Perjalanan Ngojak di tanggal 19 September 2026 kemarin merupakan kolaborasi antara Ngojak dengan Kala Karsa dengan mengambil tema “Tapak Aksara – Jelajah Literasi di Area Matraman dan Menteng Jakarta.” Perjalanan yang dimulai di Smiljan Makarya Matraman dan berakhir di Smiljan Pelopor Menteng ini, banyak mengungkap fakta-fakta yang mungkin belum banyak orang yang tahu selain adanya sebuah aktivitas yang menarik yaitu meditasi kopi sebagai penutupnya.
Smiljan Makarya
Peserta memulai perjalanan dari Smiljan Makarya yang berada di komplek Gramedia Matraman. Tempat yang resmi dibuka pada Selasa, 11 Februari 2025 ini diinisiasi oleh kolaborasi antara Tomi Wibisono (pendiri Buku Akik sekaligus konseptor Makarya), Rahmat Indrani (pemilik Smiljan Coffee / Smiljan Space) dan Immaculata Adhista dari Gramedia. Di tempat yang namanya diambil dari nama desa kelahiran ilmuwan legendaris Nikola Tesla, yaitu Smiljan sebuah daerah di Kroasia ini peserta menerima briefing kecil mengenai perjalanan hari itu. Dan yang menarik adalah ada TTS yang harus diisi oleh peserta selama perjalanan.
Toko Roti Tegal
Tujuan berikutnya adalah sebuah toko roti yang tidak jauh dari titik kumpul. Nama toko roti adalah Toko Roti Tegal yang namanya berasal dari daerah asal pendiri atau pemiliknya, yaitu Tegal, Jawa Tengah. Pada awal berdirinya di Jakarta tahun 1948, toko ini menggunakan nama Insulinde dan bertempat di Jalan Matraman Raya No. 21. Namun, sejak tahun 1968, toko ini resmi menempati lokasinya yang sekarang, yaitu di Jalan Matraman Raya No. 68, Jakarta Timur, dan dikenal luas dengan nama Toko Roti Tegal.

Toko yang mempunyai menu best seller yaitu Kue Amandel yang penamaannya berasal serapan dari bahasa Belanda, yaitu amandel yang berarti kacang almon (almond) ini menyimpan fragmen sejarah yang sangat menarik. Di mana, pada tanggal 11 Desember 1969, aktivis mahasiswa legendaris era 60-an, Soe Hok Gie, datang ke toko roti ini untuk berkencan dengan pujaan hatinya, Nurmala Kartini Panjaitan. Saat itu, Gie menyatakan perasaan cintanya sekaligus berpamitan untuk pergi mendaki Gunung Semeru bersama teman-temannya dari Mapala UI. Pertemuan di Toko Roti Tegal tersebut menjadi momen terakhir Kartini melihat Soe Hok Gie, karena beberapa hari kemudian (16 Desember 1969), Gie wafat di puncak Semeru akibat menghirup gas beracun.
Perpusnas Salemba
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Perpusnas Salemba yang terletak di komplek bekas sekolah Konig Willem II Gymnastium, tepatnya di Jalan Salemba Raya No. 28A Senen, Jakarta Pusat. Perpusnas sendiri merupakan peleburan dari empat perpustakaan, yaitu Perpustakaan Museum Gajah, Perpustakaan Sejarah dan Politik, Pusat Pembinaan Perpustakaan bid. Bibliografi dan Perpustakaan Wilayah DKI Jakarta.1
Ketiadaan tempat dan setelah melihat kondisi tumpukan buku-buku dan dokumen yang ada, membuat Ibu Tien Soeharto tergerak dan lewat Yayasan Harapan Kita mencoba membangun sebuah gedung perpustakaan. Akhirnya, pada tanggal 11 Maret 1989, gedung Perpusnas Salemba ini diresmikan penggunaanya oleh Presiden Soeharto dan sekarang ini lebih fokus ke aktifitas penyimpanan arsip surat kabar langka.
Baca juga:
Menelusuri Lorong Waktu Rawamangun
Jakarta dan Kue Tar Ulang Tahunnya
Lewat perjalanan ini, peserta bisa melihat secara langsung dua surat kabar yang tidak boleh ditunjukkan ke umum yaitu Bataviasche Koloniale Courant, sebuah surat kabar resmi pemerintah yang diterbitkan pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels di Hindia Belanda sekitar tahun 1810 dan Java Governet Gazette, surat kabar mingguan resmi dan berita negara yang diterbitkan di Batavia selama masa pemerintahan sementara Inggris di Jawa (29 Februari 1812 hingga 17 Agustus 1816).
Museum Lembaga Alkitab Indonesia
Peserta Ngojak kemudian bergerak ke Museum Alkitab yang terletak di Gedung LAI di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Perpustakaan dan Museum LAI sendiri resmi berdiri pada tanggal 25 Juli 2002 dengan lokasi awal ada di Bogor. Bersamaan dengan peresmian Gedung Pusat Alkitab (GPA) pada tahun 2012 di Salemba, Museum Alkitab LAI direlokasi ke lantai dua dan tiga gedung tersebut hingga sekarang.2
Di museum ini peserta Ngojak bisa melihat berbagai alkitab, sejarah penerjemahannya, serta benda-benda yang berkaitan dengan dunia dan kebudayaan Alkitab itu sendiri. Dan tak lupa peserta juga bisa melihat Alkitab terbesar di Indonesia sekaligus tercatat sebagai Alkitab Edisi Studi terbesar di dunia dengan ukuran terbuka: 208 cm x 147 cm dan berat total: 120 kg, serta masuk rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) pada 9 Februari 2012.
Ex-Stasiun Salemba
Perjalanan berlanjut ke bekas Stasiun Salemba yang konon dibangun sekitar tahun 1899 atau tidak lama setelah jalur NIS (Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij) membuka jalur kereta api dari Batavia Noord ke Buitenzorg (Bogor). Peranan stasiun ini sangatlah vital, karena dekat dengan pabrik opium. Namun, stasiun ini akhirnya berhenti beroperasi pada tanggal 2 September 1981 seiring berhentinya pabrik opium beroperasi.
Hal yang sangat disayangkan adalah bangunan stasiun yang berubah fungsi menjadi tempat tinggal. Meskipun masih ada beberapa jejak yang terlihat, tetapi tetap saja kaum awam tidak bisa mendapatkan gambaran bangunannya secara utuh.
Sekitar 400 meter ke arah barat ex-Stasiun Salemba tadi ada sebuah jembatan baja peninggalan jalur kereta api Salemba yang dikenal sebagai Jembatan Kenari (Oude Indië Spoorbrug). Kini, jembatan kereta api bersejarah berbentuk lengkung ini beralih fungsi menjadi jembatan penyeberangan orang di atas Sungai Ciliwung.
Hal unik dari jembatan yang pembangunannya dikerjakan oleh perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda, Staatsspoorwegen (SS) ini adalah bahwa tempat ini cukup populer dan kerap digunakan sebagai lokasi syuting, baik untuk video klip musik, konten kreatif, dokumenter sejarah, maupun film indie. Salah satunya adalah video musik lagu Karena Kucinta Kau-nya Bunga Citra Lestari di tahun 2010.
Museum M.H. Thamrin
Tujuan berikutnya adalah Museum M.H. Thamrin di Jl. Kenari 2 No.15, Jakarta Pusat. Konon sebelum dibeli oleh M.H. Thamrin pada tahun 1928, gedung ini adalah rumah pemotongan hewan lalu sebagai tempat menimbun buah – buahan dari Australia. Setelah dibeli oleh Thamrin dari Maneer De Has, gedung ini dihibahkan untuk kaum pergerakan kebangsaan Indonesia yang tergabung dalam orgonisasi PPPKI (Permufakatan Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia).3
Banyak peristiwa sejarah, terjadi di tempat ini. Misalnya saja, pada tahun 1935 terjadi Kongres Partai Politik oleh Partai Nasional Indonesia. Tahun 1939 terjadi Kongres Persatuan Arab Indonesia, Kongres Partai Rakyat Indonesia, dan Pembentukan dan Kongres Gabungan Partai Indoensia. Konon, konsep lagu Indonesia Raya oleh WR Soepratman pun lahir di tempat ini.
Tahun 1972, bangunan ini akhirnya ditetapkan sebagai bangunan bersejarah yang dilindungi Undang-Undang Monumen (Monumen Ordonantie) STBL. 1931 No. 238 dan Surat Keputusan Gubernur KDKI Jakarta No. CB II/I.12.720 dan tanggal 11 Januari 1986 diresmikan sebagai Gedung Mohammad Hoesni Thamrin.
Baja juga:
MH Thamrin dan Jejak Awal Persija di Petojo
Macan Ibu Kota Yang Tak Lagi Punya Rumah
Smiljan Pelopor
Tujuan akhir Ngojak kali ini adalah Smiljan Pelopor, sebuah kafe yang merupakan gerai ke-9 dari jejaring Smiljan Space dan resmi dibuka dan berdiri pada awal Juli 2026. Smiljan Pelopor sendiri berlokasi di kawasan Menteng/Cikini, Jakarta Pusat dan mengusung konsep perpustakaan dan ruang temu bergaya retro klasik hasil kolaborasi dengan Pelopor Books. Hal yang menarik di Smiljan Pelopor ini adalah berbagai koleksi buku tentang sejarah, budaya, sampai dokumen-dokumen lama. Selain adanya area indoor dibuat dengan konsep tanpa alas kaki. Ada juga ruang baca khusus, area komunal, dan outdoor untuk menikmati waktu dengan cara yang berbeda. Di tempat ini, peserta Ngojak diajak untuk bermeditasi kopi yang dipandu oleh Mbak Asta founder AdaDiKamu.

Dalam meditasi kopi ini, Mbak Asta mengajak peserta untuk meminum kopi seperti biasa, kemudian dilanjutkan dengan melakukan serangkaian aktivitas sebelum meminum untuk kedua kalinya. Peserta diajak untuk mencium aroma kopi, merasakan dinginnya gelas, melihat warna kopi, mendengarkan suara yang terdengar saat itu sebelum meminum kopi. Ajaibnya ada sensasi rasa yang berbeda yang muncul dan dirasakan oleh peserta karena kopi yang diminum kedua kali terasa lebih soft dan terasa sedikit asam.
Mbak Asta memberikan perenungan agar kita sebagai manusia tidak terburu-buru untuk menghakimi orang lain. Seperti meminum kopi, kita perlu mencium aroma, melihat warnanya sebelum meminum agar mendapat rasa yang berbeda, maka kita pun perlu mengecek, memahami apa yang terjadi sebenarnya, karena mungkin saja ada sesuatu yang terlewat dari perhatian kita. Sebuah ajakan yang sangat baik dilakukan oleh mungkin semua manusia di zaman yang menuntut kita untuk serba cepat tetapi juga tepat.
Perjalanan Ngojak kali ini semakin membuktikan kalau kolaborasi seperti ini bisa menjadi alternatif bagi acara Ngojak berikutnya, di mana peserta bisa menikmati perjalanan dan mendapatkan pengalaman dari perjalanan itu dengan perspektif yang berbeda.