Menikmati Bakso di Musim Hujan

Durasi Baca: 2 menit

Sore yang gerimis di pinggiran sebuah ruko, beberapa pengendara sepeda motor mulai berteduh meminggirkan kendaraannya. Rintik yang mulanya percikan saja, kini semakin deras. Tak ketinggalan para pedagang menyelamatkan diri dari guyuran air yang disertai angin. Jakarta seketika gelap. Segalanya berlangsung cepat ketika saya dan seorang kawan memesan bakso. Dalam suasana hujan seperti ini, satu kenikmatan telah hadir. Beberapa orang pun ikut memesan. Kadang saya sedikit sombong, tentu saja seraya mendo’akan, semoga benar karena kehadiran kami baksonya ini bisa laris manis.

Bakso yang selalu hangat dengan kuahnya ini secara tak sadar akan membuat kita meyakini bahwa makanan ini sangat mendukung di semua iklim, apapun; dalam cuaca dingin, bakso akan menjadi makanan penghangat. Begitu pula ketika musim panas, bakso akan dianggap sebagai makanan pelepas penat, apalagi jika dibumbui sambal dalam porsi banyak. “Obat kantuk mujarab selain kopi,” kata kawan saya.

Bakso bukan hanya sekadar makanan, ia bisa dikombinasikan sebagai subtansi dasar dengan bentuk konsumsi lainnya, kerupuk, indomie, sayuran, bahkan saya paling hobi mencampurnya dengan rengginang. Bakso bisa mencakup semua aspek ruang dan waktu.

Coba perhatikan, makanan ini pada kenyataannya bisa membantu kita memahami ambiguitas yang lazim dalam keseharian kita.

***

Usai musim hujan dan pasca banjir, sudah jadi langganan kalau jalanan di beberapa daerah bakal rusak. Ini yang selalu bikin saya malas untuk pulang ke Bogor setiap weekend. Terakhir pernah masuk lubang yang menganga begitu panjang, hampir satu meter panjangnya di kawasan Parung. Beruntung saya dan kendaraan punya keseimbangan. Bisa dipastikan, jika tidak ada keseimbangan dan panik berlebihan saya sudah masuk Rumah Sakit.

Belum lagi jalanan yang ada di sepanjang Ciawi menuju Sukabumi. Sudah jalannya kecil, jalannya rusak parah, berlubang,  kendaraan-kendaraan pabrik pula yang melewatinya. Dan pastinya malah menambah kemacetan. Tentu saja ini mengganggu aktivitas masyarakat. Mungkin mereka ada yang terburu-buru hendak ke pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, berobat ke dokter, atau ada keperluan genting lainnya.

Kalau membaca Undang-Undang Lalu Lintas Nomor 22 tahun 2009, sebetulnya masyarakat bisa menggugat hal ini kepada penyedia jalan, dalam hal ini pemerintah. Sepanjang Januari kemarin, setidaknya ada empat kecelakaan lalu lintas akibat jalan berlubang di Jakarta. Jumat lalu, malah seorang polisi terluka akibat motor yang dikendarainya menghantam lubang di Jalan Warung Jati Barat, Pancoran, Jakarta Selatan.

Untuk mengajukan gugatan, masyarakat baik pengguna jalan maupun yang tinggal di sekitar jalan rusak disarankan didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum. Tidak saja minta ganti rugi, namun juga menuntut pemerintah agar melaksanakan kewajibannya menyediakan jalan yang layak dan memadai.

Pemerintah sebaiknya menggunakan filosofi bakso di atas yang selalu dinamis di segala cuaca. Mau musim hujan atau panas, kondisi jalan seharusnya tetap mulus. 😀

Ah, kembali ngomongin bakso. Saya teringat seorang pedagang keliling di kampung yang masih menjajakan baksonya hingga kini. Dari zaman saya kecil, jika saya perhatikan wajah dan perawakannya sama sekali tidak berubah. Begitu pula rasa baksonya.

Maka tak salah, menikmati bakso ternyata bisa melupakan jalan butut di sekitar kita.

Sumber foto: https://flic.kr/p/pr1g46

Ali Zaenal

Ali Zaenal (44)

Penafsir ruang dan waktu.

%d blogger menyukai ini: