Umur sepuluh tahun bagi manusia merupakan masa ketika pertumbuhan fisik semakin pesat, tanda-tanda pubertas mulai muncul, serta emosi dan cara berpikir berkembang menjadi lebih mandiri. Mereka mulai mengenal privasi, lebih peduli pada kelompok teman sebaya meskipun suka berdebat atau mempertahankan pendapat karena merasa sudah tahu banyak hal.
Namun, bagi Ngojak, satu dekade merupakan bukti bahwa idealisme yang mereka pegang mampu bertahan. Ngojak adalah komunitas yang sersan—serius tapi santai—apa adanya, serta tidak terikat aturan-aturan baku yang justru dapat mengekang anggotanya. Bagi Ngojak, prinsip itu bukanlah slogan yang hanya dipasang di media sosial, melainkan cara mereka mengelola komunitas: menjaga kegiatan tetap terjangkau, mempersiapkan setiap perjalanan dengan sungguh-sungguh, dan menjadikan belajar sejarah sebagai pengalaman yang menyenangkan.
Idealisme ini semakin kentara ketika saya terlibat obrolan dengan Mas Reyhan (PIC Ngojak saat ini bersama Mas Achmad Sofiyan) dan Mbak Ayies (salah satu anggota awal Ngojak) di angkutan kota yang membawa kita ke Stasiun Rawabuaya di edisi Ngojak ke-57 tanggal 1 Agustus 2026 kemarin. Dari obrolan bersama Mbak Ayies dan Mas Reyhan, saya menangkap satu kesimpulan: Ngojak ingin mengajak peserta bersenang-senang sambil mengenal Jakarta dan sekitarnya.
Para pengurus berusaha menjaga prinsip tersebut tanpa mengurangi keseriusan dalam menyiapkan setiap kegiatan. Bahkan ketika seorang peserta mengatakan bahwa biaya mengikuti kegiatan Ngojak jauh lebih murah dibandingkan komunitas atau penyelenggara lain, Mbak Ayies menjelaskan bahwa biaya tersebut memang hanya digunakan untuk sumbangan ke lokasi yang dikunjungi, transportasi, air minum, dan pengelolaan website.
Baca juga:
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
Murahnya biaya bukan berarti persiapannya dilakukan seadanya. Justru di balik setiap kegiatan, ada proses yang dikerjakan dengan sangat serius. Keseriusan itu tampak ketika Ngojak menyiapkan sebuah acara. Baik acara sendiri maupun kolaborasi dengan komunitas lain, mereka melakukan survei dan mempersiapkan acara tersebut jauh-jauh hari sebelumnya, sehingga rute acara sangat matang dan estimasi waktunya tetap terjaga. Meski demikian, tidak semua rencana berjalan mulus. Ada kalanya lokasi—terutama yang dikelola pemerintah—membatalkan izin secara mendadak, sehingga dalam situasi seperti itu, Mas Reyhan dan Mas Sofiyan harus segera menyusun rute alternatif yang tetap sesuai dengan tema kegiatan.
Saya sudah cukup lama mengenal Ngojak, tetapi baru aktif mengikuti kegiatannya dalam tiga tahun terakhir, termasuk menuliskan pengalaman mengikuti perjalanan tersebut di website Ngojak. Bagi saya, Ngojak adalah sebuah wadah yang tepat untuk orang-orang yang ingin mengenal sejarah Jakarta dengan santai karena bisa menganggapnya waktu untuk berkreasi sekaligus berjalan-jalan.
Keunggulan lain Ngojak adalah melibatkan warga lokal (“warlok” atau “akamsi”) untuk berbagi cerita mengenai daerah tempat mereka tinggal. Informasi ini terkadang bisa memperkaya informasi yang diberikan Mas Reyhan dan Mas Sofiyan yang menjadi narasumber tetap komunitas ini.
Baca juga:
Refleksi 9 Tahun Ngopi Jakarta
Akhirnya, selamat ulang tahun ke-10 untuk Ngojak, semoga terus bertumbuh, tetap setia pada idealismenya, dan semakin banyak mengajak orang mengenal Jakarta melalui cara yang menyenangkan. Sepuluh tahun bukan sekadar penanda usia, tetapi bukti bahwa sebuah komunitas dapat bertahan ketika tetap setia pada nilai yang diyakininya.
Seperti yang pernah dikatakan filsuf Albert Schweitzer, “Example is not the main thing in influencing others. It is the only thing.” Kiranya Ngojak terus menjadi contoh bahwa idealisme, ketika dijalankan dengan konsisten, mampu menghadirkan ruang belajar, bertemu, dan berjalan bersama bagi semakin banyak orang.