Edisi Ngojak kali ini terasa spesial, karena berkolaborasi dengan AdaDiKamu sebuah platform yang bergerak di kesehatan mental. Dalam perjalanan kali ini, selain memperoleh wawasan tentang suatu daerah seperti biasa, peserta juga diajak melakukan mindful walking, yaitu praktik berjalan dengan penuh kesadaran. Menurut penelitian Michael Teut dkk., mindful walking adalah kombinasi antara jalan santai (aktivitas fisik ringan) dan latihan kesadaran (meditasi mindfulness) yang berfokus pada pengalaman saat ini tanpa menghakimi pikiran. Manfaatnya adalah membantu menurunkan stres, meningkatkan kualitas hidup, dan melepaskan beban mental.
Kwitang
Kawasan yang terletak di kecamatan Senen, Jakarta Pusat ini konon namanya berasal dari sosok saudagar Tiongkok, yakni Kwik Tang Kiam. Ia merupakan pedagang kaya yang membeli banyak tanah di kawasan tersebut. Karena hampir semua tanah di tempat tersebut merupakan miliknya, maka daerah tersebut disebut Kwik Tang atau Kwi Tang. Kawasan ini terkenal dengan pusat penjualan buku bekas (sampai dijadikan lokasi syuting film AADC) dan semakin dikenal di dunia pusataka dengan adanya toko buku Gunung Agung pertama yang berdiri pada tanggal 1 Januari 1953. Toko ini didirikan oleh Tjio Wie Tay (dikenal sebagai Haji Masagung) berkat dorongan Presiden Soekarno pada saat itu.
Namun, kerugian yang membengkak serta perubahan kebiasaan masyarakat yang beralih ke platform digital membuat toko buku legendaris ini terpaksa menutup semua gerainya pada tahun 2023. Kawasan ini juga dikenal pusat pencak silat. Pada tahun 1948, Pendekar Betawi H. Muhammad Djaelani (Mad Djaelani) membangun Perguruan Silat Mustika Kwitang, yang dikenal sebagai perguruan tertua yang mengembangkan aliran silat di Jakarta.
Halte Jaga Jakarta
Pada tanggal 8 September 2025, Halte Transjakarta Senen Sentral yang kini resmi berganti nama menjadi Halte Jaga Jakarta diresmikan oleh Gubernur Pramono Anung. Alasan penggantian nama tersebut didasari oleh banyaknya fasilitas umum yang rusak dan dibakar massa imbas kejadian demo ricuh akhir Agustus 2025. Di halte ini, dipamerkan memorabilia sisa-sisa kerusuhan pada waktu itu. Misalnya saja: papan penunjuk arah, gate tap-in dan tap-out, media TV untuk Passenger Information System (PIS), kotak server IT, dan masih banyak benda lainnya. Semua itu disimpan di sebuah kotak kaca yang bisa dilihat oleh penumpang yang berada di halte itu.
Di sini, peserta Ngojak diajak untuk merenungkan bahwa sesuatu itu setelah dibangun, bisa (di)rusak, lalu dibangun lagi. Begitu pun hidup, kita mungkin sekarang lagi di masa paling terpuruk tapi kita tetap harus bangkit.
Simpang Lima Senen
Simpang Lima Senen di Jakarta Pusat merupakan titik pertemuan dari lima ruas jalan utama, yaitu Jalan Senen Raya, Jalan Kramat Raya, Jalan Dr. Sutomo (menuju arah Gunung Sahari), Jalan Bungur Raya, dan Jalan Kwitang Raya. Konon di persimpangan ini pengaturan lampu merahnya menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk mengatur durasi dan mengurai kepadatan lalu lintas. Hal menarik yang ada di simpang lima Senen ini adalah adanya keinginan pemprov DKI memperkenalkan budaya betawi di area dinding luar fasilitas lift JPO Senen dan trotoar di sekitar haltenya. Motif yang dimunculkan adalah motif Pucuk Rebung, yaitu motif segitiga berderet di bagian tepi kain yang melambangkan kekuatan, kejujuran, dan kesederhanaan.
Rumah Piatu Muslimin
Rumah ini berdiri pada tanggal 10 Juli 1931 dengan diprakarsai oleh Ibu Siti Zahra Goenawan, seorang tokoh pergerakan wanita Indonesia dan aktivis sosial di bidang kemanusiaan. Bersama sang suami, Raden Goenawan (seorang tokoh pergerakan Sarekat Islam), ia dikenal sebagai sosok penting dalam sejarah pelayanan sosial di Indonesia. Rumah piatu yang dikelola oleh yayasan yang dibuat oleh Sarekat Istri Jacatra (organisasi yang dipimpin oleh Ibu Siti Zahra) dan beranggotakan kaum ibu dari berbagai suku bangsa ini memberikan fasilitas asrama dan sekolah untuk anak-anak yang dinaunginya, dari tingkat SD sampai SMA dengan bangunan sekolah SD ada di kompleks kawasan pantinya.
Dalam pengenalan diri yang diangkat dalam mindful walking kali ini, peserta diajak untuk merenungkan bahwa manusia selalu membutuhkan pertolongan dan tempat berlindung. Peserta juga diajak untuk mengungkapkan apa yang diterima oleh panca indra di tempat itu.
Gedung CTC (Central Trading Company)
Selain mengunjungi artefak batu penggilingan di daerah Senen yang tidak berada di list tujuan Ngojak kali ini, salah satu bangunan bersejarah di kawasan Senen yang tidak ada di list tetapi dilewati adalah gedung CTC (Central Trading Company). Gedung yang terletak di Jalan Kramat Raya No. 94-96, Kwitang, Jakarta Pusat, adalah salah satu bangunan bersejarah bergaya arsitektur modern dan didapuk sebagai “pencakar langit” oleh wartawan Sin Po pada tahun 1958.
Diresmikan oleh Presiden Soekarno pada tanggal 1 Agustus 1958, gedung lima lantai ini pernah menjadi simbol kemajuan dan bangunan pencakar langit tertinggi di Jakarta pada masanya. Gedung ini awalnya dipakai untuk mengakomodasi kebutuhan perdagangan Indonesia, dan sempat menjadi kantor bagi Bank Mandiri, Bank BCA, dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia.
Gedung yang memiliki luas lantai 15 ribu meter persegi dan berdiri di atas lahan seluas 5.485 meter persegi ini semakin terkenal setelah dipakai untuk lokasi syuting berbagai film populer, seperti The Raid: Redemption dan Petak Umpet Minako.
Kampung Ondel-Ondel
Salah satu kampung yang masih melestarikan ondel-ondel adalah kampung ondel-ondel Kramat Pulo. Menurut narasumber lokal, sekarang hanya ada 2 sanggar di kampung itu salah satunya adalah Sanggar Irama Betawi. Mereka fokus melestarikan kesenian lokal seperti ondel-ondel, gambang kromong, dan tanjidor melalui Sanggar Irama Betawi yang berada di Pasar Gaplok, Jakarta Pusat.
Ondel-ondel sendiri sudah ada sebelum 1.600 Masehi dan tercatat dalam buku perjalanan yang ditulis oleh seorang pedagang dari Inggris bernama W. Scot. Dalam tulisannya itu, ia menulis kalau ada kebudayaan unik yang berbentuk boneka raksasa dan dipertunjukkan oleh masyarakat Sunda Kelapa dalam sebuah upacara adat. Memang, pertunjukan boneka raksasa dalam buku catatan W. Scot itu tidak disebutkan namanya, tetapi para ahli meyakini, jenis boneka yang dimaksud adalah ondel-ondel.
Berdasarkan penuturan Kustopo dalam bukunya Kesenian Nasional 6 Ondel-Ondel, saat itu masayarakat belum mengenal adanya dokter apalagi rumah sakit. Sehingga kalau ada orang yang sakit maka dukunlah yang mengobatinya. Namun, di suatu ketika dukun yang ada di kampung itu dilanda kebingungan dengan wabah yang menyerang kampungnya.
Alkisah setelah dukun tersebut bermeditasi untuk mencari petunjuk obat mujarab dari Yang Maha Kuasa, ia memperoleh pesan (wangsit) untuk membuat bentuk orang-orangan yang ukurannya sangat besar.
Untuk membawa orang-orangan ini, perlu dipikul oleh beberapa orang. Hal ini mengakibatkan boneka seakan berjalan dengan menggeleng-gelengkan kepala. Dari gerakan menggelengkan kepala itulah lahir sebutan dari masyarakat untuk orang-orang besar tersebut yakni ondel-ondel. Nama yang dikenal hingga saat ini.
Di kawasan ini, peserta diajak untuk merenungkan topeng mana yang harus kita tampilkan kepada orang lain. Kita harus mampu memilah mana topeng yang harus kita pakai ketika kita bertemu dengan orang lain di suatu kesempatan. Bukan untuk “kemunafikan” tetapi lebih sekadar untuk melakukan penjagaan bagi kita.
Monumen Perjuangan Senen
Monumen Perjuangan Senen, yang berdiri di jalan Proyek Senen, Jakarta Pusat dan berbahan beton dengan tinggi dua meter lebih ini merupakan penggambaran atas perjuangan rakyat di masa revolusi kemerdekaan. Banyak pertempuran yang terjadi di kawasan Senen yang dicatat oleh sejarah. Di antaranya, peristiwa penyerangan ke Jalan Kwitang yang ditujukan ke rumah Mr. Roem, pertempuran di depan Hotel Taytung depan Stasiun Senen, lalu berlanjut pertempuran di sekitar Bungur dan Tanah Tinggi.
Monumen yang menampilkan sosok pejuang rakyat, pemuda-pemudi, hingga anak-anak ini ingin menggambarkan semua komponen masyarakat terlibat dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pejuang rakyat berada di posisi terdepan, sementara pemuda pemudi bersiap di garis belakang, mendukung perjuangan dengan bekerja di dapur umum hingga palang merah. Anak-anak pun berperan dalam perjuangan, yakni sebagai kurir bagi para pejuang. Monumen ini dibuat oleh pematung Sadiman, Suhartono serta Haryang Iskandar, yang dibantu oleh pelukis Suyono Palal dan dibuat pada tahun 1981. Kemudian diresmikan pada tanggal 2 Mei 1981 oleh Walikota Jakarta Pusat, A. Munir.
Monumen Tekad Merdeka
Monumen Tekad Merdeka dibangun untuk mengenang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di daerah Senen dan sekitarnya, terutama setelah kapal-kapal perang Sekutu mendarat di Teluk Jakarta (29 September 1945). Patung di monumen yang terletak di kawasan Stasiun Senen ini, bergaya realistis dengan teknik pembuatan beton cor bubut batu semen yang didatangkan dari daerah Sleman Jawa Tengah. Ukuran patung orang dewasa setinggi dua meter dan anak-anak satu meter.
Pematung terdiri dari tiga orang yaitu Sadiman, Suhartono dan Haryang Iskandar, dibantu oleh pelukis Suyono Palal. Pembuatan patung dilakukan di Sanggar Pucuk Citra dan diresmikan oleh Walikota Jakarta Pusat A. Munir pada tanggal 2 Mei 1986. Di kawasan ini, peserta diajak merenungkan posisi dirinya apabila diibaratkan sebagai salah satu sosok dalam monumen-monumen tersebut. Apakah kita pejuang yang maju ke medan perang secara langsung atau kita tim pendukung. Hal itu tentu berhubungan dengan tujuan hidup kita.
Pasar & Atrium Senen
Perlu diketahui, kawasan Senen memang sudah sejak lama menjadi pusat kegiatan ekonomi berkat keberadaan Pasar Senen. Sejarah mencatat pasar ini tak lepas dari pengaruh tuan tanah bernama Justinus Vinck yang merintis pasar ini pada tahun 1735. Hal yang membuat orang kagum saat itu adalah pasar ini menjadi pasar pertama yang menerapkan sistem jual beli dengan menggunakan alat tukar uang.
Pada tahun 1801, pemerintah VOC memberikan kebijakan bagi para tuan tanah untuk membangun pasar, yaitu pasar harus didirikan berbeda-beda disesuaikan dengan harinya. Akhirnya Justinus Vinck mendirikan pasar dengan nama Vincke Passer yang hanya buka setiap hari Senin. Warga pribumi menyebut Vincke Passer dengan sebutan Pasar Senen. Nama itu melekat hingga kini.
Mengacu pada publikasi Kawasan Pasar Senen Yang Semakin Berkembang (2020), pemerintah ingin membuat Senen menjadi kawasan bisnis terintegrasi. Nantinya, di satu kawasan bakal ada pasar, hotel, perkantoran, pertokoan, dan pusat perbelanjaan.
Maka, dilaksanakanlah pembangunan Plaza Atrium Senen pada tahun 1991 dengan dana Rp 80 miliar. Plaza Atrium Senen sendiri direncanakan bakal dibangun setinggi 6 lantai di atas tanah 66 ribu meter persegi. Mal ini membentuk bagian dari segitiga Senen, sebuah superblok yang menggantikan kompleks hunian Vinckepasser. Selain mal, kawasan Segitiga Senen juga terdiri atas gedung perkantoran, hotel berbintang 4, dan deretan ruko. Segitiga Senen sendiri merupakan superblok tertua di Jakarta.
Di perhentian kali ini, peserta diajak untuk merenungkan apa yang dirasakan oleh peserta ketika masuk ke area ini, dimana banyak orang yang menawarkan dagangannya, yang membuat perhatian peserta ke rombongan bisa terpecah. Pertanyaan yang dimunculkan adalah “apa hal yang menghalangi dalam usaha mencapai tujuan kita?”
Museum Kebangkitan Nasional
Titik terakhir Ngojak kali ini adalah Museum Kebangkitan Nasional yang beralamat di Jl. Abdulrahman Saleh No. 26 Jakarta Pusat. Museum ini berada di kompleks bangunan bersejarah peninggalan kolonial Belanda yang dibangun pada 1899 dan selesai pada 1901. Bangunan tersebut menempati area yang cukup luas, yaitu sekitar 15.742 meter persegi.
Pada awal keberadaannya di masa pemerintahan Hindia Belanda, gedung ini dipergunakan sebagai tempat pendidikan Sekolah Dokter Djawa dan sekolah kedokteran bumiputera atau yang lebih dikenal dengan sebutan STOVIA (School Tot Opleding Van Inlandsche Artsen) yang secara resmi dibuka pada 1902. Gedung ini akhirnya dijadikan monumen tempat lahir dan berkembangnya kesadaran nasional dan juga ditemukannya organisasi pergerakan modern pertama kali dengan nama Boedi Oetomo, karena pendiri organisasi itu memang bersekolah di sini.

Seiring masuknya bala tentara Jepang ke Indonesia pada 1942, maka berakhirlah penggunaan Gedung STOVIA sebagai tempat kegiatan pembelajaran. Pada 1942-1945, pemerintahan Jepang memfungsikan gedung Eks-STOVIA ini sebagai tempat penampungan tawanan perang tentara-tentara Belanda. Karena nilai sejarahnya yang tinggi, pada tahun 1973 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memugar gedung itu, dan pada tanggal 20 Mei 1974 Presiden Soeharto meresmikan penggunaan Gedung Eks-STOVIA sebagai gedung bersejarah yang diberi nama “Gedung Kebangkitan Nasional” yang selanjutnya pengelolaan dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta.
Sebenarnya kompleks gedung berbentuk segi empat tersebut merupakan tempat empat buah museum yaitu Museum Budi Utomo, Museum Wanita, Museum Pers dan Museum Kesehatan. Namun, akhirnya pada 7 Februari 1984 semuanya dilebur menjadi Museum Kebangkitan Nasional. Di tempat ini yang merupakan akhir perjalanan, peserta diajak untuk melihat kembali apa yang didapat di keseluruhan perjalanan, terutama setelah mengaktifkan panca indra. Peserta diminta bercerita juga apa yang dipelajari selama dalam perjalanan. Tak lupa setiap peserta mendapatkan kartu quote yang diambil secara acak, yang bisa dipakai sebagai pengingat dalam menjalankan hidup sehari-hari.
Perjalanan Ngojak kali ini memang terasa berbeda. Dengan mengaktifkan pancaindra dan merenungkan berbagai hal di setiap titik perjalanan, peserta memperoleh perspektif baru tentang kehidupan yang mungkin tidak didapatkan dalam perjalanan biasa. Mungkin kolaborasi seperti ini, bisa menjadi alternatif bagi acara Ngojak di lain waktu, agar peserta melakukan perjalanan dengan perspektif yang berbeda. Karena sesuai tagline Ngojak kali ini: Menyusuri Kota, Mengenali Kita.