Moyangku Adalah Pelaut

Durasi Baca: 3 menit

Banyak orang yang mengira, Jakarta hanya daratan yang ada di pulau Jawa saja. Orang-orang lupa dan bahkan tidak tahu, bahwa Kepulauan Seribu juga menjadi bagian dari DKI Jakarta. memang harus dimafhumi, bahwa ketidaktahuan itu merupakan sebuah kealpaan, di mana mereka karena kesulitan hidup atau kemampuan mendapatkan pengetahuan mengenai daerah Kepulauan Seribu. Daerah ini merupakan satu-satunya daerah setingkat Kabupaten di DKI Jakarta yang luasnya seluas Kabupaten Bekasi atau Karawang, tetapi memang daerahnya hampir 85 persennya merupakan lautan.

Tidak dapat disangkal, potensi besar Kepulauan Seribu bagi sektor pangan, pariwisata serta sejarah amat besar. Sejak masa kolonial, pulau-pulau di Kepulauan Seribu telah dijadikan daerah pertahanan, galangan kapal dan bengkelnya, isolasi haji serta tanah pembuangan. Pulau seperti Edam (Damar), Onrust, Tidung, Sebira dan yang lainnya di sisi utara, mempunyai potensi wisata sejarah dan ziarah bagi DKI Jakarta sendiriSesuatu yang menarik untuk dicermati secara geografis, gugusan pulau di Kepulauan Seribu hanya berjumlah 106-113 pulau saja, bahkan secara geografis, pulau-pulau itu lebih dekat ke propinsi Jawa Barat, Banten dan Lampung.

Perjalanan dengan kapal klotok, hanya satu jam perjalanan dan dengan kapal cepat, hanya setengah jam saja sudah tiba. Yang terjauh, yaitu pulau Sebira, bahkan hanya satu jam perjalanan dari Lampung, ketimbang dari pantai Marina Ancol, dengan waktu tempuh sekitar 3 jam dengan kapal cepat.

Harus diakui, untuk menelusuri pulau-pulau di Kepulauan Seribu memang tidak mudah dan murah. Kapal reguler yang disediakan oleh pemerintah propinsi DKI Jakarta, hanya melayani pulau-pulau besar saja. Sedangkan kapal-kapal cepat speedboat, amat mahal harganya jika hanya untuk wisata yang sebentar saja atau one day trip. Untuk kapal Ro-Ro dengan bentuk kapal klotok tradisional, yang melayani pulau-pulau di tengah yang berdekatan, hanya berbiaya Rp. 5.000, tetapi hanya tersedia di pulau-pulau tertentu saja. Sesekali saya iseng membuka layanan angkutan daring atau online Nasional, rupanya tidak tersedia.

Lalu saya berpikir, akankah perusahaan angkutan online itu mau membuka layanannya dengan bentuk angkutan jetski, kapal cepat murah antar pulau, atau bahkan layanan kapal klotok. Tentu saja itu ide gila yang bodoh…hehehehehe. Saat itu saya merasa kesal pada diri sendiri dan pada saudara-saudaraku di Jakarta Daratan, mereka kadang dengan kesal jika ojeg online yang ditunggunya tidak kunjung datang. Dari merekalah saya belajar banyak, di mana mereka tidak banyak pintanya. Bahasa saya mengatakan, “Ojok baperan, Cuk”.

Di lain waktu, justru saya juga berpikir setelah membaca sebuah buku arkeologi, Laut Jawa jika surut 10-15 meter saja, akan dapat dilalui kendaraan atau dibuat jalan tol bahkan kereta api laut. ”Dasar, otak animasi! Kau kira dunia nyata ini macam film animasi One Piece?”.

Ya…seorang yang saya temui bilang pada saya, “Mas, dari Tanjung Kait Tangerang jarak tempuhnya hanya satu jam, tetapi kapal-kapal lebih memilih bongkar muat di Kaliadem, Kamal atau Ancol”.

Balik saya bertanya: “Lho, kenapa begitu? kami harus menunggu 2-3 jam pasang air untuk dapat merapat ke daratan pulau Jawa, sebab 200 meter sebelum pantai sudah penuh lumpur dan mesin kapal pasti rusak”.

“Mas, gimana di Jakarta? Sepertinya heboh sekali. Nganu bang”, saya menjawab, “Kami biasa saja, ah, itu memang kerjaan media, banjir satu RT di Jatinegara, yang lihat satu Indonesia”.

Buahahahaha.

Itulah kesederhanaan yang ditampakkan oleh mereka. Komposisi penduduk pulau-pulau di bagian utara dari Kepulauan Seribu, lebih banyak diisi oleh warga keturunan Bugis dan Melayu. Tampak sekali logat Bugis yang kental dalam pembicaraan sehari-hari. Mereka juga tidak tampak seperti orang yang sangat susah, karena ikatan kekeluargaan dan sosial amat ketat, sehingga jika ada kematian seseorang di pulau lain, yang jaraknya sekitar 1 jam perjalanan, akan diumumkan di masjid besar, terutama di pulau-pulau besar yang dihuni.

Ada seorang pemuda dari Jakarta, yang tertambat hatinya pada gadis pujaannya di Kepulauan Seribu, dan dia bahkan rela berpindah “kewarganegaraan” dari Kotamadya ke Kabupaten. Memang wisatawan memberi geliat ekonomi bagi penduduk di Kepulauan Seribu. Namun tanpa itu semua, mereka masih bisa menghidupi diri mereka sendiri dari potensi kelautan yang belum tergarap secara maksimal.

Selamat berkunjung ke DKI Jakarta di Kepulauan Seribu.

Tinggalkan Balasan