnya. ⁣⁣
⁣⁣
Mereka tumbuh menjadi periang lalu menjadi keras saat tahu Jakarta itu memang kejam. Mungkin salah satu di antara mereka adalah yang paling tangguh, membela apa yang menjadi haknya, atau memperdalam ilmu untuk merubah pola pikir. Tapi semua kembali kelingkungan awalnya, yaitu keluarga atau lingkungan mereka tinggal. ⁣⁣

Tepatnya dipinggir jalan daerah Mangga Dua, terdapat Masjid bersejarah yaitu Masjid Nurul Abror. ⁣

Di antara hiruk pikuk kebisingan jalan raya, di dalam masjid ada jamaah yang sibuk dengan ibadahnya dan mendengarkan ceramah seorang ustad. Mereka berkumpul di ruangan dalam masjid yang kalau saya duga itu merupakan bangunan tambahan yang disediakan untuk mengaji.⁣

Kami pun berkumpul di bawah salah satu pilar masjid yang kalau dihitung berjumlah empat pilar. Tidak jauh, terdapat mimbar yang menempel pada lantai, berwarna putih dengan tambahan cat hijau, yang memiliki desain lengkungan khas arsitektur islam.⁣

Tinggalkan Balasan