Macan Ibu Kota Yang Tak Lagi Punya ‘Rumah’

sudah ku bilang kau jangan melawan Persija
kini kau rasakan sendiri akibatnya
lebih baik kalian diam di rumah saja
duduk yang manis nonton di layar kaca

Yel-yel The Jakmania di atas menggema saat saya memasuki Stadion Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ-sekarang Persija), Cideng, Jakarta Pusat. Stadion VIJ menjadi saksi tumbuh kembang Persija. Namun, meski nama awal Persija diabadikan menjadi nama stadion, klub yang kini identik dengan warna oranye ini sekarang tidak memiliki ‘rumah’.

Persija lahir sebagai gerakan perlawanan. Saat itu sejumlah pemuda berinisiatif menggalang dana untuk korban kebakaran Pasar Baru dan Gang Bunder yang terjadi di tahun 1927 lewat pertandingan sepak bola. Namun niat baik itu terhalang karena Voetballbond Batavia Omstaken (VBO), asosiasi sepak bola milik Hindia-Belanda melarang mereka menggunakan Lapangan Deca (Monas).

Sering mendapat perlakuan diskriminatif seperti di atas, sejumlah pemuda lalu berinisiatif untuk membentuk wadah bermain bola. Setelah melalui beberapa kali rapat, klub dengan julukan Macan Kemayoran ini akhirnya lahir pada Rabu, 28 November 1928. Satu bulan setelah Sumpah Pemuda.

Surat kabar Pemandangan pada tahun 1938 mengupas proses kelahiran Persija dalam tulisan “Riwayat VIJ”. Dalam tulisan tersebut disebut, Persija lahir dari ide Soeri dan A Alie. Tujuan dasar dari pembentukan Persija adalah sebagai wadah persatuan klub-klub dan sebagai alat perjuangan menuju kemerdekaan melalui jalur sepak bola.

Persija semakin berkembang setelah tokoh Betawi, M.H Thamrin menyumbangkan uang sebesar 2000 gulden untuk membangun Stadion VIJ yang menjadi markas pertama Persija. Di stadion ini lah Persija berhasil menyabet empat gelar juara kompetisi perserikatan pada tahun 1931, 1933, 1934 dan 1938. Keberhasilan Persija meraih gelar juara juga berdampak kepada pemain. Nama-nama seperti Roeljaman, Iskandar, A. Gani, Djaimin, Moestari, dan Soetarno menjadi idola saat itu.

“Dulu lapangan (VIJ) terbuka saja. Pagar kawat. Lapangan ini dulu dipegang Jasdam (unit kesehatan TNI AD),” ujar Abdullah Palawah (63) sambil matanya menerawang jauh ke masa lalu.

Abdullah Palawah (63) eks pemain Jakarta Putera (10/11/2018)

Pada tahun 1951 Persija pindah kandang. Presiden Soekarno mengizinkan klub yang kini digawangi Ismed Sofyan, menggunakan Stadion Ikatan Atletik Djakarta (Ikada-sekarang Monas) untuk menjadi markas. Saat bermakas di Stadion Ikada, ‘Macan’ Ibu Kota merebut gelar juara di tahun 1954. Banyak orang menyebut Persija tahun 1954 merupakan generasi emas Sang Macan. Saat itu Persija dihuni Sucipto Soentoro, Endang Witarsa, serta Sinyo Aliandoe.

Namun kebersamaan Persija dengan Stadion Ikada berakhir pada November 1961. Pasalnya Bung Besar mengubah Stadion Ikada menjadi Monumen Nasional (Monas). Tapi Bung Karno tak lepas tangan. Bung Karno lalu memberikan Stadion Menteng atau sebelumnya dikenal sebagai Lapangan Voorwaarts Is Ons Streven (VIOS) kepada Persija sebagai pengganti Stadion Ikada.

Meski Persija sudah pindah ke Stadion Lebak Bulus sejak tahun 2000, kenangan yang paling membekas bagi Persija di Stadion Menteng adalah terjadi di tahun 2006. Kala itu, Gubernur Jakarta Sutiyoso merobohkan Stadion Menteng dan menggantinya dengan Taman Menteng pada Rabu, 26 Juli 2006.

Kontroversi mewarnai keputusan gubernur yang akrab disapa Bang Yos ini. Pasalnya Bang Yos menjabat sebagai pembina Persija justru merobohkan markas klub binaanya. Selain itu, Stadion Menteng sudah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak tahun 1975.

“Karena dia punya kepentingan di situ, dia ambil tuh lapangan,” tegas Abdul dengan rasa kesal.

Stadion Lebak Bulus menjadi titik balik Persija. Usai meraih gelar juara Liga Indonesia 2001, Macan Kemayoran belum pernah lagi menjadi juara. Selain menjadi markas Persija, stadion berkapasitas 15.000 penonton ini juga menjadi markas untuk The Jakmania. Klub yang identik dengan nama Bambang Pamungkas ini pun harus menyingkir dari Stadion Lebak Bulus setelah Badan Liga Indonesia di musim 2008-2009 memutuskan Stadion Lebak Bulus tidak layak menggelar pertandingan liga. Sang Macan pun meminjam Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) untuk bertanding.

Ingatan saya kembali ke tahun 2008 mengenang keseruan Stadion Lebak Bulus. Saat itu Persija melawan Deltras Sidaorjo. Persija berhasil menangkan pertandingan lewat tendangan bebas kaki kiri Bambang Pamungkas. The Jakmania bersorak gembira.

Bambang Pamungkas Macannya Persija
Bola ditendang langsung masuk ke gawang
Sorak-sorak The Jak Bergembira
Hari ini raih poin 3

Namun sejak menggunakan Stadion Utama GBK, Persija seperti kehilangan daya magisnya. Selain itu, Persija kesulitan mendapatkan izin menggelar pertandingan dari Polda Metro Jaya membuat Macan Kemayoran semakin tersingkir dari ibu kota. Sang Macan pun mau tak mau menyingkir ke Stadion Patriot, Bekasi, Jawa Barat dan Stadion Manahan Solo.

“Sekarang saya enggak tau Persija di mana. Saya enggak tau mantan pengurus Persija ada di mana, pelatih usia muda Persija ada di mana. Saya enggak tau mereka di mana,” beber pria asal Manado, Sulawesi Utara ini.

Minggu, 21 Desember 2014 menjadi momen yang tak terlupakan bagi Persija. Persija harus mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya ke Stadion Lebak Bulus. Kenangan dan ‘auman’ Persija di ujung selatan Jakarta kini hanya tinggal kenangan.

Pasalnya, Pemprov DKI Jakarta memutuskan kawasan stadion akan diubah menjadi Stasiun Mass Rapid Transit (MRT). Pemprov DKI Jakarta berjanji akan membangun Stadion BMW sebagai pengganti Stadion Lebak Bulus. Namun pembangunan Stadion BMW hingga kini masih terkendala pembebasan lahan.

Berdesak-desakkan, penonton Jakarta
‘tuk beri dukungan, Jakarta
Penuhi stadion, ibukota
Bersorak, Ha! A, ku, Cinta, J.A.K.A.R.T.A
A, ku, Cinta, J.A.K.A.R.T.A dan pantang menyerah, Jakarta
Jebolkan gawang, musuhmu
Tinggalkan stadion, ibukota
Gempita, Ha!

Tinggalkan Balasan

X
%d blogger menyukai ini: