Roti seringkali jadi pilihan sarapan untuk mereka yang sibuk. Alasannya, sih, karena cukup sat set untuk dinikmati sambil beraktivitas. Roti juga jadi andalan buat mereka yang tidak suka makanan berat untuk disantap di pagi hari. Jadi setangkup roti tawar dengan selai pun, sudah cukup.
Kebiasaan orang Indonesia menikmati roti saat sarapan sebenarnya sudah hadir dari zaman Belanda. Budaya ini biasa dilakukan oleh warga Belanda yang tinggal di Indonesia, dan secara tidak langsung diperkenalkanlah kepada rakyat pribumi. Di zaman itu, roti masih memiliki tekstur yang keras dan padat. Pernah tahu roti baguette yang mirip tongkat panjang? Seperti itu ciri khas tekstur roti pada zaman Belanda. Walaupun keras, roti seperti ini mampu menahan lapar yang cukup lama.
Bicara tentang roti zaman baheula, rasanya wajib juga untuk membahas salah satu merek roti legendaris yang terkenal hingga kini. Adalah roti Tak Ek Tjoan. Merek roti jadul yang lahir di tahun 1921 ini memiliki sejarah kesuksesan yang tak kalah nikmat dari roti gambang andalannya.
Awal Mula Kelezatan Roti Tan Ek Tjoan
Cerita kelezatan ini bermula dari Tan Ek Tjoan, pemuda keturunan Tionghoa yang melihat bakat sang istri, Phoa Lin Nio, yang pandai membuat roti. Kelezatan roti buatan Phoa Lin Nio rupanya memberikan Tan Ek Tjoan sebuah ide untuk menjualnya kepada orang-orang Belanda. Tan Ek Tjoan menemukan potensi daya beli yang sepertinya cukup besar karena para warga Belanda di sekitarnya pasti akan rutin mengonsumsi roti sebagai makanan pokok mereka.
Melihat peluang pasar tersebut, Tan Ek Tjoan fokus untuk mengembangkan usahanya dengan membantu Phoa Lin Nio dari segi penjualan. Pasangan ini membuat usaha rotinya di rumah sederhananya, di Jalan Perniagaan, yang kini menjadi Jalan Suryakencana, Bogor.
Berkat kegigihan Tan Ek Tjoan dalam strategi bisnis dan komitmen kualitas produk yang diutamakan Phoa Lin Nio, usaha mereka pun membuahkan hasil. Roti Tan Ek Tjoan mendapat antusiasme yang cukup besar dari warga Belanda yang tinggal di sana. Dengan cepat, roti Tan Ek Tjoan pun berkembang dan terkenal namanya hingga ke luar Bogor.
Horst Henry Geerken, seorang pria asal Jerman yang tinggal di Indonesia sejak 18 tahun lamanya pun juga memiliki kisah dengan roti Tan Ek Tjoan. Ia menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer ke Bogor hanya untuk membeli roti tersebut. Geerken mengaku menyukai roti buatan Tan Ek Tjoan karena tepung yang digunakan ialah tepung impor. Sehingga cita rasanya mampu membangkitkan kenangan akan kampung halamannya.1
Roti Tan Ek Tjoan memang kebanyakan disukai oleh warga Eropa karena tekstur rotinya yang bertipe padat keras. Roti seperti ini umum dijumpai di negara-negara Eropa dan biasanya dijadikan makanan pokok. Berbeda dengan roti ala Asia yang cenderung lembut berongga, sehingga mungkin kurang mengenyangkan dibanding roti keras.

Tapi ternyata tak hanya warga Eropa saja yang menyukai dan rela jauh-jauh membeli roti Tan Ek Tjoan di Bogor. Mantan wakil presiden Indonesia pertama, Mohammad Hatta, pun menyempatkan diri untuk membeli roti tersebut. Saat itu ia meminta supirnya untuk berhenti di toko roti Tan Ek Tjoan. Lalu sang wapres pun memberikan uang 5 rupiah kepada supirnya untuk membeli roti seharga 3,75 rupiah.
Bisnis Keluarga yang Semakin Berkembang
Sekitar tahun 1950, Tan Ek Tjoan wafat dan mewariskan usaha roti kepada istrinya. Rupanya sang istri tidak hanya piawai membuat roti saja, melainkan mengelola bisnisnya juga. Di tangan Phoa Lin Nio, bisnis roti mereka semakin meroket. Bahkan ia mampu memperluas bisnisnya hingga ke Jakarta.
Awalnya, Phoa Lin Nio memilih daerah Tamansari untuk memulai bisnisnya di Jakarta. Lalu beberapa tahun kemudian, usaha tersebut berpindah tempat ke Cikini. Hal itu dikarenakan Cikini merupakan salah satu kawasan pemukiman elit yang kebanyakan dihuni oleh orang Belanda. Jadi pangsa pasarnya masih cenderung sama dengan yang di Bogor.
Bisnis roti Tan Ek Tjoan di Jakarta pun berhasil dikelola dengan baik dengan perkembangan yang cukup pesat. Namun pada tahun 1958, Phoa Lin Nio wafat. Tongkat estafet keberhasilan pun diwariskan kepada kedua anaknya, Tan Kim Thay dan Tan Bok Nio.
Tan Kim Thay dipercayakan memegang usaha roti di Jakarta, sedangkan Tan Bok Nio mengelola yang di Bogor. Sama dengan almarhum sang ayah, Tan Kim Thay tidak mempunyai bakat membuat roti, namun ahli dalam bidang bisnis. Pengelolaan bisnis roti pun kian mantap di tangannya karena pernah mengenyam pendidikan ekonomi di Belanda. Bahkan ia berhasil memperluas toko hingga empat kali lebih luas dari yang sebelumnya. Sedangkan toko Tan Ek Tjoan di Bogor yang dipegang oleh Tan Bok Nio pindah dari jalan Suryakencana ke daerah Siliwangi karena sepi pengunjung akibat adanya Tol Gadog. Walau begitu, usaha roti tetap berjalan lancar.
Ketika Tan Kim Thay wafat di tahun 2007, bisnis roti ini hampir terhenti karena kedua anaknya tidak berminat dengan usaha keluarga. Salah satu anaknya, Alexandra Tamara, sempat mencoba meneruskan, namun tidak berhasil. Selang tiga tahun kemudian, Alexandra mengajak teman kecilnya, Josey Darwin dan Kennedy Sutandi untuk bekerja sama dalam mengembangkan bisnis roti Tan Ek Tjoan. Sementara itu, Tan Bok Nio mewariskan resep orangtuanya kepada anak bungsunya yaitu Lydia Cynthia Elia di tahun 1985.
Keduanya sama-sama meneruskan bisnis keluarga dengan merek dagang yang sama, Tan Ek Tjoan. Alexandra menggunakan nuansa warna biru merah, dan Lydia memilih nuansa kuning cokelat pada logonya. Rupanya hal ini sempat menimbulkan sengketa perebutan merek karena banyak konsumen yang bingung manakah merk roti Tan Ek Tjoan yang asli.
Setelah menempuh jalur hukum, akhirnya roti Tan Ek Tjoan yang dikelola Alexandra menggunakan nama Roti TET – yang menggunakan singkatan dari “Tan Ek Tjoan”. Sedangkan roti yang dikelola Lydia tetap menggunakan merek awal.2
Inovasi untuk Tetap Bertahan
Roti Tan Ek Tjoan sangat terkenal dengan roti tawar dan roti gambangnya yang khas. Roti gambang mempunyai tekstur padat dan cenderung bantat. Rasanya legit dengan aroma kayumanis yang nikmat, sehingga cocok untuk dijadikan teman minum kopi. Warga Belanda sering menjadikan roti ini sebagai sarapan, karena tekstur padatnya yang cukup mengenyangkan.
Walaupun terkenal, toko Tan Ek Tjoan tidak hanya menjual roti gambang dan roti tawar saja. Roti manis lain seperti roti pisang cokelat, roti kelapa, roti fla susu, dan varian lainnya juga ditawarkan dengan cita rasa jadul yang dipertahankan.
Bagi konsumen yang menginginkan roti polos tanpa tambahan filling dengan tekstur yang lembut, Tan Ek Tjoan menghadirkan roti Bim Bam. Roti ini adalah roti sobek tanpa isi dengan rasa manis yang pas. Saat dipegang, teksturnya lebih keras dibanding roti sobek lain. Namun jika disobek, terlihat lembaran demi lembaran roti yang halus dan lembut.
Rupanya penciptaan roti Bim Bam terinspirasi dari falsafah Yin & Yang. Sifat lembutnya roti Bim Bam dibuat untuk melengkapi sifat “kerasnya” roti gambang. Jadi, walaupun kedua sifat ini bertolak belakang, mereka akan tetap saling berhubungan satu sama lain.