“Hal terbaik tentang sebuah foto adalah ia tidak pernah berubah, bahkan ketika orang-orang di dalamnya telah berubah.” Sebuah kutipan sederhana dari Andy Warhol, seorang seniman, sutradara avant-garde, penulis dan figur sosial Amerika yang seakan mengingatkan bahwa sebuah perjalanan perlu diabadikan.
Minggu tanggal 21 Juni 2026, perjalanan Ngojak terasa berbeda karena hari itu Ngojak berkolaborasi dengan Re-PublikFoto, sebuah komunitas yang sering mengadakan acara fotowalk secara rutin di agendanya. Dengan kehadiran komunitas ini, peserta Ngojak mendapatkan berbagai kiat fotografi di setiap titik kunjungan, di mana kali ini Ngojak menjelajahi daerah Matraman dan Jatinegara dengan tema “Jejak Jayakarta.”
Monumen Perjuangan Jatinegara
Monumen Perjuangan Jatinegara dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat pada masa perang kemerdekaan, khususnya di wilayah Jatinegara. Monumen berada di ujung Selatan Jl. Matraman Raya, di sebuah area di tengah-tengah pertemuan Jl. Jatinegara Barat dan Jl. Urip Sumoharjo, persis di depan Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat Eukomunia (Gereja Protestan Jemaat Koinoia).
Monumen ini dibangun selama 2,5 tahun dan baru diresmikan pada 7 Juni 1982 oleh Gubernur DKI Jakarta Tjokropranolo.1. Monumen yang diprakarsai oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin ini, tadinya akan dibangun di sekitar Viadek (viaducht) Jatinegara namun dibatalkan karena tempatnya yang tidak memungkinkan. Untuk pembuatan patungnya sendiri dipercayakan kepada seorang pematung bernama Haryadi dan dibuat dengan bahan beton cor dan gips, dan pengecorannya dilakukan di Yogyakarta.

Monumen ini berbentuk 2 sosok manusia yang berdiri tegak di atas landasan setinggi 3 meter. Sosok pertama menggambarkan seorang pemuda berpakaian seperti seragam tentara (Pejuang TNI) berukuran tinggi 2,5 meter dan di sampingnya berdiri sosok kedua yaitu seorang anak laki-laki setinggi 1 meter. Di bagian belakang landasan patung, ada sebuah prasasti yang bertuliskan: “Tiada Sesuatu Perjoangan Yang Lebih Luhur Daripada Perjoangan Kemerdekaan.” Sebuah kalimat pengingat bagi semua orang, termasuk kita yang hidup sekarang ini.
Gereja Koinonia
Gedung gereja ini awalnya dibangun sekitar tahun 1889 oleh seorang bernama Keuchenius yang merupakan mantan Ketua Mahkamah Tinggi di Batavia. Gereja mengalami renovasi pada tahun 1911 – 1916 dan diberi nama Gereja Bethelkerk oleh De Protestantsche Kerk in Nederlandsch-Indie, atau lebih dikenal dengan Indische Kerk.2
Melalui Surat Keputusan Wakil Tinggi Kerajaan di Indonesia tertanggal 1 Desember 1948 No. 2, gereja ini beralih kepemilikan ke Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat dan diberi nama GPIB Jemaat Bethel, dan kemudian berganti nama menjadi GPIB Jemaat “KOINONIA” pada tanggal 1 Januari 1961. Kata koinonia sendiri memiliki pengertian persekutuan.
Gereja yang ada di wilayah Meester Cornelis ini merupakan salah satu gereja penting sejak wilayah tersebut berkembang pesat menjadi wilayah pinggiran kota yang maju dan dikatakan mandiri pada masanya. Pada tanggal 8 Maret 2018, melalui Keputusan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta nomor 510 tahun 2018 tentang Penetapan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat Jemaat “KOINONIA” sebagai Bangunan Cagar Budaya, maka gereja ini menjadi warisan (heritage) budaya di Jakarta Timur.
Viaduk Jatinegara/Matraman
Viaduk atau Viaduct sendiri berarti sebuah jembatan yang terdiri dari tiang atau kolom yang jaraknya pendek. Kata viaduk berasal dari bahasa latin yang berarti jalan penghubung menuju suatu tempat. Viaduk Meester Cornelis atau Viaduk Matraman adalah jembatan kereta yang dibangun oleh Staatsspoorwegen (perusahaan kereta api di Hindia Belanda), sebagai rangkaian dibukanya stasiun dan jalur baru dari stasiun Manggarai (MRI) menuju stasiun Jatinegara (Meester Cornelis) pada tahun 1915-1917. Bangunan ini selesai tahun 1918 dan menjadi salah satu ikonik Kawasan Jatinegara.
Pada awalnya jembatan ini hanya sepanjang 3 lajur jalan saja, tetapi seiring perkembangan pembangunan di kawasan Jatinegara yang sangat pesat, ruas jembatan diperpanjang dengan penambahan 2 lajur jalan yaitu pada sisi kiri dan kanan jalan.3
Berdiri Tinggi Sendiri, Menara Air Manggarai
Jejak Pecinan di Bekas Hutan Jati
Balai Pustaka
Balai Pustaka yang beralamat di Jl. Bunga No. 8-8A, RT.3/RW.9, Palmeriam, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur ini merupakan perusahaan penerbitan dan percetakan pertama di Indonesia yang didirikan pada masa kolonial Belanda tanggal 17 September 1917. Kini Balai Pustaka beroperasi sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang tergabung dalam Holding Danareksa.
Lembaga ini awalnya bernama Commissie voor de Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) yang dibentuk pemerintah kolonial pada tanggal 15 Agustus 1908 untuk menyediakan bahan bacaan bagi masyarakat pribumi, dengan tujuan meredam pengaruh bacaan liar yang bermuatan politik dengan menyajikan buku-buku sastra, keterampilan, dan cerita rakyat.
Balai Pustaka dikenal sebagai pelopor sastra modern Indonesia melalui penerbitan karya-karya klasik seperti Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, dan Salah Asuhan, serta penerbitan berbagai majalah dan pengelolaan taman pustaka. Balai Pustaka juga bertransformasi ke ranah digital dan industri kreatif melalui e-book, audiobook, EduBP, dan alih media film, untuk menjaga relevansinya sebagai penerbit nasional yang adaptif dan berkelanjutan.
Pasar Jangkrik
Pasar Jangkrik adalah sebuah kawasan pasar tradisional dan lingkungan pemukiman warga di Pisangan Timur, Kecamatan Matraman, Jakarta Timur. Pasar ini membelah Jalan Pisangan Baru Tengah dengan toko yang berjualan beraneka ragam kebutuhan sehari-hari yang berada di kanan dan kirinya. Pasar Jangkrik bukanlah sebuah pasar yang dikelola oleh PD Pasar Jaya (Perumda Pasar Jaya).
Penamaannya sendiri menurut warga lokal dikarenakan ada yang berjudi dengan adu jangkrik di kawasan itu. Adu jangkrik sendiri adalah tradisi kuno yang berasal dari Tiongkok (sejak 300 SM) dan populer di Nusantara. Permainan ini menggunakan jangkrik jantan yang diadu secara fisik menggunakan antena atau capitnya.
Kampung Asinan Betawi
Asinan Betawi adalah kuliner legendaris khas Jakarta berupa campuran sayuran segar yang disiram kuah kacang bercita rasa asam, manis, dan pedas. Hidangan ini sangat populer karena kesegarannya dan menjadi simbol perpaduan budaya kuliner lokal dengan tradisi imigran Tionghoa di Batavia. Di balik kesederhanaan tampilannya, Asinan Betawi melambangkan filosofi kehidupan masyarakat Betawi yang menghargai kesederhanaan. Hidangan ini memadukan berbagai bahan sederhana menjadi cita rasa yang kaya dan harmonis
Di kawasan yang sama dengan Pasar Jangkrik, ada sentra asinan Betawi karena banyaknya warga yang memproduksi dan menjual asinan sejak puluhan tahun lalu secara turun-temurun. Salah satunya adalah Asinan Betawi Asymuni yang dikenal juga sebagai Asinan 78. Beroperasi sejak tahun 1978, dan terkenal dengan porsi yang melimpah dan cita rasa yang konsisten. Lokasinya berada di Jalan Pisangan Baru Tengah No. 31, Matraman.
Dimabuk Kepayang Sayur Gabus Pucung
Bubur Ase yang Semakin Langka di Tanah Asalnya
Masjid Jami “Assalafiyah”
Masjid yang terletak di Jalan Jatinegara Kaum, RT 006/RW 03, Kelurahan Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur ini adalah masjid yang didirikan oleh Pangeran Jayakarta, tokoh nasional yang berjasa melawan pemerintah kolonial Belanda dan VOC dengan makam sang pendiri berada persis di sebelah masjidnya. Masjid ini berdiri pada tahun 1620 dan sudah menjadi cagar budaya melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Nomor 475 Tahun 1993. Masjid ini didirikan untuk mengumpulkan jawara dan ulama dalam melawan penjajah Belanda sekaligus menyebarkan agama Islam di wilayah Sunda Kelapa. Bangunannya memiliki luas 450 m² dan berdiri di atas lahan sekitar 7.000 m².
Nama Assalafiyah yang berarti terdahulu atau pendahulu diberikan oleh Gubernur DKI Jakarta Dr. Soemarno pada tahun 1961 bertepatan dengan peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad. Sementara itu, Raden Haji Manaf (Ketua DKM Masjid) mengungkapkan bahwa makna nama daerah “Jatinegara Kaum”, tempat masjid itu berada, adalah negara kekerabatan yang sejati. Kata “Jati” berarti sejati, “Negara” berarti bangsa, dan “Kaum” berarti kekerabatan. Meskipun mengalami pemugaran beberapa kali, beberapa bagian masjid dibiarkan sama seperti awal dibangun dan tidak diubah sama sekali. Salah satunya adalah empat pilar masjid yang dibuat dari kayu jati asli, yang disebut sebagai ‘Saka Guru’. Saka Guru dalam arsitektur Jawa berfungsi menyangga seluruh atap dan bangunan. ‘Saka’ berarti ‘tiang’, dan ‘Guru’ berarti Utama.
Perjalanan yang menyusuri beragam tempat ini ditutup dengan makan siang bersama di sebuah kafe. Di sana peserta dapat mencetak foto-foto pilihan untuk ditempel pada poster kenang-kenangan yang disiapkan oleh Re-PublikFoto. Sebuah poster tentang perjalanan Ngojak kali ini. Suatu hal baru yang belum pernah dialami oleh peserta Ngojak sebelumnya.
Peserta tentu berharap kolaborasi semacam ini dapat terus berlanjut sehingga setiap perjalanan Ngojak selalu menghadirkan pengalaman baru. Mungkin tagline Ngojak akhirnya bisa berubah menjadi: “Membaca Jakarta, Memaknai Peradaban, Membawa Kenangan.”