Jakarta di Ujung September

Durasi Baca: 2 menit

Menjadi penghuni Jakarta yang numpang hidup, ternyata tak kalah galau dengan mereka yang secara resmi ber-ktp DKI.

Seumur hidup tidak menyukai Jakarta. Mulai jatuh cinta pada kota ini sejak 2012. Awal yang sederhana: ketika tahun baru bisa jalan kaki susur Sudirman-Thamrin dan melihat betapa sigapnya pasukan kebersihan berbenah. Lalu kebahagiaan demi kebahagiaan mulai muncul di kota ini: #Sungai bersih dan tempat2 umum relatif lebih bersih serta ada taman2 kota dan trotoar (maklum, pejalan kaki). Lalu mudah pergi kemana-mana pakai transportasi: TransJakarta, kereta, bajaj, ojek hingga taksi (lebih nyaman dan praktis). Melapor lebih cepat ditanggapi dan punya aplikasi lapor lagi. Kemewahan! bagi warga kota seperti saya yang puluhan tahun sering diabaikan oleh pemerintahnya sendiri.
Kegalauan muncul. Saya amat berterimakasih kepada mereka yang menggagas perubahan ini dan menjalankannya, meski penuh tantangan. Membuat kehidupan lebih nyaman di Jakarta. Tetapi, di sisi lain, pedih sekali melihat hal-hal yang sama sekali tidak saya sukai: penggusuran saudara-saudara yang lebih lama tinggal di kota ini, prosesnya memedihkan. Bukan saja bicara tentang aturan, sebuah keputusan yang diabaikan, tetapi juga tidak ada lagi ruang dialog, pendekatan yang memanusiakan manusia.

Kampung deret dan perbaikannya yang pernah bikin saya girang bukan kepalang untuk alasan yang sangat egois: bisa jalan kaki nyaman dan keliling2 kampung jajan, menikmati wajah2 bahagia pemilik rumah. Membayangkan kebahagiaan mereka memiliki hunian yang manusiawi dan lingkungan yang lebih nyaman. Tapi ini juga dihentikan. Alasannya: itu tanah negara dan mereka penghuni liar. Ada tabrakan hukum di sini.

Entahlah. Saya terlalu bodoh untuk berdebat. Saya juga tidak suka kumuh. Makanya senang ketika kampung diperbaiki (bukan digusur).  Sisi jahat dalam diri saya ingin sekali merampas tanah-tanah kosong di pusat2 kota. Membangunkan hunian yang aman dan nyaman, terjangkau bagi kita yang hidup di pinggiran, yang perlu waktu 2-4 jam pp ke kantor tiap hari. Jadi kita bisa jalan kaki ke kantor, berkumpul dengan keluarga, beraktivitas bersama teman dan keluarga, atau bisa kerja lebih lama, daripada buang waktu di jalan. Toh, berapa banyak mereka yang mampu beli unit milyaran rupiah dibanding jutaan orang dari kita. Berapa banyak yang bisa dihemat dari energi, bbm, kualitas udara dan akhirnya: kualitas kehidupan itu sendiri.

“It was the best of times, it was the worst of times, it was the age of wisdom, it was the age of foolishness, it was the epoch of belief, it was the epoch of incredulity, ….” A Tale of Two Cities.

**

Catatan galau Jakarta di penghujung September (30/9/16)

Diella Dachlan

Diella Dachlan (3)

Baca, ngopi, jalan

%d blogger menyukai ini: