Membaca Jakarta bersama Ngojak, dari Cikini hingga Salemba

“Dulu itu markas Lekra,” ujar mas Indra kepada kami.

Mas Indra dan beberapa pemateri lain lalu menceritakan bahwa pada tahun 1950 berdiri Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang didirikan oleh Aidit, Njoto, AS Dharta, dan MS Ashar. Lembaga ini didirikan sebagai organisasi afiliasi dari PKI, dimana Lekra diharapkan dapat menjadi penggerak seni dan budaya yang merujuk kepada kebudayaan seni dan sastra Uni Soviet era Stalin saat itu.
Berbagai bentuk seni dan budaya dipakai Lekra untuk berkampanye, mulai dari sastra, seni lukis, seni rupa, sampai kesenian tradisional berbentuk pertunjukan.

Dari Jalan Cidurian No. 19 kami menuju Jalan Raden Saleh Raya. Mendengar namanya saja mungkin sudah dapat diterka, kemana kami selanjutnya. Ya benar! Kami berjalan menuju kawasan Rumah Sakit PGI Cikini yang di dalam kompleknya terdapat bangunan Istana Raden Saleh.

Namun sebelum tiba disana, kami singgah sesaat di sebuah bangunan bergaya kolonial Belanda yang belum lama ini dikenal dengan nama Restoran Oasis. Selain karena kemewahan dan langganannya para pejabat serta orang kaya, restoran mahal ini dulu sangat terkenal dengan istilah `Rijsttafel`, yaitu cara penyajian hidangan secara berurutan dengan menu berbagai macam kuliner khas nusantara.

Penyajian makanan seperti ini berkembang sejak era kolonial Hindia Belanda, Rijstaffel memadukan etika dan tata cara perjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan orang Indonesia.

Rumah bekas restoran Oasis dibangun pada tahun 1928 dan berfungsi sebagai rumah tinggal keluarga tuan F. Brandenburg van Oltsende, seorang milyuner Belanda pemilik perkebunan teh, karet dan kina. Saat kami tiba disana, bangunannya sedang dibersihkan dan mengalami perbaikan di beberapa bagian rumah. Kabarnya sudah ada penyewa lain yang akan memfungsikan kembali bangunan tersebut menjadi tempat usaha kuliner.

Bangunan eks Restoran Oasis dan rumah tinggal keluarga tuan F. Brandenburg van Oltsende

Dari bangunan eks restoran Oasis kami melintas jalan dan memasuki area rumah sakit PGI Cikini. Di sini kami langsung disambut oleh mba Novi Safitri, sesama penggiat Ngojak, dan pak Abdul, petugas di Istana Raden Saleh.

Saat masuk ke dalam istana, tampak sekali suasana suka cita menghias ruangan. Aneka balon berwarna biru muda dan putih masih tergantung di sudut dan bagian atas bangunan. Kumpulan balon yang dibentuk menjadi angka `120` tampak di salah satu sudut ruangan.

“Kami baru ada acara, merayakan ulang tahun ke-120 RS PGI Cikini,” terang mba Novi.

Di istana Raden Saleh ini, giliran mba Suci Rifani yang menjadi pemateri. Dengan lugas mba Uci, begitu dia biasa disapa, mengisahkan tentang siapa itu Raden Saleh dan apa saja kisah-kisah yang dia tinggalkan.

Nama lengkapnya adalah Raden Saleh Syarif Bustaman, beliau seorang pelukis beraliran Romantis. Pada usia 13 tahun, Raden Saleh belajar melukis ke seorang pelukis naturalis bernama AAJ Payen di Bandung. Lukisan yang Raden Saleh buat atau pelajari sebagian besar adalah lukisan pemandangan Hindia Belanda, yang diperuntukkan untuk kantor urusan kolonial di Belanda.

Bakat melukis Raden Saleh membuatnya dikirim ke Eropa. Ia pandai bergaul dengan para Bangsawan Eropa, termasuk Raja Belanda Willem I dan Willem II, dengan mengaku sebagai “Pangeran dari Jawa”.

Berfoto bersama di depan istana Raden Saleh | Foto milik mba Novi Safitri

Raden Saleh banyak melukis potret diri para bangsawan Eropa dan melukis banyak lukisan romantik dengan konteks Hindia Belanda, untuk kepentingan apresiasi Kolonial. Gaya atau aliran melukis seperti ini kemudian dinamakan sebagai aliran Mooi Indie. Di Eropa, Raden Saleh juga memiliki tugas untuk mengajari orang-orang di departemen kolonial Belanda mengenai adat-istiadat Jawa.

Raden Saleh kemudian menikahi seorang janda kaya bernama Constancia von Mansfield, yang mewarisi beberapa perkebunan besar di Jawa dari mendiang suaminya, Nicholaas Winckelhaagen. Pada tahun 1851 Raden Saleh pulang ke Jawa bersama istrinya, dengan harta istrinya, ia membangun rumah besar di sisi sungai Ciliwung yang desainnya meniru Callenberg Castle di Beiersdorf, Jerman, dimana ia pernah tinggal untuk beberapa waktu.

Salah satu lukisan Raden Saleh yang sangat terkenal adalah lukisan berjudul `Penangkapan Pangeran Diponegoro` yang dibuat pada tahun 1857. Lukisan ini seolah menjadi bentuk protes dan perlawanan Raden Saleh terhadap kolonialisme, khususnya protes terhadap lukisan karya Nicholas Pienemaan.

Tinggalkan Balasan