Jakarta Tenggelam di Kampung Apung

Durasi Baca: 3 menit

“Hah?”
Sontak aku tertegun, ketika seorang bapak di belakangku tiba-tiba melemparkan kalimat yang menceritakan bahwa air berwarna kehijauan di genangan seluas kurang lebih 2 hektare di depanku dulunya adalah pemakaman umum.

“Iya. Dulu daerah ini dikenal dengan nama Kampung Teko dan di depan kampung ada pemakaman.”

Sehabis menghembuskan asap rokoknya, sang bapak kembali bercerita, “Dulu di sini tanahnya tinggi, masih banyak pohon, anak-anak juga sering main di kuburan. Tapi di akhir tahun 80-an, ada orang yang ngebangun pabrik sama gudang di belakang kampung, terus pemerintah juga ninggiin jalanan di depan, tuh. Dan semenjak itu pas hujan, air yang kegenang mulai lama surutnya. Dan sampai sekarang, tuh air udah sedalem 2 meteran.”

“Terus kenapa sekarang namanya jadi Kampung Apung, Pak?” tanya ku.

“Ya karena rumahnya pada ‘ngapung’, hahahaha.” Si bapak tertawa terbahak.
Aku pun ikut tertawa, sambil berusaha mencerna kenapa aku ikut tertawa.

“Coba liat rumah rumah di seberang itu,” ia menunjuk dengan bibirnya. “Rumah-rumah itu dibangun di atas tonggak yang terbuat dari semen, seperti rumah panggung. Padahal dulu rumah mereka di atas tanah,” lanjut beliau.

“Ooooo…” Tampak bodoh sekali pasti mukaku pada saat itu.

Selama hampir 30 tahun para pemilik rumah di Kampung Apung sudah beberapa kali menguruk dan meninggikan lantai rumah mereka karena ketinggian muka air semakin meningkat. Di tahun 2014, ada usaha dari Pemda mengeringkan area yang tergenang dan memindahkan massal sekitar 3000-an lebih makam ke TPU Tegal Alur dengan biaya yang menyentuh angka 3 Milyar rupiah. Tahun 2017, Pemda dengan Pasukan Oranye-nya berhasil mengangkat 147 ton sampah dan eceng gondok dari Kampung Apung.

“Selain ngangkutin sampah-sampah itu, apalagi pak usaha dari pemerintah?” tanyaku.

“Ya kaga ada. Eh, tapi kemaren pas kampanye banyak tuh yang dateng kemari, pada kemana sekarang yak?” si bapak mengajukan pertanyaan yang sudah pasti dia tahu aku tak mampu menjawabnya.

Azan Ashar berkumandang dengan lantang-syahdu dari dalam Kampung Apung. Aku pun meminta izin untuk salat sebentar ke si bapak. Melalui jalan selebar 1.5 meter dan panjang kurang lebih 50-an meter yang membelah area genangan air dan menjadi penghubung Jalan Kapuk Raya dengan Kampung Apung yang secara administratif ada di wilayah RT 10/RW 01, Kelurahan Kapuk, Jakarta Barat, aku memasuki kampung menuju musala yang ada di sisi kiri Kampung Apung.

Setelah selesai salat, aku kembali ke tempat bertemu dengan si bapak tadi. Sayangnya dia sudah menghilang entah ke mana, padahal masih banyak ingin kutanyakan mengenai cerita kampung yang tenggelam, nasib kampung Apung ke depan, dan banyak lagi. Bahkan aku pun tidak tahu namanya.

%d blogger menyukai ini: