Sisi Lain Desa Cimande

Durasi Baca: 4 menit

Sekitar 10-11 tahun yang lalu, ketika seorang sahabat saya menulis skripsi mengenai pencak silat di Madiun, saya sering sekali mendengar nama-nama aliran pencak silat, salah satunya adalah Cimande dan Cikalong. Saya mencoba cari tahu di mana letak Cimande, yang konyolnya saya kira berada di Banten. Saya cari di peta Jawa Barat dan Banten, namun saya hanya mendapatkan posisi daerah Cikalong di perbatasan antara Cianjur dan Purwakarta. Saya tidak menemukan daerah Cimande.

Bermula sekitar tahun 2016, saya mengenal Ngojak, Ngopi (di) Jakarta dari seorang sahabat saya yang tidak lagi pernah ikut. Saya mengira komunitas ini awalnya adalah grup jalan-jalan dan terus saya tanamkan di benak saya sejak pertama kali ikut, tetapi tidak. Komunitas ini adalah sebuah wahana belajar, yang tidak melulu berbicara sejarah, tapi banyak hal yang lain. Founder-nya adalah kang Ali, begitu saya menyebutnya, mas Indra Pratama dan mbak Novita Anggraini serta kang Ari Wibowo.

Seiring berjalannya waktu dan intensitas kami bertemu, saya diberitahu bahwa kang Ali Zaenal ini berasal dari Cimande. Saya sering bertanya mengenai asal daerah kelahirannya, tapi ya, seperti saat pertama kali kenalan, dia masih enggan bercerita banyak, apalagi menunjukkan begitu hebat nama daerahnya di luar sana. Kesannya datar dan terkadang saya kira, dia males membicarakan daerahnya pada saya.

Kesan itu terus saya simpan, hingga suatu kali di bulan Ramadhan, kang Ali mengajak saya untuk pertama kali, untuk mengunjungi daerahnya, Cimande. Butuh waktu dua tahun rupanya untuk dapat kesempatan dan kepercayaan darinya. Tunggu, saya ketawa dulu…buahahahahaha. Rupanya Cimande tidak terletak di Banten (Cikande), tetapi di Bogor.

Kesan pertama mengenai Cimande adalah daerah unik dan tidak mungkin saya temui di tempat lain di Bogor, kecuali kampung yang tua seperti Karadenan Kaum. Mulai dari sholat tarawih, sholat Jum’at, hingga berziarah ke makam. Sejak saat itu, saya selalu rindu ke Cimande, bahkan ketika ada salah satu keluarga Cimande yang wafat. Saya yang juga berkepentingan menulis sejarah dan apapun yang berkaitan dengan Cimande, hal itu membuat saya sedih ketika kang Ali mengabarkan satu-persatu beberapa tetua desa Cimande wafat. Saya berkesempatan ke Cimande sebanyak lima kali dan tanggal 30 Agustus-1 September 2019 adalah salah satunya. Kali ini bersama-sama kawan Ngojak sebanyak 17 orang dalam rangka Ngojak Offline yang bertajuk, “Melebur Cimande”.

Perjalanan saya ke Cimande kali ini, mengungkap salah satu sisi unik dari desa Cimande, terutama sekali, saya berkesempatan melihat langsung latihan silat, tanpa dihalangi untuk mencobanya. Padahal di tempat dan perguruan lainnya, saya diharuskan untuk mengikuti prosesi tertentu. Pada perguruan silat yang dipimpin oleh wa’ Didih pada pagi hari Ahad, latihan silat Cimande dimulai, semua peserta membaca ta’leq, yaitu pernyatakan prinsip dan aturan para pesilat Ciamnde, pembacaan Pancasila dan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sebelumnya kami diajak melihat sunrise di bagian lain desa Cimande, baru kemudian melihat latihan penca silat. Kami diajarkan selalu bersikap seperti tumbuhan Padi.

Di sisi lain, Cimande juga menunjukkan geliatnya melalui pertanian. Warga tidak hanya mengandalkan penghasilan dari stigma warga luar Cimande, bahwa Cimande adalah tempat pengobatan patah tulang, dan itu tidak dapat disalahkan. Cimande adalah salah satu penopang pangan di Kabupaten Bogor, dengan sistem yang saya kira sangat filosofis.

Pak Agus Asmara dan mang Jajang Soemantri memberikan kami pemahaman, bahwa tanah Cimande dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk menopang itu, sedangkan pengobatan patah tulang hanyalah sambilan saja.

Saya bertanya: “Mengapa demikian?”

Mang Jajang lalu memberi jawaban logis sekaligus bersifat religis, “Jika warga di sini mengandalkan penghasilan dari pengobatan patah tulang, itu sama saja berdoa, supaya banyak warga luar Cimande yang celaka”.

Pak Agus kemudian memberi penjelasan lain yang sama logisnya, “Di sini hari Sabtu dan Selasa, pijat patah tulang libur”.

Seketika kami bertanya: “Lho, orang yang sakit kan gak mungkin nunggu hari”.

Beliau lalu memberi penjelasan, “Bahwa jika tidak tahu, ya tidak apa-apa, tapi gak dikasih jampe pas mijitnya. Hahahaha”.

Mengapa hari Sabtu dan Selasa libur, kedua hari itu digunakan untuk bertani dan mengurus kebun, karena untuk menopang logistik tamu yang datang ke pondok pengobatan, tentu harus diberikan makan. Memberi pelayanan lantaran pengobatan tidak melulu soal uang, tetapi ada rasa persaudaraan dan silaturahim. Tidak jarang pak Agus justru malah memberi bekal bagi tamu yang tidak mampu. Bahkan dulu pernah direncanakan dibangun rumah sakit, tetapi ditolak, menurutnya ada pesan yang dalam maknanya, yang diwariskan dari orang tuanya: “Kita akan kehilangan rasa kekeluargaan, karena tidak ada lagi tamu yang diberikan pelayanan layaknya keluarga, jika melihat pelayanan seperti rumah sakit pada umumnya”.

Di bagian lain, kami juga dibawa untuk melihat pengolahan dan pemanfaatan sebagian lahan desa Cimande, untuk budidaya lidah buaya dan salak jenis Pondoh bertajuk Slebor, yang merupakan akronim Sleman Bogor. Pos yang menjadi tempat transit kami, P4S Antanan, merupakan kantor pengelolaan kebun dan koperasi buah Salak Slebor di sekitar Bogor.

Ada satu yang menjadi kealpaan kami, yaitu kami melewatkan diri berziarah ke makam leluhur (kasepuhan) Cimande. Bagi saya yang sudah beberapa kali berkunjung ke Cimande, mungkin tiada mengapa, tetapi bagi yang lain, itu kesempatan yang sangat terlewat. Saya bergumam dalam hati: “Main ke rumah leluhur, mau bertemu cucunya, tetapi tidak menyalami dan menyapa yang punya rumah”.

Ah, sudahlah, mungkin lain kali kami semua dapat berziarah ke sana pada kesempatan lain. Kali ini saya cukup puas melihat Sisi Lain Desa Cimande.

Perjalanan ini mengubah mindset saya tentang Cimande, yang saya kira hanya berkutat pada pencak silat dan pengobatan patah tulang. Ini juga memberi pemahaman pada saya, bahwa warga desa Cimande mempunyai potensi ekonomi yang lain.

Saat ini, sebagai salah satu kekuatan terbesar desa Cimande adalah sejarah dan kulturnya yang kuat, dibentuklah semacam organisasi yang mengurusi wisata desa Cimande, Desa Wisata Cimande, maka destinasi tamu ke Cimande tidak hanya mengenai wisata ziarah dalam tradisi ngabungbang, namun dapat ke agrowisata, wisata alam, dan terutama wisata budayanya.

Semoga kelak warga desa Cimande dapat mandiri secara pangan dan sandang, tetapi secara ekonomi, budaya dan terutama alaamnya, untuk menopang hidup dan kehidupan warganya. Saya beruntung sekali dapat berkunjung kembali ke Cimande untuk melihat sisinya yang lain.

Selamat berkunjung ke Cimande. Meleburlah bersamanya.

Tinggalkan Balasan