Aku Ingin Pindah ke Weltevreden

Durasi Baca: 3 menit

“Aku ingin pindah ke Meikarta!”

Apakah Anda familiar dengan kalimat di atas? Iya. Iklan Meikarta. Sebuah wilayah yang digadang-gadang akan menjadi kawasan elit bagi warga Jakarta. Di mana kebahagiaan dan kenyamanan tumpah ruah di dalamnya.

Tetapi karena ini bukan cerita tentang Meikarta, dan saya juga tidak mendapat bayaran apa-apa, maka cukup sampai di sini saja. Sejatinya saya ingin bercerita tentang Weltevreden.

Izinkan saya memulai dengan sedikit cuplikan sejarah agar pembaca paham konteksnya.

Sumber foto: Website Sinarharapan.net

Kawasan Weltevreden dahulunya hanyalah sebuah daerah tak bertuan hingga seorang perwira VOC bernama Anthony Paviljon membuka daerah ini pada tahun 1632, yang kemudian hari dikenal dengan nama Paviljoenplein. Kepemilikan Paviljoenplein kemudian berpindah tangan ke salah satu dewan Hindia Belanda bernama Cornelis Chastelein pada tahun 1696. Di tanah ini dibangun villa-villa peristirahatan bagi kaum elit Hindia Belanda. Dan nama Weltevreden lahir, yang bermakna tempat yang menyenangkan. Kawasan ini semakin pesat saat konglomerat Belanda, Justinus Vinck, membangun dua pasar yakni Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang.

Tahun 1809, Gubernur Jenderal W.H. Daendels memindahkan pusat pemerintahan dari Batavia lama ke Weltevreden atau Niuwe Batavia. Alasan pemindahan ini disebabkan karena saat itu kondisi Batavia lama sudah tak layak huni. Banyak masyarakat yang mati karena wabah penyakit kolera. Bahkan disebut-sebut bahwa J.P Coen (pendiri Batavia) juga tewas karena wabah ini. Selain itu, tata ruang yang berantakan juga menjadi alasan pemindahan.1

Cita-cita Daendels adalah menjadikan kawasan Weltevreden seperti Istana Versailles di Paris.

Kastil Batavia lama dibongkar dan beberapa materialnya digunakan untuk membangun Paleis van Daendels (Istana Daendels) / Het Groote Huis (Rumah Besar, sekarang menjadi Gedung Kementrian Keuangan). Daendels menetapkan lokasinya di timur Paradeplaats (kini Lapangan Benteng) dan memerintahkan Kolonel JC Shultze sebagai arsiteknya. Nuansa Empire style menjadi inspirasi gedung mewah ini yang saat itu sedang tren di Paris. Tiga bangunan besar menghadap langsung ke Paradeplaats, sebuah lapangan tempat parade dilaksanakan dan tempat gaul sosialita Belanda.

Sumber foto: Bagas Ardhianto Diedit oleh: @bung_ucok

 

Namun pembangunan tak urung selesai karena Daendels dipindahtugaskan dari Hindia Belanda. JW Jansens, gubernur selanjutnya, hanya mengisi bagian atap dengan rumbia saja. Adalah Gubernur Jenderal Du Bus yang menyelesaikan bangunan ini dengan sempurna pada tahun 1828. Tak hanya itu, ia juga membuat patung singa di Paradeplaats yang telah berganti nama dengan Waterlooplein (disebut Taman Waterloo demi memperingati kemenangan Belanda atas pasukan Napoleon saat peperangan Waterloo, Belgia).2

Daendels juga menyulap sebuah tanah menjadi Taman Lapangan Raja atau yang dahulu dikenal dengan nama Champ de Mars (sekarang Lapangan Monas). Taman Lapangan Raja ini sangat luas, meski tidak simetris karena satu sudutnya terpotong sungai dan jalur kereta api. Di Lapangan Raja inilah tontonan kekuatan militer selalu disajikan. Pasukan kavaleri kuda, perlengkapan bersenjata, dan latihan baris-berbaris menjadi hiburan lazim saat itu.

Seperti jamur, bangunan-bangunan mewah bermunculan satu demi satu. Sebut saja Loji Freemason De Steer ni Het Oosten (Loji Bintang Timur, kini gedung Kimia Farma), Gementee Huis Batavia (Balaikota Jakarta), Gereja Immanuel, Istana Merdeka, rumah kediaman Bernhard (Gedung Pancasila), Gedung Kesenian Jakarta, Gedung Filatelli, Gereja Katedral, Taman Wilhelmina,  dan lain-lain.3

Intinya segala kemewahan dan kenyamanan Batavia telah bergeser ke Weltevreden.

Andai saja dulu Daendels memiliki kemahiran copywriting, mungkin ia akan membuat iklan dengan suara anak kecil yang berkata:

“AKU INGIN PINDAH KE WELTEVREDEN!”

 


Beberapa foto:

Sumber rujukan:

  1. Biadilla, Reyhan._____, Kontestasi Arsitektural (Warisan Perlombaan Arsitektural Gedung-Gedung Sekitar Gambir) [pdf], disajikan dalam pertemuan Ngojak 13, Jakarta.
  2. ______. 2009, Weltevreden, Cikal Bakal Pusat Pemerintahan Jakarta Saat Ini [online], diakses pada tanggal 1 April 2018.
  3. Mukhti, MF. 2014, Istana Putih [online], diakses pada tanggal 1 April 2018.

1 komentar

Tinggalkan Balasan