Membaca Jakarta bersama Ngojak, dari Cikini hingga Salemba

Pienemaan adalah seorang pelukis spesialis kejadian bersejarah. Pienemaan melukiskan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro di tahun 1930 dengan judul `The Submission of Prince Dipo Negoro to General De Cock`. Raden Saleh yang melihat lukisan tersebut di Belanda lalu membuat interpretasinya pada tahun 1957.

Lukisan karya Raden Saleh menggambarkan wajah Pangeran Diponegoro yang berbeda, yaitu wajah yang menunjukkan keberanian, para pengawalnya yang tidak membawa senjata sebagai tanda itikad baik, serta kepala orang-orang Belanda yang diperbesar untuk menimbulkan kesan mengerikan.

Lukisan berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh (1857) | Foto milik en.brilio.net

Kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah situs Makam Al Habib Abdurrahman bin Abdurrahman Al Habsyi (Habib Cikini), Masjid Al-Makmur di Jalan Raden Saleh Raya, bekas Kantor CC PKI dan Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kami singgah cukup lama di Kantor PBNU yang terletak di Jalan Kramat Raya no. 164. Selain untuk istirahat dan melaksanakan sholat Dzuhur, di kantor PBNU ini kami diajak untuk melihat-lihat sebuah ruangan yang bernama Pojok Gusdur. Di ruangan inilah dahulu Kyai Haji Abdurrahman Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Dur, berkantor. Baik dimasa beliau belum menjadi Presiden, maupun beberapa saat setelah beliau tidak menjabat lagi sebagai Presiden ke-4 Republik Indonesia.

Di Pojok Gusdur, seorang kawan yang bernama mas Hasan Bashori berbagi kisah kepada kami. Kisah-kisah tentang sosok Gus Dur yang begitu sederhana dan mampu memberi keteduhan batin kepada siapa saja yang bertemu dengan beliau. Gus Dur yang jenaka, spontan, dan selalu haus akan ilmu pengetahuan. Semua kisah disampaikan dengan ringan, diiringi rujak buah yang pedasnya menyegarkan.

 

Dari kantor PBNU kami pun melanjutkan perjalanan. Tujuan kami selanjutnya adalah Museum M.H. Thamrin yang terletak tidak jauh dari kantor PBNU, tepatnya di Jalan Kenari. Sayang, hari sudah terlalu sore sehingga museumnya sudah tutup saat kami tiba. Namun di halaman museum yang telah tutup, kami tetap antusias mendengarkan kisah Muhammad Husni Thamrin dan keberadaan museum ini dari mba Uci.

Kami terus berjalan dan tujuan selanjutnya adalah kampus Universitas Indonesia (UI), Salemba. Dalam perjalanan menuju kampus UI, kami melewati sisa dari jembatan kereta/trem dan bangunan bekas Stasiun Salemba yang kini sudah berubah fungsi menjadi rumah tinggal penduduk. Sisa-sisa bentuk bangunan stasiun yang dibangun pada tahun 1899 tersebut masih tampak nyata. Seperti bentuk pintu-pintu, dinding, ventilasi hingga atap bangunan yang sangat khas melambangkan bahwa bangunan tersebut adalah bangunan tua yang dibangun di masa kolonial.

Tinggalkan Balasan