MH Thamrin dan Jejak Awal Persija di Petojo

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar nama Petojo? Buat Anda yang tinggal di Jakarta, tentunya akan langsung teringat dengan kawasan padat ruko di Jakarta Barat yang dekat dengan salah satu pusat ritel elektronik terbesar di ibu kota Jakarta. Ya, apalagi kalau bukan Roxy. Tak sedikit juga sejumlah produsen ponsel yang membuka kios servisnya di kawasan itu. Sedikit intermezzo, karena saya juga tak mau bicara tentang ponsel atau lokasi servisnya di sana melainkan stadion bola yang ada di dekat Petojo atau tepatnya di Jalan Biak. Saya tidak bohong, stadion bola memang sungguh ada di sana.

Mundur sedikit ke beberapa hari setelah Hari Sumpah Pemuda, hari di mana saya pertama kali mengenal secara langsung sosok MH THamrin di museumnya. Lahir dan besar di Jakarta, saya mengenal sosok MH Thamrin hanya sebatas sebagai pahlawan nasional yang namanya di abadikan di salah satu sudut jalan mentereng ibu kota. Kenapa saya membahas sosok MH Thamrin? Karena masih ada hubungannya dengan stadion bola di Petojo yang akan saya bahas nanti.

Lahir dari pasangan William Ort asal Inggris dan Noorhamah yang merupakan seorang Betawi berdarah Tionghoa, pria kelahiran Sawah Besar tahun 16 Februari 1894 itu dikenal dengan nama Mohammad Husni Thamrin. Diketahui, pria yang yang masa kecilnya dikenal sebagai Matseni itu mengadopsi nama Thamrin dari saudara laki-laki ibunya yang bernama Muhammad Tabri Thamrin sepeninggal ayahnya. Dalam perjalanan hidupnya, Thamrin tumbuh sebagai tokoh pergerakan nasional Indonesia. Kiprahnya sebagai anggota Dewan Kota (Gemeenterad) hingga Dewan Rakyat (Volksraad) selalu berpihak untuk kesetaraan kaum pribumi yang saat itu masih di bawah orang Eropa.

Salah satu bentuk kontribusi nyatanya pun bisa dilihat di Stadion  VIC, Jalan Biak. Bertepatan dengan Hari Pahlawan yang jatuh pada 10 November 2018 lalu, saya bersimpang jalan dengan stadion bersejarah tersebut bersama kengkarawan (Sebutan untuk anak-anak) Ngojak. Kebetulan, stadion ini menjadi salah satu spot yang dikunjungi dalam acara #ngojak18 bertajuk ‘Harmonie: Evolusi Kota Batavia Baru.’ Kawasan Weltevreden dahulu yang kini tersambung hingga Jalan Harmoni menjadi highlight, dengan Stadion VIC sebagai salah satu bahasan.

Mundur sejenak ke 1928, tahun di mana Stadion Petojo VIC dibangun. Menyisihkan 2.000 gulden dari tabungannya, MH Thamrin membangun stadion tersebut. Inisiatif itu diprakarsainya sebagai bentuk dukungan bagi pesepakbola pribumi yang kala itu tersisihkan oleh pesepakbola Nederlandsch Indie Voetbal Bond (NIVB) yang anti pribumi. Seiring dengan berdirinya stadion, lahir juga klub sepak bola Hindia Belanda Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ) sebagai bentuk perlawanan di bidang olahraga. Di mana tahun 1950 klub tersebut berganti nama jadi Persatuan Sepak Bola Indonesia Jakarta (Persija). Sehingga jangan heran, kalau nama MH Thamrin juga kerap diasosiasikan sebagai Bapak-nya Persija. Buat kamu mengaku fans garis keras Persija, tentunya harus tahu akan fakta tersebut.

Bagi saya pribadi, nama Jalan Biak sudah bakan barang asing. Entah sudah berapa kali saya melewati jalan ini untuk servis ponsel atau menjemput mantan yang dulu tinggal di Tomang. Namun, saya tak pernah menyangka kalau ada stadion di kawasan tersebut. Bersejarah pula. Dikomando oleh senior kengkarawan, bang Achmad Sofiyan, angkot yang sebelumnya telah di-charter berhenti di dalam salah satu gang di Jalan Biak. Turun dari angkot, terpampang jelas papan hijau bertuliskan Stadion VIJ. Ini dia stadion yang jadi tujuan terakhir #Ngojak18 hari ini, pikir saya.

Suasana sore di Stadion Petojo / IG @jhnrdy

Hanya beda dengan stadion yang biasanya identik dengan kata megah dan luas. Sudah sampai di area parkirnya, saya masih belum mendapati di mana letak stadionnya. Sejauh mata memandang cuma ada deretan rumah di sisi kiri dan mobil yang parkir berjajar di sisi kanan. Tak berapa lama, perhatian saya pun buyar pada barisan kengkarawan yang melanjutkan perjalanan melewati area parkiran menuju gang yang berukuran lebih kecil. Anak-anak yang tengah sibuk berlarian hingga ibu-ibu yang tengah asyik berbincang mendominasi sisi jalan yang boleh dibilang ideal untuk dilalui dua kendaraan bermotor. Di sisi kanan, tampak jemuran baju yang digantung di langit-langit bangunan. Pemandangan yang familiar di kawasan padat warga.

Sekitar 300 meter dari belokan pertama di parkiran, para kengkarawan mulai berbelok ke pintu berterali di sisi kanan jalan. Benar, itu lah pintu masuk menuju Stadion VIJ. Masuk ke dalam, bang Dodo (Salah satu dedengkot Ngojak) segera menyambut jabatan tangan saya seraya tersenyum. Urusan izin foto yang sebelumnya masih bermasalah sepertinya sudah beres di tangannya. Naik beberapa anak tangga, barulah kelihatan lapangan hijau Stadion VIJ. Beberapa kengkarawan Ngojak juga sudah duduk rapi di tribun penonton.

Saat semua sudah berkumpul, bang Achmad pun berujar kalau stadion tersebut merupakan cikal bakal Persija. Suasananya kini sudah berubah ketimbang dulu, dikepung oleh deretan ruko serta perumahan padat penduduk yang mengelilinginya. Perbincangan sore itu pun kian menarik dengan hadirnya salah satu narasumber yang boleh dibilang jadi saksi hidup akan perjalanan Stadion VIC di masa lalu hingga kini. Ia adalah Abduloh Palawah, seorang warga asal Sangir (Sulawesi Utara) yang merantau ke Jakarta sejak tahun 1964 atau setahun setelah The Games of the New Emerging Forces (GANEFO).

Pak Abduloh bercerita, kalau dulu ia dipanggil jauh-jauh bersama kedua rekannya ke Jakarta untuk melatih sepakbola. Sudah dilihatnya pasang surut persepakbolaan Indonesia (khususnya Jakarta) dari zaman ke zaman. Pada masanya dulu, pak Abduloh telah melihat semangat dari para punggawa klub sepakbola Jakarta Putra yang dulu berlatih di stadion tersebut. Latihan tiga kali seminggu, digembleng di Muara Angke dan kembali latihan di stadion tepat pukul setengah 12 siang adalah makanan sehari-hari. Ia juga tahu benar sejarah dari Persija yang dahulu berawal dari klub VIJ di stadion tersebut.

Dengan fasih pak Abduloh menceritakan perjalanan panjang Persija dari pertama kali lahir di Stadion VIC, hingga pindah beberapa kali dan luntang lantung seperti sekarang. Kepentingan politik di era era mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso selaku pembina, juga turut berkontribusi pada ‘minggirnya’ Persija dari Stadion Menteng yang kini telah menjelma jadi Lapangan Menteng. Di satu sisi, ia juga menyatakan keprihatinannya akan sepakbola Persija dan Indonesia kini yang dirasanya masih minim prestasi. Tak usah jauh-jauh, Stadion VIJ yang dulunya berjaya dan menjadi pencetak pesepakbola berbakat kini tak lebih jadi lapangan bola komplek yang hanya disewa untuk tanding beregu.

“Lihat saja itu nendangnya gak tahu ke mana,” ujar pak Abduloh seraya menunjuk para pemain di lapangan.

Cukup dengan membayar Rp 300 ribu per jam, siapa pun boleh menyewa lapangan ini untuk bermain. Harga untuk menyewa lapangan yang kini menjadi milik Pemda DKI Jakarta itu memang tak murah, sehingga hanya orang berduit saja yang bisa menggunakannya. Tak usah lah berpikir ada bibit-bibit muda sepakbola yang bermain dan lahir di lapangan hijau tersebut. Kini Stadion VIJ tak ada ubahnya dengan secuil sisa kejayaan masa lalu sepakbola Indonesia. Bentuk perlawanan yang dahulu tampak di lapangan hijau, kini telah tertutup deretan ruko dan rumah warga. Seiring dengan prestasi sepakbola Indonesia yang masih minim prestasi dan diwarnai oleh ribut-ribut tak perlu antar suporter. Bola itu bundar, tapi lebih banyak sulitnya untuk menembus gawang lawan. Saya cuma bisa menghela nafas.

Tinggalkan Balasan

X
%d blogger menyukai ini: