Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

  • by

Setelah menjauhi bangunan kosong itu, kami lalu mengunjungi bekas rumah Raden Saleh. Rumah yang extravagant ini dibangun Raden Saleh saat pulang berkelana dan melukis untuk khalayak Eropa. Lukisan potret dan romantik Raden Saleh banyak memberi kesempatan baginya untuk sedikit bisa masuk ke pergaulan elit Eropa, meskipun tentu dengan relasi kuasa yang tidak setara. Di rumah yang kini menjadi bagian dari Rumah Sakit PGI Cikini ini, kami berbagi kisah mengenai salah satu lukisan Raden Saleh yang paling terkenal, Penangkapan Pangeran Diponegoro. Lukisan ini memiliki konteks dan kisah yang sangat menarik, yang membuat kita bisa meraba-raba seberapa takaran “nasionalisme” atau “Jawaisme” Raden Saleh. Setelah bercerita tentang kiprah Raden Saleh, kami diperbolehkan naik ke lantai dua, melihat beberapa furnitur bergaya Barok yang teronggok di salah satu ruangan, naik ke balkon (yang ditambahkan kemudian), dan melihat sendiri kayu-kayu besar yang sudah mulai lelah menyangga bangunan.

Raden Saleh sendiri memiliki darah Timur-Tengah dari ayahnya, Husein bin Alwi bin Awal bin Yahya dari Semarang. Husein bin Alwi menikah dengan Mas Ajeng Sarip, putri dari KyaiAbdullah Bustam Kertoboso dari Terboyo. Abdullah Bustam sendiri merupakan seorang tokoh kontroversial dalam Perang Suksesi Mataram kedua. Ia sebagai pegawai VOC, diminta (dan berhasil) meredakan perang saudara dan berhasil memasukkan juga kepentingan Kompeni di Mataram.

Seusai menjelajah, kami pun beranjak ke luar. Tak lupa menyempatkan diri melihat kapel kecil yang dibangun oleh Vereniging voor Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini alias Rumah Sakit Ratu Emma. Setelah wafatnya Raden Saleh pada 1880, mereka membeli tanah dan bangunan dengan dana hibah dari Ratu Emma. Seiring waktu, pengelola rumah sakit pun berganti, sampai pada 1957, pengelolaan diserahkan kepada Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (DGI), yang nantinya berubah nama menjadi Persatuan Gereja Indonesia (PGI).

 

Kami lanjut berjalan melewati Jalan Sekolah Seni. Melipir Ci Liwung, kami tiba di makam Habib Abdurrahman al Habsyi atau dikenal dengan julukan Habib Cikini. Habib Cikini konon menikah dengan Syarifah Rogayah, adik Raden Saleh, sehingga diberi kepercayaan untuk membangun sebuah surau di tanah Raden Saleh. Salah satu putra beliau, Ali, kelak dikenal sebagai Habib Kwitang. Habib Cikini konon mendirikan sebuah surau yang dinamai Al Ma’mur. Beliau pun dimakamkan di surau tersebut. Al Ma’mur entah dengan alasan apa, dipindahkan ke sebelah selatan, dan nantinya menjadi salah satu basis Sarikat Islam di Jakarta.

Rasa lapar yang mendera akhirnya memaksa kami singgah di sebuah warung makan. Dua puluh sekian manusia kelaparan dan kehausan segera menjadi konsumen Mbak-Mbak pemilik warung yang tak urung terlihat senang sekali.

Setelah menghabiskan setengah jam lebih untuk makan, kami berjalan ke Al Ma’mur lokasi baru. Dimana Mbak Uci bercerita banyak tentang sang masjid, kepindahannya, dan perannya dalam pergerakan. Namun yang menarik perhatian saya adalah beberapa orang yang tinggal di kolong jembatan, persis di bawah Al Ma’mur. Keberadaan Al Ma’mur rupanya belum menjadi pelatuk kemakmuran orang-orang di sekelilingnya. Semoga suatu hari bisa.

Kami berjalan hingga jalan Kramat Raya. Di depan Kantor Pegadaian Pusat, kami berhenti untuk bercerita tentang sebuah gedung kumuh nan terlihat angker di seberang jalan. Gedung itu adalah eks Kantor Commitee Central (CC) Partai Komunis Indonesia (PKI). Pasca hancur-hancuran di 1948, PKI memutuskan pindah ke Jakarta. Menandai era baru di bawah kepemimpinan para tokoh muda seperti Dipa Nusantara Aidit, M. Lukman, dan Njoto. Tulisan Hendi Jo dari Historia menyebutkan kantor pertama CC PKI adalah sebuah rumah sederhana di Gang Lontar, yang sekarang bernama Jalan Kramat Lontar. Waktu berjalan, lewat patungan-patungan kader, PKI berhasil membeli tanah di Kramat Raya tersebut, dan membangun gedung satu lantai. Pada masa kejayaan PKI di 1962, mereka merenovasi gedung menjadi enam lantai. Proyek renovasi dikomandoi oleh Ir.Sakirman, yang merupakan adik dari Mayjen Siswondo Parman, yang tewas saat peristiwa Gerakan Satu Oktober. Setelah Gerakan Satu Oktober, gedung ini diserang oleh massa dari golongan anti Komunis. Bangunan hancur bersama dengan sang pemilik.

Setelah bercerita tentang gerakan Komunis, kami mengimbanginya dengan menyambangi Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kami diterima di Pojok Gus Dur oleh salah satu kawan kami, Hasan Bashori. Pojok Gus Dur sendiri sebelumnya merupakan ruang tamu bagi mereka yang mengunjungi Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang memimpin Nahdlatul Ulama (NU) selama menjadi Ketua Umum Tanfidziyah periode 1984-1999. Ruangan ini bersebelahan persis dengan ruang kerja pribadi Gus Dur. Di Pojok Gus Dur, Bashori bercerita cukup panjang tentang karakteristik NU, serta kisah-kisah unik yang menyertai karir Gus Dur. Kami pun diperkenankan untuk masuk ke ruang kerja Gus Dur, yang sampai saat ini masih dipelihara sebagai kenang-kenangan bagi banyak orang yang mengagumi, menyayangi, dan mencintai Gus Dur. Demikian pula Pojok Gus Dur yang didirikan dengan maksud sebagai sarana untuk melestarikan dan mengapresiasi pemikiran dan aksi-aksi Gus Dur. Pojok ini memiliki cukup banyak koleksi buku, rata-rata adalah buku yang mengambil pemikiran, aksi, sampai kisah hidup Gus Dur sebagai objek bahasan.

Saya meninggalkan perjalanan di titik ini. Kawan-kawan yang lain melanjutkan perjalanan ke tiga titik terakhir, yaitu Museum Muhammad Husni Thamrin, Bangunan bekas Stasiun Salemba, dan Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Catatan di ketiga lokasi tersebut bisa diakses di tulisan Adi Nugraha ini.

Sangat sulit untuk melepaskan diri dari cara pandang kolonial dalam membahas hal-hal intangible. Sejarah, budaya, arsitektur, sampai problem-problem ekonomi masih dikuasai oleh pandangan sisi Barat. Tentunya dengan keunggulan sumber tertulis dan penguasaan metode ilmiah modern, yang bahkan hingga kini masih tergagap-gagap kita menguasainya. Tentunya juga bukan sesuatu yang mengada-ada seperti yang dilakukan Sukarno dan Muhammad Yamin. Tapi semua bisa diperjuangkan untuk mendapatkan sudut pandang yang lokal. Kekayaan pengetahuan, empati, dan keterlibatan aktif dalam memahami sebuah persoalan menurut saya adalah kunci. Biarlah cerita ala Barat menjadi masa lalu, kita buat sesuatu yang kekinian.

Pages: 1 2

Tinggalkan Balasan