Begadang

Durasi Baca: 3 menit

Man thalabal ‘ula sahiral layali. Siapa yang ingin mendapatkan kemuliaan maka bekerjalah sampai larut malam ~ Ahmad Fuadi

Begadang. Hmm. Membaca judul di atas tentu akan langsung mengingatkan pada sebuah lagu legendarisnya Rhoma Irama. “Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya. Begadang boleh saja, kalau ada untungnya”.  Kekuatan lagu ini, konon, selain karena irama melayu dangdut yang khas, juga terletak pada kesederhanaan liriknya. Bahkan lagu ini bisa terus bertahan hingga kini sejak kemunculannya di telinga publik pada tahun 1978.  Menurut majalah Rolling Stone, lagu ini merupakan lagu dangdut terbaik sepanjang masa.  Prof. Andrew Weintraub dalam bukunya “Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia” mengatakan bahwa aliran musik yang dibawakan oleh Rhoma Irama seperti halnya lagu “Begadang”, merupakan sebuah medium yang membentuk sebuah pesan tentang sikap seseorang dalam menyikapi berbagai persoalan, politik, sosial, termasuk gaya hidup.

Di kota besar seperti Jakarta, begadang sepertinya hal yang lumrah dilakoni warganya untuk mengisi malam. “Di kampung saya mah yang di Tasik, jam segini udah sepi, Kang,” celoteh Jijim, penjaja warkop yang letaknya ada di seberang kosan saya di Jalan Kiai Sahdan, Palmerah, Jakarta Barat.

Saat itu waktu baru menunjuk angka sembilan. Bocah 18 tahun ini bekerja sampai larut, mulai jam tujuh pagi sampai jam dua dinihari. Jam kerjanya bergiliran dengan saudaranya. Jijim sendiri paling sering mendapatkan tugas shift malam. Di seberang warungnya terdapat ruko game online yang beroperasi 24 jam. Otomatis, hampir sepanjang malam Jijim begadang melayani para pelanggan setia warungnya. Kadang-kadang pengguna game online minta diantarkan pesanannya. Meski demikian, dari raut muka dan semangatnya ia terlihat tidak begitu mengeluhkan jika pelanggannya minta diantarkan, meski harganya tak jauh beda dengan melayani di tempat.

Jijim begitu mencintai pekerjaannya. Setiap pelanggan, siapapun, harus dilayaninya dengan baik. Saya membayangkan pemuda ini suatu hari bisa bekerja di restoran besar.
Begadang bagi Jijim adalah kewajiban akan sebuah profesi. Sama halnya seperti petugas keamanan di komplek perumahan Permata Hijau yang selalu saya lewati setiap pulang kerja. Atau para tukang ojek di beberapa sudut ibukota yang menanti pelanggan setianya turun dari angkutan umum untuk kemudian diantar ke tempat tujuan. Di sisi lain, begadang juga dilakukan entah karena ada tugas kuliah, nonton bareng, hingga sekadar mencari angin udara Jakarta yang pengap.

Meski diketahui jam biologis manusia diatur per delapan jam untuk pekerjaan normal, delapan jam untuk pekerjaan ringan, dan delapan jamnya lagi sebagai waktu istirahat. Hal tersebut kadang tidak pernah dijadikan acuan bahwa tubuh manusia memang punya batasan-batasan. Jadi, selain tuntutan profesi, banyak sekali hal lain yang memengaruhi orang untuk begadang misalnya browsing dan chit-chat haha hihi sampai berjam-jam.

“Saya kadang menulis jam 3-an dinihari sampai subuh. Selain otak lebih fresh, jam segini biasanya koneksi internet saya bagus. Hahaha,” kata teman saya di Surabaya yang mengaku langganan paket internet “Kalong”. Dari sini, saya baru sadar akan satu hal; konsep begadang ternyata dijadikan lahan bisnis provider untuk meraup keuntungan. Dengan jumlah pengguna yang sepi, para pelanggan “Kalong” ini betul-betul bisa merasakan koneksi internet yang optimal, internet yang di luar kebiasaan siang hari.  Lantas bagaimana kalau pengguna “Kalong” semakin banyak? Apa bedanya koneksi internet malam dan siang hari?

Dengan kata lain, begadang memang hadir karena sebuah kebutuhan akan informasi, pergaulan, atau tuntutan karier. Sampai di sini, begadang telah berubah perannya menjadi kebutuhan yang erat kaitannya dengan urusan perut dan dapur ngebul. Pelakunya tak pernah peduli ceramah para ahli kesehatan dan nasihat-nasihat yang mengancamnya. Segala khotbah tentang pendapat bahwa begadang adalah bom waktu bagi jiwa seseorang hanya dianggap angin lalu.

Tengok bagaimana seorang pekerja di China meninggal akibat lembur hingga larut. Li Yuan, nama pekerja tersebut, hampir setiap hari bekerja hingga jam sebelas malam. Ajal kemudian merenggutnya di kantor di mana ia bekerja. Menurut Yangzi Evening News, sebelum jatuh, Li sempat berteriak karena kesakitan. Rekan kerjanya yang melihat kejadian itu langsung menelepon bantuan darurat, dan petugas medis pun membawanya ke Rumah Sakit Peking Union Medical College. Namun, sayangnya, nyawa Li tidak dapat diselamatkan. Dokter mengatakan, Li meninggal akibat serangan jantung.

Dan yang terbaru adalah Mita Diran, anak muda yang berprofesi sebagai copywriter ini meninggal akibat kelelahan menyelesaikan tugas kantornya hingga larut. Ia dikabarkan kurang istirahat, begadang 3 hari berturut-turut hingga akhirnya koma dan meninggal di Rumah Sakit. “30 hours of working and still going strooong,” Twit terakhir almarhum melalui akun @mitdoq

Jika begadang itu benar-benar buruk, lantas begadang model apa yang dimaksud dengan lirik Bung Rhoma, “Begadang boleh saja, kalau ada perlunya”?

Man thalabal ‘ula sahiral layali. Semoga Jijim, Pak Satpam, tukang ojek, dan Mita senantiasa mendapatkan kemuliaan. 🙂

Tinggalkan Balasan