Tentang Kebiasaan

Durasi Baca: 3 menit

Aku tak biasa… bila tiada kau di sisi ku…

Seperti halnya lagu dari penyanyi lawas, mendiang Alda, kita semua hidup dari keterbiasaan yang dibentuk dari apapun yang ‘biasa’ dilakukan oleh orang tua kita. Orang tua kita menurunkan kebiasaan ini dari ‘keterbiasaan’ yang diturunkan oleh orang tua mereka. Terus begitu berkelanjutan bagaikan mata rantai yang tidak pernah putus.

Saat saya sedang menunggu kedatangan adik saya, musaola adalah tempat paling pas untuk menunggu seseorang. Saya bisa tidur-tiduran sambil menggoda kucing yang sesekali lewat. Bertempat di Mushola Stasiun Bojong Gede, saya memerhatikan fenomena ini yang pada akhirnya menimbulkan pertanyaan dalam benak saya, “Apakah semua agama, memiliki nilai apatis yang sama ketika sudah masuk ke dalam ranah ‘keterbiasaan?”

Saya akan tarik sejenak ke masa lalu. Besar sebagai muslim, saya selalu melihat bahwa perempuan dibedakan dari laki-laki dengan batas-batas yang jelas. Termasuk posisi ketika melakukan ibadah di masjid atau musala. Entah sejak kapan diberlakukan, musala atau masjid yang hanya terdiri dari satu lantai, akan memiliki sebuah batas khusus antara laki-laki dan perempuan. Tujuannya tentu agar terhindar dari batal ketika tidak sengaja bersentuhan saat salat.

Seperti yang saya sebutkan, entah sejak kapan hal ini diberlakukan, karena seingat saya ketika saya kecil hingga remaja dan cukup aktif pergi beribadah ke masjid, shaf perempuan berada di belakang laki-laki. Mungkin dengan perkembangan zaman, pembatas kain, menjadi lebih populer dan lebih praktis dalam menentukan area ibadah tanpa risiko.

Pada awalnya, hal ini luput dari perhatian saya, mungkin karena pemandangan ini selalu dan selalu saja hadir sehingga saya ‘terbiasa’. Namun ketika saya ikut Ngojak (Ngopi Jakarta) untuk pertama kalinya di bulan Juni 2019, rombongan kami blusukan di daerah Jakarta Kota dan sekitarnya. Saat rombongan kami berhenti di salah satu masjid tertua yang merupakan titik pertama pemberhentian Ngojak, di antara sebegitu banyak peninggalan bersejarah dari masjid yang diceritakan, makamnya, pilarnya, interior kunonya, saya tidak bisa luput dari sebuah area yang dibatasi kain. Masjid ini hanya menyediakan area 2×2 meter untuk perempuan yang akan menunaikan ibadah salat, sementara, luas mesjid ini bisa dibilang sekitar 200 m2. Hal ini mengusik saya pada awalnya. Namun dengan kekuatan positif thinking saya bilang, ah mungkin, jemaah perempuannya memang sedikit, sehingga area yang disediakan adalah cukup hanya seluas itu saja.

Musala Stasiun Bojong Gede

Hingga, kembali lagi pada hari saya menunggu di sebuah musala di Stasiun Bojong Gede, barulah saya menyadari, ada yang salah dengan sikap apatis seseorang terhadap ‘kebiasaan’ yang terjadi dalam agamanya. Saat itu pukul 12 siang, memasuki waktu dzuhur untuk wilayah Jabodetabek. Pada musala tersebut, area perempuan hanya diberikan ¼ dari keseluruhan luas musala. Pada awalnya seperti paragraf sebelumnya, saya berpikir bahwa mungkin jamaah perempuannya lebih sedikit dibanding laki-laki. Namun cukuplah 20 menit saya memperhatikan hal ini, jemaah perempuannya sama banyaknya dengan jemaah laki-laki, sehingga menimbulkan antrian luar biasa ketika mereka akan beribadah. Sementara jemaah laki-laki, tidak ada yang berusaha untuk memerhatikan keadaan tersebut, meski hal itu terjadi di sebelah kiri mereka beribadah.

Karena mereka akan bertemu Sang Khalik, lebih penting daripada memerhatikan bahwa ada antrean di area jemaah perempuan sementara mereka punya ruang lebih banyak untuk beribadah. Lebih penting untuk bertemu Sang Khalik melalui empat rakaat dibanding mencoba untuk memberikan aksi bahwa saudara saya muslim perempuan, kesulitan dan mungkin saya bisa geser penghalang kain agar area mereka untuk beribadah jadi lebih lebar, sehingga antrean tidak perlu terlalu banyak.

Tentu, apalah saudara stranger sesama muslim mereka yang kebetulan sama-sama ada di musala Stasiun Bojong Gede, gak penting, yang penting saya sebagai privilage saya seorang laki-laki dalam muslim dengan segala kemudahannya. Area yang luas, tanpa perlu kain tambahan untuk menutup aurat dapat bertemu Sang Khalik menunaikan kewajiban saya. Karena dari dulu, tentunya ayah saya, kakek saya, juga tidak pernah punya semangat untuk memerhatikan sejenak, apa yang seharusnya bisa saya ubah atau tambahkan untuk kemashlahatan bersama. Tentu tidak, kan ini semata menuju keillahian.

No one cares.

Ketika tidak ada yang peduli, saya tidak serta merta bilang semua lelaki muslim itu baal dalam berempati meskipun pengennya bilang begitu, tapi ternyata saya sadar bahwa nyaris di semua agama yang memarginalkan perempuan, laki-laki di dalamnya baal. Saya hanya coba memahami bahwa ini adalah ‘keterbiasaan’ turun temurun yang diturunkan oleh ayah yang sedang salat berjamaah di area luas sambil membawa putranya. Tidak ada yang protes, tidak ada yang terusik, hanya saya. 

Ya tentu, kata-kata ‘jadi perempuan tidak boleh manja’ itu sangat membekas dari almarhum ayah saya, sehingga akhirnya yang saya lakukan adalah melebarkan area salat perempuan menjadi setengah dari luas musala Stasiun Bojong Gede. Membuat semua lelaki tersebut memandang saya, mungkin karena saya pakai pakaian see through yang dengan lancangnya melebarkan area.

Yes, you’re welcome girls.

Tinggalkan Balasan