Reyhan Biadillah

Penulis dan Pencerita

Blusukan di Belantara Jakarta

Blusuk merupakan suku kata dalam bahasa Jawa, yang berarti masuk ke sebuah tempat asing. Imbuhan ‘an’ pada kata blusuk, menjadi ‘blusukan’ adalah sebuah aktivitas untuk mengetahui atau mencari sesuatu ke tempat yang jarang dikunjungi atau dilihat oleh publik sebagai tempat tujuan.

Apa yang menarik dari blusukan? Tentu sebuah kepuasan batin, sekaligus mencari hal baru dalam upaya penjelajahan mencari sesuatu. Blusukan atau mBlusukan adalah sebuah aktivitas lama, yang kemudian dipopulerkan kembali oleh Ir. Joko Widodo saat menjabat sebagai Walikota Surakarta. Aktivitas tersebut diteruskan ketika menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta dan kemudian Presiden Republik Indonesia.

Aktivitas blusukan biasanya dilakukan oleh pejabat yang agak “rock n roll’, santai, tidak mau berjarak dengan rakyat atau berupaya menyerap aspirasi rakyat secara face to face, tanpa jarak dan briokrasi, sejak masa lalu hingga kini. Saya membaca berbagai tulisan sejarah, biasanya pemimpin yang gemar blusukan. Dia akan lebih dikenal oleh rakyat dan tercatat sebagai pemimpin yang baik dalam catatan sejarah. Ini bukan berarti saya mengagungkan Joko Widodo, ya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan unsur dukung-mendukung.Selengkapnya »Blusukan di Belantara Jakarta

Moyangku Adalah Pelaut

Banyak orang yang mengira, Jakarta hanya daratan yang ada di pulau Jawa saja. Orang-orang lupa dan bahkan tidak tahu, bahwa Kepulauan Seribu juga menjadi bagian dari DKI Jakarta. memang harus dimafhumi, bahwa ketidaktahuan itu merupakan sebuah kealpaan, di mana mereka karena kesulitan hidup atau kemampuan mendapatkan pengetahuan mengenai daerah Kepulauan Seribu. Daerah ini merupakan satu-satunya daerah setingkat Kabupaten di DKI Jakarta yang luasnya seluas Kabupaten Bekasi atau Karawang, tetapi memang daerahnya hampir 85 persennya merupakan lautan.

Tidak dapat disangkal, potensi besar Kepulauan Seribu bagi sektor pangan, pariwisata serta sejarah amat besar. Sejak masa kolonial, pulau-pulau di Kepulauan Seribu telah dijadikan daerah pertahanan, galangan kapal dan bengkelnya, isolasi haji serta tanah pembuangan. Pulau seperti Edam (Damar), Onrust, Tidung, Sebira dan yang lainnya di sisi utara, mempunyai potensi wisata sejarah dan ziarah bagi DKI Jakarta sendiriSesuatu yang menarik untuk dicermati secara geografis, gugusan pulau di Kepulauan Seribu hanya berjumlah 106-113 pulau saja, bahkan secara geografis, pulau-pulau itu lebih dekat ke propinsi Jawa Barat, Banten dan Lampung.Selengkapnya »Moyangku Adalah Pelaut

Seberapa K-Pop Lo? Seberapa Koplo?

Sebuah ungkapan yang sepele. Pada dasarnya sah-sah saja orang memilih untuk dirinya sendiri kesenangan, baik itu musik, drama, pertunjukan kesenian, idola, bahkan ideologi. Tidak ada yang salah ketika dia menetapkan suatu standar hiburan bagi dirinya, entah itu yang mahal atau yang murah. Toh, orang lain tidak berhak menghakimi kesenangan dirinya. Sebab kebebasan manusia dijamin oleh Undang-undang Dasar 1945 bahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Nah, di zaman millennial ini sebagai manusia bebas di ibukota yang individualiitas warganya tercipta oleh kondisi lingkungannya, mereka dapat dengan sebebas-bebasnya memilih hiburan untuk menenangkan dan menyenangkan dirinya sendiri, salah satunya adalah Drama Korea dan K-Pop.

Sekat-sekat kebudayaan menjadi hilang, sehingga bocah-bocah milennial, lebih mengenal artis K-Pop macam Black Pink, Exo atau BTS ketimbang grup SLANK, Sheilla On 7, PADI, DEWA 19. Sebab karya mereka terus-menerus diputar, didengar dan diperdengarkan, diunggah di media sosial atau sekadar dinikmati di putaran ponsel, yang ironisnya, berasal dari negeri Ginseng tersebut.

Adakah yang salah dari kondisi itu? Sama sekali tidak. Sama sekali tidak. Lalu apa?Selengkapnya »Seberapa K-Pop Lo? Seberapa Koplo?