manusia

Moyangku Adalah Pelaut

Banyak orang yang mengira, Jakarta hanya daratan yang ada di pulau Jawa saja. Orang-orang lupa dan bahkan tidak tahu, bahwa Kepulauan Seribu juga menjadi bagian dari DKI Jakarta. memang harus dimafhumi, bahwa ketidaktahuan itu merupakan sebuah kealpaan, di mana mereka karena kesulitan hidup atau kemampuan mendapatkan pengetahuan mengenai daerah Kepulauan Seribu. Daerah ini merupakan satu-satunya daerah setingkat Kabupaten di DKI Jakarta yang luasnya seluas Kabupaten Bekasi atau Karawang, tetapi memang daerahnya hampir 85 persennya merupakan lautan.

Tidak dapat disangkal, potensi besar Kepulauan Seribu bagi sektor pangan, pariwisata serta sejarah amat besar. Sejak masa kolonial, pulau-pulau di Kepulauan Seribu telah dijadikan daerah pertahanan, galangan kapal dan bengkelnya, isolasi haji serta tanah pembuangan. Pulau seperti Edam (Damar), Onrust, Tidung, Sebira dan yang lainnya di sisi utara, mempunyai potensi wisata sejarah dan ziarah bagi DKI Jakarta sendiriSesuatu yang menarik untuk dicermati secara geografis, gugusan pulau di Kepulauan Seribu hanya berjumlah 106-113 pulau saja, bahkan secara geografis, pulau-pulau itu lebih dekat ke propinsi Jawa Barat, Banten dan Lampung.Selengkapnya »Moyangku Adalah Pelaut

Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya

Jakarta sebagai Ibukota selalu menggambarkan kota-kota besar layaknya di negara besar lainnya. Pusat Jakarta memperlihatkan kemegahan dan keistimewaan hidup jika dilihat sebagai sebuah lingkup kota metropolitan yang diusungnya. Terdapat gedung-gedung megah bertingkat kanan-kirinya, mal-mal besar bersanding satu sama lainnya. Kota Jakarta bahkan tidak pernah tidur selama 24 jam dalam  sehari, untuk memenuhi kebutuhan manusianya dalam memenuhi hasrat-hasrat manusia modern. Lain daripada pembahasan soal pusat kota, Jakarta selalu bertarung dengan kampung kota dalam membangun kemewahannya. Pusat kota bukan saja menggusur sebagian besar kampung yang memiliki cerita besar di dalamnya. Pada lain pihak, kampung kota menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan para manusia yang tinggal di Jakarta, karena Jakarta bukan hanya ada di pusat kotanya saja.

Permukiman di Indonesia, pada umumnya memiliki 3 tipe permukiman, seperti tipe permukiman yang terencana (Well-Planned), tipe permukiman kampung dan tipe permukiman pinggiran/kumuh. Dalam konteks perumahan perkotaan, kampung merepresentasikan konsep housing autonomy dimana warga kampung mempunyai kebebasan dan otoritas untuk menentukan sendiri lingkungan kehidupan mereka. Kampung juga merepresentasikan apa yang dikatakan Turner sebagai housing as a process, as a verb. Konsep ini memaknai bahwa pembangunan perumahan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah/MBR, tidak bisa dilihat sebagai satu one stop policy, melainkan sebagai proses menerus yang dinamik seiring dengan proses pengembangan sosial dan ekonomi warga kota.Selengkapnya »Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya

Tak Ada Lebaran

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga satu persatu. Lama ia beranjak dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Sahabat yang duduk paling depan mendengar beliau mengucapkan “Amin” di setiap anak tangga yang dipijaknya. Tiga kali. Di anak tangga pertama, beliau mengucap, “Amin.” Di anak tangga kedua, “Amin” lagi yang diucapkannya. Di anak tangga ketiga, beliau menutupnya pula dengan “Amin.”

Lepas khutbah, sahabat di barisan depan itu bertanya, “Engkau mengucapkan ‘Amin’ tiga kali. Ada apa gerangan?” Rasulullah bercerita tentang Jibril yang datang kala itu. “Jibril berdoa,” katanya, “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu dosa-dosanya tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan shalawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn”.Selengkapnya »Tak Ada Lebaran

Buka Puasa Bersama Jawa, Bali, Tionghoa dan Belanda di Masjid Angke

Di awal penguasaan VOC di Batavia, orang-orang Bali didatangkan sebagai budak yang dijual oleh raja-raja mereka. Selain sebagai budak bagi para orang Belanda pada zaman itu, di mana jumlah budak yang dimiliki menunjukkan prestise dan menaikkan derajat pemilik budak. Ada juga yang dipekerjakan di kebun atau sawah yang dimiliki oleh tuan tanah kaya. Wanita Bali pun terkenal pandai mengurus rumah tangga dan cantik, sehingga disukai oleh orang Belanda dan Tionghoa yang menjadikan mereka sebagai gundik. Ada pula orang Bali yang berstatus bebas dan menjadi tentara VOC.1

Saking banyak orang Bali di Batavia, tercatat dari tahun 1687 sudah 4 kampung etnis Bali; di Jakarta Pusat, Jakarta Timur (Bali Mester, Jatinegara), Jakarta Barat (Bali Krukut dan Bali Angke). Kampung etnis Bali pun semakin bertambah ke daerah lain, diantaranya Kampung Gusti (1709) di Kampung Angke sampai Kampung Bali di Tanah Abang (1874).Selengkapnya »Buka Puasa Bersama Jawa, Bali, Tionghoa dan Belanda di Masjid Angke