Daan Andraan

Buka Puasa Bersama Jawa, Bali, Tionghoa dan Belanda di Masjid Angke

Di awal penguasaan VOC di Batavia, orang-orang Bali didatangkan sebagai budak yang dijual oleh raja-raja mereka. Selain sebagai budak bagi para orang Belanda pada zaman itu, di mana jumlah budak yang dimiliki menunjukkan prestise dan menaikkan derajat pemilik budak. Ada juga yang dipekerjakan di kebun atau sawah yang dimiliki oleh tuan tanah kaya. Wanita Bali pun terkenal pandai mengurus rumah tangga dan cantik, sehingga disukai oleh orang Belanda dan Tionghoa yang menjadikan mereka sebagai gundik. Ada pula orang Bali yang berstatus bebas dan menjadi tentara VOC.1

Saking banyak orang Bali di Batavia, tercatat dari tahun 1687 sudah 4 kampung etnis Bali; di Jakarta Pusat, Jakarta Timur (Bali Mester, Jatinegara), Jakarta Barat (Bali Krukut dan Bali Angke). Kampung etnis Bali pun semakin bertambah ke daerah lain, diantaranya Kampung Gusti (1709) di Kampung Angke sampai Kampung Bali di Tanah Abang (1874).Selengkapnya »Buka Puasa Bersama Jawa, Bali, Tionghoa dan Belanda di Masjid Angke

Ngeker Bulan di Kampung Basmol

Adalah Sayyid Usman bin Yahya, seorang Mufti Betawi yang diangkat oleh Belanda sebagai Honorair Adviseur (Penasehat Kehormatan) untuk urusan Arab dari tahun 1862 sampai mangkat beliau di tahun 1913, yang menetapkan Kampung Pisola (yang kemudian menjadi Kampung Basmol) sebagai tempat Rukyatul Hilal. Hal ini dikarenakan datarannya lebih tinggi dari daerah sekitarnya disertai pandangan yang luas ke arah ufuk Barat, sehingga daerah tersebut memenuhi syarat untuk melihat hilal (bulan sabit muda) dengan mata telanjang atau bantuan alat sebagai acuan awal masuk bulan baru di perhitungan kalender Islam.Selengkapnya »Ngeker Bulan di Kampung Basmol

Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Di prasasti setinggi kurang lebih 2.5 meter itu tertulis, “Bulan Agustus, Musim Gugur Tahun 1761. Atas dasar rasa tanggung jawab, dari hasil pengumpulan sumbangan secara sukarela, maka dibukalah tanah ini untuk pemakaman, untuk menenangkan arwah-arwah yang menangis, tempat peristirahatan arwah-arwah, dan dengan harapan agar dikenang oleh para penerus… “.

Selanjutnya di bawahnya tertulis nama-nama para penyumbang, yang mana Jia Bai Dan Lin/Kapitan Lin sebagai penyumbang terbesar sebanyak 1000 koin emas dan Wu Zhi Mi Shi dan Hua penyumbang terkecil dengan 10 koin emas. Prasasti yang terletak di halaman Klenteng Di Cang yuan/Vihara Tri Ratna di Jalan Lautze 64 ini memuat peringatan tentang perluasan pekuburan Gunung Sahari. Dan ini merupakan pertanda bahwa di Sawah Besar, Kemayoran, dan sekitarnya merupakan kompleks kuburan bagi warga Tionghoa di sekitaran tahun 1761 sebelum dan sesudahnya.Selengkapnya »Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Dimabuk Kepayang Sayur Gabus Pucung

Panas sekali Bekasi di penghujung pagi menjelang siang ini.

Sayur gabus pucung yang kupesan baru saja datang, aroma kluwek yang khas menyerbak, hangat masuk ke rongga hidung. Serat daging ikan  gabus yang lembut kenyal dan tidak amis meluncur dengan segera ke dalam perut.

Paduan kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai merah, jahe, kunyit dan daun salam yang ditumbuk kemudian ditumis menyemarakkan rasa kluwek yang gurih, ada sedikit rasa asin tapi masih dimaklumi sebagai pengaya rasa dan ciri dari kuliner Betawi pada umumnya.Selengkapnya »Dimabuk Kepayang Sayur Gabus Pucung

Yang Lamat-lamat Menghilang

Kramat dan Kwitang, 2 nama kampung tua di Jakarta ini terus bertahan dari deru geliat zaman.

Kampung Kramat yang merupakan pengembangan dari kampung tua Senen yang awalnya hanya sebidang pasar yang dibangun Justinus Vinck di tahun 1735 untuk memenuhi kebutuhan kota baru Weltervreeden di daerah Gambir dan sekitarnya sekarang.

Kampung Kwitang, kampung ini diperkirakan sudah ada dari abad 17. Toponim Kwitang dikatakan berasal dari nama seorang pendekar Tiongkok, Kwee Tiang Kiam, yang berkelana dan akhirnya menetap di daerah Kwitang sekarang ini. Ada cerita lain yang mengatakan Kwee Tang Kiam adalah seorang tuan tanah yang kaya raya. Saking luas tanahnya, orang orang menyebutnya kampung si Kwee Tang.Selengkapnya »Yang Lamat-lamat Menghilang