Bidara Cina yang Penuh Kisah dan Cinta

Dibaca normal 9 menit
Peserta NgoJak edisi Bidara Cina/Achmad Sofyan, 2023
Peserta NgoJak edisi Bidara Cina/Achmad Sofyan, 2023

Hari Sabtu tanggal 12 Agustus 2023 kemarin, aku berkesempatan mengikuti #Ngojak37 sekaligus #NgojakUltah yang mencoba mengeksplorasi sebuah daerah di Jakarta Timur yaitu Bidara Cina. Hal pertama kali yang terlintas di pikiranku ketika membaca flyer acara ini adalah bagaimana polemik penamaan daerah itu yang sempat aku baca.

Kontroversi Sejarah Penamaan

Kita pasti sering mendengar bahwa kata Bidara Cina berasal dari kisah pembantaian orang China pada zaman penjajahan Belanda pada tahun 1740.  Saat itu memang terjadi pemberontakan besar-besaran yang dilakukan oleh orang-orang Cina kepada Belanda yang sering dikenal dengan nama Geger Pecinan. Hal ini dipicu oleh beberapa aturan yang meresahkan dan dianggap merugikan orang Cina pada saat itu. 1

Orang Cina yang dipimpin oleh Kapitan Sepanjang alias Tay Wan Soey melakukan pemberontakan dan hasilnya terjadi pembantaian etnis China pada saat itu dan mayat mereka dibuang ke Kali Besar. Konon kabarnya jenazah mereka itu ada yang melintas di Kali Ciliwung di kawasan Bidara Cina, oleh karena itu kawasan itu dinamakan Bidara Cina yang diambil dari tragedi Cina berdarah (bidara). Cerita itu diamini oleh pengamat sejarah Rachmat Ruchiat dalam buku yang ditulisnya yaitu Asal-Usul Nama Tempat di Jakarta (2011).

Namun, hal itu disanggah oleh Adolf Heuken, seorang peneliti dari Jerman penulis beberapa buku sejarah Jakarta. Beliau mengatakan bahwa tidak ada hubungan peristiwa itu dengan penamaan Bidara Cina.  Menurut Heuken, asal-usul Bidara Cina justru erat hubungannya dengan sebuah tanaman yaitu pohon Bidara yang ada di kawasan itu. Konon daerah itu dulu dihuni oleh orang-orang Cina.

Pemerintah Belanda pada waktu itu yang menyuruh orang Cina di kawasan itu untuk menanam pohon Bidara (zyzyphus jujubelam) sebagai serapan air di Bantaran Kali Ciliwung. Hal ini bertujuan agar Kawasan Noordwijk (Pasar Baru) tidak mengalami kebanjiran saat musim penghujan.

Rumah orang Tionghoa dibakar dalam peristiwa Geger Pecinan, Wikimedia Common
Rumah orang Tionghoa dibakar dalam peristiwa Geger Pecinan/Wikimedia Common

Lokasi Peresmian Jalan oleh Presiden Sukarno

Perjalanan #Ngojak37 yang diikuti kurang lebih 30-an peserta, dimulai dari suatu tempat yang diyakini menjadi tempat peresmian jalan yang dikenal dengan nama Djakarta Bypass, yang dilakukan oleh Presiden Sukarno pada tanggal  21 Oktober 1963. Sayang sekali, tidak ada suatu tugu atau monumen apa pun yang bisa mendukung hal itu. Malahan di daerah itu berdiri tugu Elang Bondol yang merupakan maskot Jakarta (selain Salak Condet), yang terus terang saja bentuk patungnya kurang merepresentasikan seekor burung Elang yang perkasa.

Tugu Elang Bondol/Lestyo Haryanto, 2023

Kolam Renang Polonia

Titik pemberhentian pertama perjalanan kali ini ada di sebuah tempat yang disinyalir merupakan bekas kolam renang yang dulu sering disebut Kolam Renang Polonia. Kolam renang ini dulu sering dipakai oleh orang-orang Belanda sebagai alternatif selain kolam renang Tjikini di Cikini dan kolam renang Chung Hwa di Glodok.

Namun, sayang sekali karena proyek pelebaran jalan yang dilakukan oleh pemerintah maka kolam renang ini harus dibongkar. Bahkan sekarang di kawasan itu sedang ada pembangunan apartemen Tamansari Skyhive.

Rumah Polonia dan Taman C. Simanjuntak

Tempat berikutnya yang disambangi oleh #Ngojak37 adalah sebuah rumah yang menjadi terkenal gara-gara salah satu capres pernah memakainya menjadi tempat deklarasi pencalonannya. Konon, tempat yang sekarang menjadi sebuah restoran dan hall dengan nama Al Jazeerah ini dulu pernah ditinggali oleh Yurike Sanger, istri Sukarno yang ke-7.

Iman Brotoseno, seorang bloger mengungkapkan bahwa setelah menikah dengan Sukarno, Yurike diberi tempat tinggal oleh Sukarno yaitu rumah ini yang merupakan rumah sitaan kejaksaan milik seorang manipulator yang jadi buronan.  Sukarno sendiri hanya sesekali menyambangi rumah itu karena beliau masih tinggal di istana.

Rumah Polonia/Lestyo Haryanto, 2023

Hal menarik lainnya dari kawasan sekitar rumah ini adalah adanya taman di seberang jalan.  Taman yang diberi nama dari seorang komposer lagu-lagu perjuangan yaitu C.Simanjuntak ini, sekarang dijadikan tempat bermain dan berkumpul warga sekitar. 2

Hal menarik dari tokoh bernama lengkap Cornel Simanjuntak ini adalah selain menulis lagu, beliau juga terjun langsung ke medan pertempuran. Beliau meninggal tanggal 15 September 1946 dikarenakan penyakit kronis TBC ditambah dengan peluru yang bersarang di pahanya.

Landhuis Cipinang Cempedak

Sebuah bangunan tua menjadi tempat pemberhentian #Ngojak37 berikutnya. Bangunan itu merupakan landhuis yang sekarang berubah fungsi menjadi perumahan. Konon bangunan yang berdiri di lahan seluas kurang lebih 59 bouw atau 413 ribu meter persegi ini dulu merupakan gudang untuk menyimpan rumput dan padi, yang bisa berpindah tempat dengan memanfaatkan Oosterslokkan atau sungai yang berada di sebelahnya.

Landhuis Cipinang Cempedak/Lestyo Haryanto, 2023

Komplek Gereja St. Antonius Padua

Tempat ibadah ini menjadi tujuan berikutnya. Gereja yang satu kompek dengan sekolah dan panti asuhan putri ini menempati luas lahan kurang lebih 590 meter persegi. Kompleks Bangunan Vincentius Putri didirikan pada 9 Februari 1938 yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Mgr Willekens.

Gereja yang ditetapkan menjadi cagar bdaya pada tahun 2021 ini konon masih memiliki 90% keaslian bangunan sejak didirikan. Bahkan pihak gereja pada saat kunjungan #Ngojak37 sedang mengembalikan keaslian material tiang tanda salib di atas gereja dengan tembaga seperti aslinya.

Komplek Gereja St. Antonius Padua/Reyhan Biadillah, 2023

Dalam kunjungan yang mendapat sambutan hangat dari pihak pengelola gereja, ada satu hal yang sangat menarik terjadi. Di gereja Katolik, memang ada ritual untuk membunyikan lonceng gereja pada jam 12 siang untuk mengingatkan umatnya sekitar untuk berdoa Malaikat Tuhan. Namun, pada saat bersamaan juga terdengar pula dari luar suara azan dari sebuah masjid yang notabene juga mengingatkan umatnya untuk melakukan salat. Suatu hal yang menunjukkan betapa indahnya toleransi beragama di negeri ini.

Gedung PFN

Tujuan terakhir #Ngojak37 adalah Gedung PFN (Perum Produksi Film Negara) yang berada si seberang komplek Gereja St. Antonius Padua. Tempat ini menarik karena dari sinilah Si Unyil, sebuah tokoh anak-anak terkenal di era 80-an lahir. Sebuah sarana yang bisa dipakai oleh orang tua saat itu untuk mengedukasi anak-anak tentang bagaimana bersosialisasi dengan orang lain, bagaimana menghormati orang tua, dan bagaimana menghormati teman sebaya.

Bangunan utama PFN yang juga menjadi cagar budaya ini, konon mendapat pengaruh gaya arsitektur art deco dan sedikit pengaruh dari seorang arsitek Belanda Willem Marinus Dudok. Beliau ini dianggap sebagai bapak arsitektur modern Belanda. 3

Gedung PFN Jakarta/ngopijakarta, 2023

Hanya sayang, rombongan tidak bisa masuk untuk melihat secara lebih detil dikarenakan perizinan yang terlalu berbelit-belit, sesuatu yang menjadi kelemahan di negeri ini. Namun hal itu tidak menjadi masalah besar karena ternyata menurut seorang sumber, alat-alat yang bisa dikatakan kuno di tempat itu sudah dipindah ke tempat lain bahkan beberapa gedung di kompek itu sudah disewakan ke beberapa perusahaan.

Penutup

#Ngojak37 yang berlangsung selama tiga jam di hari Sabtu itu, sangatlah menarik. Melewati gang dan jalan yang tidak terlalu ramai dengan pepohonan dan pemandangan rumah beraneka ragam bentuk dan ukuran sangatlah menyenangkan.

Titik-titik yang dituju pun sangatlah menarik dan layak untuk didatangi, karena banyak hal yang bisa digali dari situ. Bukan cuma sejarah dalam arti perjuangan bersenjata tetapi juga sejarah percintaan sesuai tema yang diangkat yaitu “Bidara China: Merajut Kisah Kasih dan Cinta”.

Terakhir, tentu muncul harapan agar Ngojak berikutnya tak kalah menarik lagi dan banyak menginspirasi orang banyak untuk lebih mencintai sejarah negeri sendiri.

Sumber rujukan:

  1. Kisah Berdarah Dibalik Asal-usul Bidaracina
  2. Satu Misteri dari Polonia
  3. Himpunan Kajian Cagar Budaya Provinsi DKI Jakarta 2015-2021, Kemendikbudristek, 2022

Lestyo Haryanto

Suka baca buku non fiksi....
Suka nonton film (terkadang estafet keluar masuk studio) untuk menghabiskan waktu...

Tinggalkan Balasan