Saatnya Pulang

Durasi Baca: 4 menit

Januari 2017, seorang senior kampusku, namanya Resi, dia membagikan sebuah pesan di grup kampus mengenai acara Ngopi Jakarta. Sempet nanya ini acara apa sih? Judulnya Ngopi Jakarta jangan-jangan acara ngopi-ngopi, duh kan aku ga bisa ngopi. Tapi Ka Resi ngejelasin kalau diacara itu ga harus Ngopi, dan lainnya. Tertarik pas diceritain soal kampung Tugu, yang sama sekali aku ga tau itu Kampung apa dan kenapa bisa ada kampung di Jakarta, gila sejarah aku nol banget ya, padahal sejak lahir dijakarta hahaha

Eiiittsss, tapi pas dibilang acaranya bayar dan lumayan untuk mahasiswa sekaligus pekerja miskin kek aku ini. Aku pun mengurungkan niat buat ikut, ya sebab acaranya mepet dan uangku di kantong gak mencukupi buat disisihin sampai acara tiba.
Salah satu temen kampusku, namanya, duh aku lupa, maafkan aku bunda 🙁 tapi dia bilang dia gak jadi ikut karena anaknya sakit. Jadi dia nawarin aku buat gantiin dia daripada uangnya hangus. Duh, sujud syukur seketika, rezeki emang gak kemana ya hehehe.

Akhirnya Minggu pagi, 8 Januari 2017, aku ikut acara Ngopi Jakarta. Kumpul di stasiun Jakarta Kota, terus kaya orang bingung, gak kenal siapa-siapa. Tapi aku suka, suka banget ketemu orang baru. Apalagi ternyata acaranya seru. Seumur hidup aku gak akan tahu soal Kampung Tugu kalau aku gak ikut Ngopi Jakarta. Tau gak? Aku nari-nari gitu terus diolesin bedak putih, ih seneng banget.

Pulang dari acara, aku lihat seorang kakak perempuan dan seorang kakak laki-laki, mereka ngobrol serius banget, seakan mau merencanakan acara selanjutnya. Aku yang kepoan dan suka sksd, nyoba nanya ke mereka dan menyampaikan senangnya aku hari itu bisa berjumpa dan ikut acara Ngopi Jakarta.

Siapa sangka, tiba-tiba aku dimasukin grup “Komisaris” namanya, aku pikir itu semacam grup para petinggi, sempet namanya kok bisa masuk ke sini, entah sampai saat ini mereka gak pernah ngasih jawaban yang pasti, aku disuruh mikir sendiri jawabannya, gimana coba. Hahaha.

Lika-liku terjadi di dalam grup. Aku yang macam anak bawang bisa ngerasain adanya goresan bawang merah yang memedihkan mata dan ingin marah. Kadang bisa ngerasain si manis bawang putih yang bikin mata nangis juga. Hahaha.

Sudah hampir 3 tahun, aku berada disini, iya di Ngopi Jakarta. Malu lebih sering menghampiri karena aku gak bisa jadi apa-apa selain nerimain chat para penggemar NgoJak atau yang hanya sekadar ingin coba-coba lalu menghilang tanpa kabar kaya si gula ditelan kopi.

Tapi di sinilah aku merasakan rumah yang sesungguhnya dari mereka 9 orang saat ini di grup komisaris dan 45 orang lainnya di grup besar Ngopi Jakarta. Aku pernah baca, kadang ada beberapa orang yang gak bisa punya rumah dengan atap dan dinding tebal, tapi tetap merasa hangat. Ada juga yang gak punya rumah, tapi selalu bisa pulang. Dan itulah mereka, entah sejak kapan, aku jatuh cinta, selalu rindu ingin bertemu, ingin loncat memeluk mereka. Tapi nyatanya selalu gak kesampaian karena malu banyak peserta baru. Hahaha.

Gapapa ya panjang..

Ada Ka Novita, kakak perempuanku yang tegas, aku selalu pengen jadi dia. Kenapa? Karena dia manis saat pakai almet putih dan berada di antara alat-alat kimianya. Kalau kamu di rumah melihara kucing, dia mah melihara bakteri. Hebatkan kakakku? Hehehe.

Ada Ka Ali, kakak laki-lakiku yang pendiam, gak bisa ditebak. Sering aku sangka lagi marah ternyata gak. Hahaha. Tapi aku suka karena setiap ketemu, dia selalu ngelus kepalaku, yang mempan banget jadi obat, seakan di tangannya ada kata-kata tersirat, “kamu akan baik-baik aja dek, semangat!” dan dia selalu ngirim chat WA di grup dengan kalimat sama, “Semangat, Ki!” lengkap dengan tanda serunya. Hehehe.

Ada Ka Sofyan, guru favoritku. Seandainya waktu bisa diulang, aku akan milih guru sejarahku itu dia. Pasti nilai sejarahku gak akan sejelek saat ini. Dia salah satu yang membuat kita gak benci masa lalu. Tetaplah jadi guru yang memberikan kebahagiaan lewat cerita masa lalu alias sejarah. Hehehe.

Ada Ka Daan, satu-satunya orang yang gak bisa aku tebak. Dia tuh suka gemesin gitu. Bikin lawakan tapi dengan ekspresi datar, kadang mukanya bete bikin aku takut deketin. Tapi gak lama dia becanda dan bikin ketawa lucu. Dan yang paling singkat nanggepin gue curhat di grup. Sebel!

Ada Ka Reyhan, dia itu kakak paling baperan, tapi dia itu paling legowo gitu, gimana ya jelasinnya. Hahaha. Dia sering ngajarin aku beberapa hal yang lebih ke arah agama. Lucu dan serasi kalau NgoJak bareng sama istrinya Ka Aris.

Ada Ka Rahmah, guru favorit juga, tapi dia lebih kaya ibu anak-anak NgoJak. Dia perhatian, lembut, dan telaten. Dia itu suka tiba-tiba bawain hadiah, entah freshcare biar gak masuk angin, entah susu buat aku biar sehat, dan lainnya. Keibuan banget kan?

Ada Ka Adi yang lucu banget. Kadang pas lagi ngobrol bisa ngelakuin hal yang bikin ketawa semua orang. Tapi dia juga yang kalau udah serius, serius banget.

Duh masih 48 orang lagi, udah ya, jangan semuanya, ntar Ngopi Jakarta isi websitenya cuma curhatan aku doang.

Ohya malam tadi, 4 Agustus 2019, Jakarta dihebohkan dengan matinya lampu secara serempak dalam waktu cukup lama.

Mungkin ini hadiah dari semesta untuk menyambut ulang tahun Ngopi Jakarta, dengan mengistirahatkan Ibukota. Kita yang terlalu sibuk dengan gadget karena perkerjaan, kuliah, games, dan banyak hal lainnya. Akhirnya bisa melepaskan gadget kita, keluar rumah, menyapa tetangga yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak pernah kita sapa, mengobrol ngalur ngidul, ngerujak dan ngopi bareng. Tanpa mikirin ada pekerjaan baru apa yang harus segera diselesaikan, berita terbaru apa yang tersebar di internet, ada cerita terbaru apa dari sosial media kawan kita yang bisa kita jadikan keluhan untuk membandingkan, lalu tidak mensyukuri hidup kita. Ternyata semudah itu membuat kita dan ibukota ini berhenti sejenak dan melihat sekitar serta bersyukur.

Terima kasih Ngopi Jakarta sudah lahir dan hadir di antara kami, salah satunya aku.
Terima kasih untuk semua yang berada sebagai tiang-tiang berdirinya Ngopi Jakarta.
Terima kasih sudah menjadi wadah belajar, penyambung silahturahmi, dan memaknai hidup lewat tempat tinggal atau sekadar tempat untuk disinggahi.

Sekali lagi, selamat ulang tahun Ngopi Jakarta.
Tetaplah ada dan tinggalkan kisah kasih di antara kita semua. Ngopi Jakarta lahir bukan sekadar wadah dengan banyak aturan di dalamnya, yang harus gonta-ganti kepengurusan. Ia adalah rumah untuk semua orang yang rindu pulang, tanpa ada kata bubar.

Terima kasih sudah menjadi rumah untukku.
Salam cinta,
Kiky Priscilla Dwi Putri

%d blogger menyukai ini: