Mengenang Romo Adolf Heuken S.J

Durasi Baca: 3 menit

Pasca kemerdekaan Indonesia, tidak banyak, meskipun tidak dikatakan sangat langka orang yang mau bersusah payah mengulik kembali sejarah Jakarta sebagai identitas diri penduduknya. Selepas era F. de Haan yang mengupas sejarah Jakarta versi kolonial, tidak banyak lagi sejarawan atau bertindak sebagai sejarawan, yang mengupas sejarah Jakarta dan kenangan kolektif tentangnya.

Proyek-proyek penelitian sejarah besar Jakarta sejak era pra-sejarah hingga kemerdekaan, baru dimulai lagi pada dekade tahun 1980-1990-an. Sayangnya, tidak banyak yang bisa terlibat, mengakses atau mengetahui hasilnya, sebab dokumen-dokumen penelitiannya sebagian besar hilang entah kemana.  Booming “kembali ke sejarah” oleh para warga sejarah dan non-profesi sejarawan, baru terjadi kembali di dekade tahun 2000-an hingga kini.

Mengapa bisa terjadi demikian?

Pertanyaan itu sangat menggelitik, dengan mengapa warga sekarang, mulai mengenal lagi kotanya dan sisa-sisa sejarah kotanya. Tidak dapat dipungkiri, dahulu akses informasi yang mengalir ke masyarakat begitu kurang. Jikapun ada yang mau bersusah payah ke perpustakaan, atau ke depot arsip, atau sekadar mengunjungi tempat yang dikatakan bersejarah macam kota tua Jakarta, itupun hanya orang-orang tertentu saja, seperti sarjana sejarah, arkeolog atau antropolog. Masyarakat biasa sangat terbatas akses informasinya, paling-paling hanya teman dekat dan penduduk lokal yang tau sejarah kampungnya sendiri, atau paling banter, jama’ah pengajian saja, yang berziarah ke makam-makam keramat.

Untuk mensiasati hal tersebut, hanya ada beberapa orang yang mau bersusah payah untuk menuliskan kembali sejarah Jakarta, itupun sebagaiannya karena tuntutan pekerjaaan dan akademik. Salah satu orang yang mau bersusah payah menuliskan salah satu kepingan sejarah Jakarta, adalah Romo Adolf Heuken S.J, dengan segudang data dan kemampuan membaca data yang sangat mumpuni, beliau dapat membaca dan menulis ulang kepingan sejarah Jakarta. Beliau adalah sejarawan kota Jakarta, kelahiran 17 Juli 1929 dari Telgte, Jerman. Beliau telah melewati masa-masa penting sejarah dunia dalam hidupnya, yaitu Perang Dunia II di negerinya sendiri. Setelah melewati berbagai tahapan pendidikan, beliau akhirnya tiba di Indonesia sejak tahun 1963 di Girisonta, Ungaran. Almarhum bapak saya sering sekali bercerita, bahwa di dekade tahun 1950-1960-an, dia bersekolah di Girisonta, Ungaran Selatan, dengan berjalan kaki sejauh 17 km setiap hari. Entahlah, apakah almarhum bapak saya pernah bertemu dengan Romo Heuken atau tidak, yang pasti, beliau pernah bercerita, gurunya adalah seorang bule.

Walau sebenarnya yang saya baca dari riwayat hidupnya, beliau tidak menempuh pendidikan akademik sejarah dan arkeolog. Namun data dan fakta yang disajikan olehnya, sangat mencengangkan banyak pihak, termasuk saya, sekalipun secara pribadi saya belum pernah sekalipun bertemu dengannya.  Beliau sudah memulai karir sebagai penulis, hanya empat tahun setelah kedatangannya ke Indonesia. Bahkan hanya 7 tahun saja, beliau sudah memulai mendirikan Yayasan, yaitu yayasan Cipta Loka Caraka pada tahun 1970. Sebab ketekunannya, berbagai pernghargaan pernah diterima olehnya.

Karya pertama sejarah yang ditulisnya, berkaitan dengan pekerjaannya, yaitu Sedjarah Geredja Katolik Di Indonesia, sejak saat itu hampir setiap tahun beliau menulis karya. Sempat terhenti menulis karya besar selama 16 tahun, pada tahun 1999 Romo S.J Adolf Heuken menulis karya besar sejarah Jakarta, di mana orang-orang yang ingin meneliti sejarah Jakarta, dipermudah oleh karyanya. Karya besarnya, yang selalu menjadi buku pegangan wajib ketika merujuk dan sejarah dan menuliskannya kembali, berjudul: Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Beliau juga sangat produktif menulis tentang kajian lainnya, seperti filsafat, politik, bahasa dan terutama sejarah.

Saya sempat tercengang, bahkan mengalami kejadian lucu ketika memandu peserta susur sejarah Jakarta, dimana tempat yang saya datangi adalah salah satu makam keramat Jakarta, Jatinegara Kaum. Mengapa saya tercengang, karena rupanya stigma masyarakat tentang sejarah Jakarta (makam Jatinegara Kaum) itu keliru. Data yang disajikan dalam karya Romo Heuken menunjukkan hal yang lain, rupanya makam itu bukanlah makam Pangeran Jayakarta, Bupati Jayakarta yang ditaklukkan oleh VOC pada tahun 1619, tetapi makam itu adalah makam Pangeran Achmad Jakarta, Bupati Kabupaten Meester Cornelis atau Jatinagara (sebutan sejak zaman Jepang). Pun begitu dengan makam-makam di sekitarnya, yang rupanya merupakan makam orang-orang yang berkonflik dengan VOC selama Perang Suksesi Banten 1680-1685.

Kejadian lucunya, saat saya memandu peserta susur sejarah Jakarta, tiba-tiba saya didatangi oleh pengurus masjid yang membawa buku “sakti” sejarah Jakarta yang keliru. Ya, jelas saat itu saya merasa plonga-plongo, rupanya beliau kurang berkenan apabila sejarah yang keliru itu, “diluruskan” oleh saya dan kawan saya. 

Rupanya dunia sejarah Indonesia, kota Jakarta khususnya, kehilangan sosok yang mau bersusah payah menulis dan mengupas sejarah Jakarta. Tidak ada lagi orang yang mau bersusah payah meneliti tumpukan data sejarah yang bejibun. Tidak ada lagi sosok orang yang mau lagi menggali sejarah dari dalam Jakarta sendiri dengan ilmu yang mumpuni macam Romo S.J Adolf Heuken. Jasad beliau memang telah tiada pada 25 Juli 2019, namun ruh dan spirit beliau akan terus hidup dalam untaian kalimat-kalimat sejarah yang ditulisnya. Bahkan sebagai penulis semi-amatir sejarah yang tentu gak bersertifikasi, belum sempat memberikan hasil karya saya yang begitu jelek untuknya, psssssstttt, hingga kini saya belum sempat meminta izin darinya untuk menggunakan sedikit bagian karyanya untuk kepentingan penulisan ulang sejarah Jakarta.

Selamat jalan dalam keabadian Kasih-Nya Romo S.J Adolf Heuken, semoga huruf-huruf yang engkau tulis dalam karyamu, akan menjadi sebuah untaian rantai doa yang tak pernah putus untukmu. Kami selalu merindukan Tuhan menciptakan kembali orang sepertimu.

Rest In Peace.

Tinggalkan Balasan