Selama sepuluh tahun perjalanan Komunitas Ngopi(di)Jakarta atau Ngojak secara luring, tentu bukan waktu yang singkat. Di dalamnya ada perjuangan dan usaha untuk menjaga agar komunitas tetap hidup dan berkarya.
Awalnya, Ngojak bukanlah agen perjalanan atau penyedia jasa tur. Sejak 2013, Ngojak hadir sebagai wahana belajar di dunia digital. Namun, tanggal yang selalu diperingati sebagai hari lahir komunitas adalah 5 Agustus 2016, ketika empat pendiri — Ali Zaenal, Indra Pratama, Arie Wibowo, dan Novita Anggraini — menyatakan diri sebagai komunitas belajar bersama. Mereka menjelajah kota, berinteraksi, lalu menuliskan pengalaman di berbagai platform. Para pendiri inilah yang patut mendapat penghargaan atas terbentuknya komunitas ini.
Saya pribadi bergabung sejak akhir 2016 di kegiatan #ngojak2. Sejak itu, saya berusaha meneruskan warisan mereka: menjelajahi Jakarta dan sekitarnya secara langsung, bersama orang-orang yang sejalan, dengan semangat menyenangkan sekaligus menambah pengetahuan. Tugas itu sudah saya jalankan.
Baca juga:
Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai
Satu Dekade Ngojak: Idealisme Sebuah Komunitas
Namun, menjaga warisan bukanlah hal mudah. Ada masa ketika saya menyerah dan keluar dari grup, bahkan dua kali. Jika bukan karena bujukan Achmad Sofiyan, mungkin saya tidak lagi dikenal sebagai bagian dari Ngojak. Seperti komunitas lain, Ngojak juga sempat dilanda masalah internal, termasuk perbedaan pandangan di antara pendiri. Pandemi Covid-19 memperparah keadaan, hingga beberapa pendiri memilih meninggalkan komunitas.
Keinginan kuat Achmad Sofiyan untuk menjaga keberlangsungan Ngojak membuat komunitas ini tetap bertahan. Saya pun akhirnya kembali bergabung, setelah masalah internal mereda. Bersama, kami membangun kembali Ngojak dengan tetap berpegang pada nilai yang diwariskan para pendiri. Ngojak kemudian bertransformasi: dari wahana belajar gratis menjadi kegiatan berbayar, dengan biaya yang dialokasikan untuk donasi ke tempat yang dikunjungi, transportasi, kebutuhan logistik, serta pemeliharaan situs web NgopiJakarta.
Selama empat tahun terakhir, saya bersama Sofiyan menyelenggarakan berbagai perjalanan Ngojak. Kami berusaha menjaga standar tinggi, dengan narasi yang mendalam dan suasana kekeluargaan. Banyak peserta merasakan pengalaman berbeda dibandingkan dengan penyedia tur lain, meski biaya Ngojak relatif murah. Tentu ada juga yang merasa kurang cocok, terutama peserta baru yang tidak terbiasa dengan filosofi jalan kaki dan berpanas-panasan di bawah matahari.
Baca juga:
Menteng, Sisi Lain Kota Taman Pertama
Jakarta Tenggelam di Kampung Apung
Saya masih berkomitmen untuk terus membangun Ngojak dan menghasilkan karya. Beberapa buku yang saya terbitkan kini menjadi referensi bagi komunitas. Meski tidak mendapat dukungan dari instansi pemerintah, tujuan kami tetap berjalan: mengenalkan Jakarta dari sudut pandang yang berbeda.
Selamat ulang tahun ke-10 untuk Komunitas Ngopi(di)Jakarta. Semoga semangat belajar dan menjelajah tetap hidup.