oomindra

Joker Adalah Penjahat Super

There is no justification for life, but also no reason not to live. Those who claim to find meaning in their lives are either dishonest or deluded. In either case, they fail to face up to the harsh reality of the human situations.

Kutipan dari Donald Crosby, seorang profesor bidang Filosofi asal Amerika, tersebut, adalah salah satu hal bisa meringkas film Joker karya Todd Phillips dan Scott Silver. Bukan tugas yang mudah bagi seorang pembuat film, untuk memberi justifikasi bagi seorang tokoh seperti Joker. Secara tradisional, Joker adalah penjahat super, yang menjadi pijakan sang pahlawan super, dalam kasus ini adalah Batman, untuk beraksi memukau para penggemar.

Memfilmkan Joker, tentunya akan lebih sulit dari melakukan hal yang sama dengan tokoh Batman, Wonder Woman, atau Superman. Ekspektasi moralitas hitam-putih, ketergantungan atas adegan aksi penuh CGI, dan kebutuhan untuk membuat si karakter utama terlihat cool selalu membayangi setiap sineas yang menggarap film adaptasi dari DC. Chris Nolan sudah mencoba dengan sangat baik untuk membuat Batman terlihat sangat manusiawi dan rapuh di trilogi Dark Knight, namun bagaimanapun, ia adalah Batman, yang sudah punya simpati sejak puluhan tahun lalu, dan produk akhir karakternya adalah “benar” secara moral.Selengkapnya »Joker Adalah Penjahat Super

Kebon Sirih, Jalan Tol Ekonomi Batavia

Jakarta adalah pusat geliat ekonomi Indonesia. Daerah bisa saja memiliki komoditas, tenaga kerja, bahkan pabrik dan lahan usaha, namun jika bicara perputaran modal, manajemen, dan hulu bisnis, maka pusatnya adalah Jakarta. Persentase GDP Jakarta dari GDP Indonesia mencerminkan bagaimana hebatnya geliat ekonomi di ibukota.

Siapa sangka, sejarah panjang ekonomi Jakarta (dulu Batavia), dulu sempat ditopang hanya dengan satu ruas jalan sebagai infrastruktur. Jalan yang menghubungkan dua pasar tertua di “Batavia baru”, sejak pusat pemerintahan dipindahkan dari Kota Tua ke Weltevreden.

Adalah seorang Justinus Vinck, pengusaha kaya asal Belanda, yang berperan penting menggerakkan ekonomi Weltevreden. Pada 1735 dia membeli dua lahan besar untuk dijadikan pasar, satu di Tanah Abang dan satu di daerah timur Weltevreden.

Lahan di Tanah Abang ia beli dari keluarga pengusaha dan Kapten Cina Phoa Bingham. Bingham sendiri terkenal karena inisiasinya membuat kanal di Tanah Abang untuk sarana transportasi komoditas dari selatan ke Kota Tua pada 1648. Saat dibeli Vinck, lahan Tanah Abang dipergunakan keluarga Bingham sebagai perkebunan tebu, pertanian, dan peternakan. Lahan ini kemudian sejak 1735 disulap Vinck menjadi Pasar Saptu. Sesuai namanya, pasar hanya buka setiap hari Sabtu, dan jualan utamanya adalah tekstil serta barang kelontong.Selengkapnya »Kebon Sirih, Jalan Tol Ekonomi Batavia

Selamat Jalan Suka Hardjana

Kemarin, Suka Hardjana wafat. Tokoh ini adalah salah satu tokoh penting musik Indonesia. Suka Hardjana jatuh cinta dengan musik saat sering melewati Kampung Musikanan di Yogya. Kampung yang dihuni pemusik-pemusik keraton ini menjadi gerbang Suka Hardjana belajar musik, dari Sekolah Musik Indonesia di Yogya, sampai ke Deltmold, Jerman. Sempat menjadi dosen di Konservatorium Musik der Freien Hansestadt di Bremen, ia akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia.

Di Indonesia, ia akhirnya dikenal bukan hanya sebagai musisi, namun juga sebagai seorang kritikus, esais, dan nantinya berkembang menjadi seorang budayawan. Pengetahuannya yang sangat luas tentang musik, terutama, dan juga sosial, budaya, ekonomi, hingga politik, menjadikan esai, kritik, dan review musik karyanya terasa sangat dalam, namun sekaligus luas dan multidimensional.

Salah satu kiprah terpenting Suka Hardjana adalah ketika ia memprakarsai Pekan Komponis Muda dan Pekan Komponis Indonesia di Jakarta. Ide itu lahir dari keresahannya setelah bergabung dengan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1979. “Kompetisi” tersebut melahirkan nama-nama besar seperti Harry Roesli, Tony Prabowo, Nano Suratno, Otto Siddharta, sampai Trisutji Kamal. Dalam “Esai & Kritik Musik” dan “Corat-Coret : Musik Kontemporer Dulu dan Kini”, ia “mendokumentasikan” beberapa pagelaran Pekan Komponis yang ia saksikan langsung.Selengkapnya »Selamat Jalan Suka Hardjana

Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

  • by

Beberapa waktu ke belakang, cukup ramai polemik mengenai Landhuis Cimanggis. Rumah peristirahatan abad 18 milik pembesar VOC yang mungkin tinggal tersisa 30-an persen itu ditengarai hendak digusur untuk perluasan kampus sebuah universitas. Perdebatan terjadi tentang signifikansi sejarah bangunan tersebut dan urgensi-urgensi lainnya. Yang ikut urun argumen beragam. Mulai dari komunitas pemerhati sejarah, sampai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pendapat Kalla berkisar pada pandangan bahwa secara histori dan kultural, tidak ada signifikansi dari bangunan tersebut. Terlebih isu yang beredar, bangunan itu adalah milik salah satu istri Gubernur Jenderal paling korup di jaman VOC, Albertus van der Parra. Para pembela bangunan, di sisi lain, berpendapat bahwa bangunan ini penting secara sejarah dan arsitektur untuk diselamatkan karena masuk dalam kategorisasi-kategorisasi benda cagar budaya.

Perdebatan itu singkatnya berlangsung dengan pandangan yang berbeda tentang terminologi “sejarah kita”. Saya sendiri berpandangan bahwa penceritaan kita tentang sejarah haruslah ada dalam kerangka poskolonial. “Kita” harus bisa mengkritisi dan melepaskan diri seutuhnya dari konteks-konteks kolonialisme dalam menulis dan menceritakan ulang sejarah. Menempatkan secara egaliter subjek-subjek sejarah dengan memperhitungkan struktur kemasyarakatan yang berlaku di setiap masa.Selengkapnya »Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

Pages: 1 2

Arief Budiman : Setia Melawan “Bebas Nilai”

  • by

Ilmu sosial di Indonesia bersifat ahistoris, karena ia mengabaikan konteks kesejarahan di mana masyarakat Indonesia hidup. Para ilmuwan sosial kita cenderung mengimpor begitu saja teori-teori sosial yang mereka dapat dari Barat tanpa mempertanyakan keabsahannya ketika diterapkan dalam konteks lokal. Padahal, “ilmu-ilmu sosial tidak bebas nilai” dan “ilmu sosial itu sebelumnya merupakan satu ideologi imperialisme ekonomi.

Pernyataan tersebut sampai sekarang masih terdengar kurang nyaman bagi para akademisi ilmu sosial. Bukankah jauh lebih mudah membaca kebijakan Jokowi melalui kacamata Simon Kuznet, atau mengimajinasikan negara persis seperti apa yang dipaparkan Taqiyuddin Al-Nabhani?. Mengapa harus mempersulit diri dengan menambahkan pengetahuan struktur sejarah, politik, budaya, dan ekonomi lokal Indonesia yang minim sumber dan data yang rawan terdistorsi?.  Namun bagi seorang Arief Budiman, salah besar jika seorang akademisi, atau praktisi ilmu sosial, menutup mata akan banyaknya faktor subjektif. Konsep Bebas Nilai, yang pada dasarnya justru menjadi nilai tunggal, tentu tidaklah tepat. Ketika hanya ada satu jenis “nilai” yang dipergunakan di seluruh dunia, seperti yang dipromosikan modernis-modernis Barat, tentunya akan terbentuk hierarki nilai. Padahal manusia dan pola interaksinya sebagai bahasan utama dalam ilmu-ilmu sosial, tentunya memiliki nilai-nilai yang unik dan struktur-struktur yang membentuk karakteristik suatu sampel.Selengkapnya »Arief Budiman : Setia Melawan “Bebas Nilai”

Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai

Minggu ini sebenarnya kurang cocok untuk bernostalgia. Jiwa raga saya banyak tersita untuk urusan masa depan. Membuat banyak perencanaan, untuk rumah tangga dan terutama untuk kepentingan perusahaan. Angka-angka dalam konteks pendapatan, biaya, cicilan, sampai ke perjanjian penjualan dan rebate fee klien, hadir sejak Senin pagi. Yang saya lakukan persis seperti apa yang saya kritisi di tulisan sebelumnya tentang “Manusia Jakarta” yang hidupnya banal dan sempit waktu. Tidak cukup waktu dan/atau kemampuan untuk membaca, baik buku, ataupun kehidupan. Pergi pagi pulang malam, tidur sebentar untuk kemudian berangkat lagi pagi hari berikutnya.

Namun obrolan di grup pegiat inti Ngojak, atau tertasbihkan dengan nama Grup Komisaris Ngojak, akhirnya sukses menjadi rem yang pakem untuk saya, manusia Jakarta yang meluncur mengikuti arus deras yang memabukkan ini. Obrolan membuat saya merasa harus kembali ke 12 November 2016. Tepatnya ke Ngojak #3, yang berjudul Jakarta, Sebuah Awalan. Perjalanan ini ternyata belum tercatatkan oleh siapapun.Selengkapnya »Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai

Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya.

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja.Selengkapnya »Manusia-Manusia Jakarta

Politik Jawa Jokowi Pasca-Ahok

Setelah Ahok habis, kini Jokowi dan koalisinya ada baiknya segera move on dan beralih ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ahok kalah. Sosok yang setahun lalu nampak sebagai calon tak terkalahkan ini harus menerima nasib menjadi warga DKI biasa selama lima tahun kedepan setelah ia dan Djarot Saeful Hidayat kalah suara oleh Anies Baswedan dan pasangannya, Sandiaga Uno. Ibarat sepakbola, Ahok adalah Real Madrid era 2003-2005, sadis dalam menyerang, tapi sering melakukan blunder. Blunder tersebut, disikat habis oleh lawan-lawannya. Ahok terbantai oleh kesalahannya sendiri.

Kekalahan di DKI tentunya sangat merugikan posisi politik Jokowi. Jokowi terpilih dalam posisi penguasa-oposisi yang 50-50. Sama kuat antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Partai-partai in between kubu Jokowi dan kubu Prabowo bergerak cenderung random diantara kedua polar tersebut, harap maklum, untuk mencari makan diantara porsi-porsi PDIP, Gerindra, dan Golkar. Sebagaimana teori atas bipolaritas politik, akan selalu ada perang dingin antara dua kubu, dan dalam diam, keduanya kasak-kusuk mencari sekutu untuk menjadi satu tahap lebih kuat dibanding musuhnya.

Jawa adalah kunci, begitu dialog palsu Aidit di film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu tayang di tanggal 30 September malam saat Orde Baru. Tak salah, Jawa, meskipun tak mutlak, adalah salah satu kunci pokok untuk memenangkan persaingan politik tingkat nasional. Jokowi, sembari kerja keras membangun infrastruktur, pasti tidak akan luput dari plot penguasaan Jawa. 2014 kedua kubu cenderung seimbang di Jawa, dan Jokowi justru memiliki keunggulan suara di Indonesia Timur. Namun jika bisa menguasai Jawa, tentunya akan jauh lebih mudah bagi Jokowi untuk menang di 2019.
Selengkapnya »Politik Jawa Jokowi Pasca-Ahok