fbpx

Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Durasi Baca: 4 menit

Di prasasti setinggi kurang lebih 2.5 meter itu tertulis, “Bulan Agustus, Musim Gugur Tahun 1761. Atas dasar rasa tanggung jawab, dari hasil pengumpulan sumbangan secara sukarela, maka dibukalah tanah ini untuk pemakaman, untuk menenangkan arwah-arwah yang menangis, tempat peristirahatan arwah-arwah, dan dengan harapan agar dikenang oleh para penerus… “.

Selanjutnya di bawahnya tertulis nama-nama para penyumbang, yang mana Jia Bai Dan Lin/Kapitan Lin sebagai penyumbang terbesar sebanyak 1000 koin emas dan Wu Zhi Mi Shi dan Hua penyumbang terkecil dengan 10 koin emas. Prasasti yang terletak di halaman Klenteng Di Cang yuan/Vihara Tri Ratna di Jalan Lautze 64 ini memuat peringatan tentang perluasan pekuburan Gunung Sahari. Dan ini merupakan pertanda bahwa di Sawah Besar, Kemayoran, dan sekitarnya merupakan kompleks kuburan bagi warga Tionghoa di sekitaran tahun 1761 sebelum dan sesudahnya.

1 kilometer ke arah Utara dari Klenteng Di Cang yuan, di kali Gunung Sahari melintang Jembatan Merah. Toponimi Jembatan Merah diceritakan berasal dari darah hasil pemotongan hewan yang mengalir ke sungai di bawah jembatan ini. Dulu di wilayah ini terdapat rumah pemotongan hewan atau pejagalan yang dalam bahasa Belandanya disebut Abattoir/Slachthuis Gemeente Batavia.
Komplek pejagalan ini terbagi 2, di sebelah Utara dibangun tahun 1905 dan sekarang hanya menyisakan bangunan tua kecil bekas menara air yang terletak di dalam kompleks Balai Material dan Konstruksi, Kementeriaan Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat di Jalan DR. Suratmo. Kompleks bangunan yang lebih muda ada di sebelah Selatan Jalan DR. Suratmo, perkiraan pembangunannya di tahun 1933-1936, tapi sekarang tidak menyisakan apa apa lagi. Di lokasi itu berdiri ruko-ruko dan jalan kecil yang dinamakan Jalan Pejagalan sebagai penanda dulu pernah ada pejagalan atau rumah potong hewan.

Berjalan kurang lebih 7 menit menyusuri Jalan Pangeran Jayakarta ke arah Stasiun Jayakarta, ada masjid di sebelah kanan jalan di mana di sisi kiri dinding mesjid ada plakat kecil beraksara hanacaraka.

“Pasarean
Kanjeng Raden Mas Adipati Sasradiningrat I
Papatih Dalam Nagari Surakarta
1694 – 1707”

Ini terjemahan bahasa Indonesianya, “Adanya makam seorang pembesar Kasunanan Surakarta dan putra dari Pakubuwono II di Jalan Pangeran Jayakarta ini merupakan hasil konflik internal di dalam kraton dan pengaruh dari VOC juga sehingga beliau “dibuang” ke Batavia dan meninggal di sini. Oleh keturunan beliau di sebelah makam dibangun masjid yang sekarang dinamakan Masjid Jami Jayakarta.

Sekitar 400 meter dari masjid di Gang Taruna bersemayam Kapiten Tionghoa pertama di Batavia, Souw Beng Kong. Souw Beng Kong adalah saudagar kaya raya, bersama 400 anak buahnya pindah dari Banten ke Batavia atas bujukan JP. Coen untuk membangun kota pelabuhan baru di atas puing-puing kota Jayakarta yang direbut JP. Coen dari tangan Fatahillah di tahun 1619.
Makam Souw Beng Kong berciri khas makam Tionghoa; bong pay (nisan) dengan aksara Tionghoa, altar di depan makam, dan gundukan tinggi tanah di belakang bong pay berhimpitan dengan rumah-rumah penduduk. Dulu malah di atas makam ada bangunan rumah tinggal dan bong pay-nya berada tepat di bawah anak tangga untuk naik ke lantai dua. Walaupun sekarang keadaannya sudah lebih baik semenjak tanah di sekitar makam dibeli oleh Yayasan Souw Beng Kong, tapi perawatan makam masih seadanya. Tak disangka seorang yang kaya raya pada zamannya, makamnya sangat tidak mencerminkan kejayaan masa hidupnya. Halaman depan makam tertua di Jakarta ini (di bong pay tertulis 1644 sebagai tahun wafatnya Souw Beng Kong) menjadi kubangan air pada saat hujan dan lokasi makam menjadi tempat jemuran bagi warga sekitar.

Masih di dekat makam Souw Beng Kong, di gang kecil di tepi Kali Ciliwung, makam Raden Ateng Kertadrya dikeramatkan

Tokoh Raden Adeng Kertadrya ada hubungannya dengan Pieter Erberveld dan sejarah Kampung Pecah Kulit. Pada tahun 1721, pemerintahan kolonial VOC menangkap Pieter Erberveld dan Raden Ateng Kertadrya beserta gerombolannya atas tuduhan hendak membunuh orang orang kulit putih dan menguasai Batavia, walaupun ada cerita lain yang mengatakan gubernur VOC pada waktu itu, Henric Zwaardecroon, ingin menguasai tanah Pieter Erbelveld dan membuat cerita bohong tentang rencana pemberontakan seperti yang diceritakan di atas. Kemudian Pieter Erbelveld dihukum dengan sangat kejam, tubuhnya ditarik dengan arah berlawanan oleh 4 ekor kuda sehingga terpecah belah, dan dari cerita itulah nama Kampung Pecah Kulit terbentuk.
Sebuah monumen dengan tengkorak tertancap tombak didirikan di atas makam Pieter Erbelveld oleh VOC, dengan prasasti yang berisi peringatan atau ancaman bagi siapa saja yang ingin melawan VOC. Prasasti itu kini kita bisa dilihat di halaman belakang Museum Fatahillah, dan replikanya dengan tengkorak tertancap tombak ada di Museum Prasasti di Tanah Abang. Lokasi  sekarang bekas makam dan prasasti tersebut telah dijadikan dealer mobil.

Henric Zwaardecroon, gubernur jendral VOC yang memerintah penangkapan Pieter Erbelveld dan Raden Ateng Kertadrya ternyata makamnya tidak berjauhan dengan monumen mengerikan Pieter. Batu nisan dengan ukiran cetak dari tembaga yang sangat bagus sang gubernur itu ada di muka pintu Gereja Sion.

Gereja Sion dibangun tahun 1693 di atas tanah kuburan, di luar tembok Batavia. Awal pembangunan gereja ini diperuntukan untuk para tawanan Portugis yang miskin dan budak budak yang dibeli dari India, yang kemudian mereka dikenal dengan sebutan Portugis Hitam. Area kuburan di sekitar Gereja Sion yang sekarang beralamat di Jalan Pangeran Jayakarta no.1 dulu sangat luas sampai melewati rel kereta di dekat Stasiun Kota. Di tahun 1790 tercatat 2.381 orang dikubur di sini. 2.230 makam adalah makam pegawai dan tentara VOC dan itu belum termasuk kuburan para budak dan orang orang miskin yang tidak tercatat. Pada sekitar tahun 1800an, kuburan-kuburan ini dipindahkan ke Tanah Abang dan sekarang hanya menyisakan 11 nisan saja, termasuk nisan sang gubernur jendral.

Rentang panjang kisah-kisah kematian dan makam-makam berusia ratusan tahun ini sekarang menjelma menjadi gedung-gedung kantor, rumah-rumah tinggal, restoran, stasiun kereta, jalan raya, taman taman, tempat tempat ibadah, pasar bahkan Indomart dan Alfamart. Jiwa-jiwa mereka yang telah mati pasti bergentayangan, kesepian, di hiruk pikuknya kota Jakarta. Karena doa-doa yang seharusnya menemani mereka di alam sana, tidak terpanjatkan, hilang bersamaan dengan hilangnya makam-makam mereka.

%d blogger menyukai ini: