Membaca Jakarta bersama Ngojak, dari Cikini hingga Salemba

Durasi Baca: 8 menit

Halo 2018!

Senang bisa berjumpa denganmu.

Semoga banyak pula kesenangan yang bisa saya jumpai di tahun ini.

Seperti kesenangan saat mendengar kabar bahwa kegiatan Ngojak offline akan kembali diadakan. Suka cita saya mendengar kabar ini. Butuh waktu 84 hari menunggu dalam rindu agar saya bisa kembali ikut merasakan kesenangan mengenal kota Jakarta tercinta. Membaca Jakarta, melalui kegiatan Ngojak offline yang kali ini mengambil tema “#Ngojak11 – Cikini; Bentrok Ideologi di Kampung Juang”.

Ngojak offline adalah sebuah kegiatan kopi darat yang diinisiasi oleh para pegiat apresiasi kehidupan kota. Kehidupan yang mencakup ruang, sejarah, budaya, tradisi, lingkungan dan manusia. Para penggiat ini memfokuskan kegiatan mereka di kota Jakarta, mereka menamakan diri dengan nama Ngopi Jakarta atau Ngojak.

#Ngojak11 berlangsung pada Sabtu 13 Januari 2018, Stasiun Cikini menjadi titik kumpulnya. Ketibaan saya di titik kumpul bukanlah yang pertama, namun bukan pula yang terakhir. Waktu kosong disaat menunggu #Ngojak11 mulai, saya manfaatkan dengan menikmati segelas kopi hitam buatan tukang kopi keliling.

Lebih kurang pukul 8.00 #Ngojak11 dimulai, dari Stasiun Cikini kami berjalan ke arah utara menuju Sekolah Peguruan Cikini atau yang lebih dikenal dengan nama Percik. Dalam perjalanan, kami singgah disebuah rumah yang tampak tua namun tidak luntur kemegahannya. Itu adalah rumah Bapak Ahmad Soebardjo, Menteri Luar Negeri Indonesia yang pertama.

Dikisahkan oleh rekan kami, mas Achmad Sofiyan, salah satu orang yang paling dipusingkan dengan dibawanya Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok oleh para pemuda menjelang proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945 yang lalu, adalah bapak Ahmad Soebardjo. Karena saat itu beliau termasuk bagian dari anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Achmad Soebardjo pula yang kemudian dikawal para pemuda menjemput Soekarno-Hatta dari Rengasdengklok untuk kembali ke Jakarta. Berkat kemampuan diplomasinya, Achmad Soebardjo mampu menjembatani aspirasi kaum muda dan kaum tua semasa persiapan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Rumah Bapak Achmad Soebardjo di Cikini, Jakarta Pusat | Foto milik mas Ali Zaenal

Tidak jauh dari rumah bapak Achmad Soebardjo terdapat Sekolah Perguruan Cikini. Sebuah sekolah yang pada masanya merupakan tempat menimba ilmu bagi anak-anak pesohor negeri.

Mas Indra Pratama, salah satu pemateri pada #Ngojak11 ini mengatakan, bahwa beberapa putra-putri Presiden Soekarno seperti Guntur Soekarno Putra, Megawati Soekarno Putri, dan Guruh Soekarno Putra adalah alumni Percik. Selain mereka, nama-nama seperti Akbar Tanjung, Hayono Isman, Subronto Laras, Nasution bersaudara (Zulham, Gauri, Keenan, Oding dan Debby Nasution), Bimbim `Slank`, Sam Bimbo, hingga putra-putrinya Presiden Soeharto pernah mengenyam pendidikan di Percik.

Namun ada sebuah peristiwa berdarah yang terjadi di Percik pada Sabtu malam, tanggal 30 November 1957. Saat itu sedang berlangsung suatu kegiatan bertajuk Malam Amal Ulang Tahun ke-15 Sekolah Rakjat Perguruan Tjikini. Presiden Soekarno turut menghadiri kegiatan dalam kapasitas beliau sebagai orang tua murid

Saat akan pulang dan diantar menuju mobil, ada sebuah ledakan didekat Presiden Soekarno. Tidak hanya satu, tapi ada dua ledakan dan diikuti dengan lemparan beberapa granat ke arah Presiden Soekarno.

Salah seorang pengawal Presiden Soekarno bernama Ngationo, kemudian mengorbankan diri dengan menjadikan tubuhnya tameng hidup. Soekarno selamat, namun banyak orang tewas dan terluka dalam peristiwa ini, termasuk wanita dan anak-anak.

Sekolah Perguruan Cikini | Foto milik mba Novita Anggraini

Kami pun melanjutkan perjalanan. Kali ini menuju Jalan Cidurian No. 19. Saat tiba disana, kami melihat sebuah bangunan mewah berwarna putih dengan tulisan `Gedung Tri Dharma Widya`.

1 comment

%d blogger menyukai ini: