Suatu Masa di Depok Lama

Depok Lama bagi saya adalah “jendela perlintasan”. Hanya mengamatinya sekilas dari balik jendela kereta, mobil atau angkot. Tidak lebih dan tidak berkesan.

Menyimak penuturan Pak Yano Jonathans hari ini (9/10/16) tentang suatu masa di Depok Lama mengubah “lintasan jendela” itu.

Beliau adalah penulis buku “Potret Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat Depok Tempoe Doeloe”. Buku ini berawal dari hal sederhana yaitu penasaran untuk menggali kehidupan Depok di masa lalu diselesaikan dalam waktu sekitar 4 tahun.

Oleh Jan-Karel Kwisthout yang menulis kata pengantarnya, buku ini dipuji sebagai buku yang memuat sejarah Depok oleh warganya sendiri, setelah hampir 300 tahun!.

Yano Jonathans, sang penulis, masih keturunan salah satu dari 12 marga Depok yang dibentuk oleh Cornelis Chastelein sekitar awal 1700-an dan bukan sejarawan. Karenanya, buku ini meski sarat informasi, namun membacanya amat nyaman karena gaya bahasanya yang ringan dan memancing rasa penasaran.

(Catatan: 12 nama marga Depok yang diberikan oleh Chastelein: Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Joseph, Loen, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel dan Zadokh. Hal 40)

Siapa itu Cornelis Chastelein dan tentang sejarah Depok sendiri yang menurut Yano, di arsip nasional, menempati ruang yang cukup panjang, ada baiknya kau yang ingin tahu, memenuhi keinginantahuanmu dengan mencari tau sendiri.

Gereja GBIP Immanuel di Jalan Pemuda yang dibangun pada tahun 1700-an. (Foto: Diella Dachlan)
Gereja GBIP Immanuel di Jalan Pemuda yang dibangun pada tahun 1700-an. (Foto: Diella Dachlan)

Jembatan, Gereja, Makam: Jejak Waktu

Bersama 15 teman dari komunitas Ngopi Jakarta atau Ngojak (plus anggota termuda, Atta Rose yang tangguh tanpa mengeluh berjalan kaki berkilo-kilometer) hari itu kami mengunjungi bangunan-bangunan tua di jalan-jalan Kecamatan Pancoran Mas, Depok.

Penjelajahan kami hari itu bermula dari Stasiun Depok Lama lalu jalan kaki berkeliling tempat-tempat yang sudah disurvei dan dicarikan informasinya oleh Ali dan teman-teman Ngojak.

Rombongan Ngojak Vol 2 di Jembatan Panus, Depok (Foto: Diella Dachlan)
Rombongan Ngojak Vol 2 di Jembatan Panus, Depok (Foto: Diella Dachlan)
Jembatan Panus di bagian bawah (Foto: Ngojak)
Jembatan Panus di bagian bawah (Foto: Ngojak)

Bangunan yang ternyata cukup banyak adalah bangunan-bangunan gereja. Rata-rata adalah milik masyarakat Kristiani, seperti amanat dan harapan Chastelein tiga abad yang lalu, seorang Kristen taat yang berharap agar masyarakat Kristen yang sejahtera dapat tumbuh di Depok (hal 35).

Paling berkesan ketika mengunjungi Gereja GBIP Immanuel di Jalan Pemuda yang dibangun pada tahun 1700-an. Meskipun sayang sekali tak sempat masuk ke dalam karena ibadah Minggu sedang berlangsung.

Kami sempat berbincang singkat dengan Pak Rompas ketika mengunjungi gereja Minahasa. Pak Rompas yang asli Manado, tinggal di Depok sejak tahun 1989.

Juga sempat masuk ke RM Khasanti 16 di jalan Pemuda. Restoran ini mempertahankan bentuk asli rumah gaya kolonial.

Paling berkesan kedua yaitu ketika mengunjungi Jembatan Panus yang dibangun untuk melintasi Sungai Ciliwung pada masa kolonial lalu.

Meski dibangun oleh insinyur Belanda bernama Andre Laurens tahun 1917 (di badan jembatan tulisan ini bisa terlihat), yang menarik bagi saya adalah nama Panus sendiri malah mengacu pada warga samping jembatan pada masa itu yang bernama Stevanus Leander (hal 4). Mengapa jadi Panus? bagi warga Depok, sepertinya “Panus” lebih mudah diucapkan daripada nama londo sang warga samping jembatan.

Disini kami menuruni jalan lumayan curam nan licin untuk melihat situasi bawah jembatan. Selain pengukur ketinggian air untuk Sungai Ciliwung, kami juga menemukan pancuran yang dicurigai sebagai mata air. Dan tentu saja, hal paling menyebalkan untuk ditemukan adalah aneka sampah di pinggir hingga ikut mengalun mengarungi Ciliwung.

Makam tua di Jalan Kamboja. Ada yang menampung hingga 10 jenazah! (Foto: Diella Dachlan)
Makam tua di Jalan Kamboja. Ada yang menampung hingga 10 jenazah! (Foto: Diella Dachlan)

Kami juga mengunjungi makam di Jalan Kamboja. Makam itu dikelola oleh Yayasan Chastelein untuk keturunan 12 marga Depok (hal 150). Menarik mengamati bangunan-bangunan makam dengan nama-nama Belanda. Banyak makam untuk dua bahkan sepuluh orang. Seperti makam keluarga Van der Capellen (hal 151).

Sejarah Pahit hingga Olok-Olok Belanda Depok

Belajar banyak dari Yano Jonathans tentang sejarah Depok (Foto: Diella Dachlan)
Belajar banyak dari Yano Jonathans tentang sejarah Depok (Foto: Diella Dachlan)

Dari awal Indra Pratama dan Daan sempat menyinggung-nyinggung soal Gedoran Depok.

Yano Jonathans pun enggan mengangkat peristiwa ini dalam bukunya, meski orang tuanya mengalami langsung kejadian kelam dimana Depok saat itu dicekam perampokan dan pembunuhan.

“Saya coba menggali dari beberapa orang, tetapi semua tampaknya enggan mengenang peristiwa buruk itu. Orang tua saya pun menghindari berbicara tentang itu. Seperti masih trauma”. kata Yano, kelahiran Bandung tahun 1951.

Kontras dengan sejarah pahit, popularitas “Belanda Depok” yang membuat banyak orang (termasuk saya) berasumsi macam-macam tentang akulturasi Belanda ke dalam kehidupan masyarakat Depok, menurut Yano, hal itu hanya olok-olok.

“Setelah saya telusuri, rupanya julukan “Belanda Depok” itu adalah olok-olok anak muda, karena jaman itu orang Depok bicara bahasa Belanda yang tidak dimengerti oleh sebagian besar warga Depok” cerita Yano, ketika kami mengunjungi rumahnya.

Nama Depok sendiri ada beberapa versi. Salah satunya adalah “De Erste Protestante Organisatie van Kristenen” (jemaat Kristen yang taat, hal 26). Ada juga yang mengatakan nama Depok berasal dari kerinduan warga Depok yang tinggal dan menjadi warga Belanda setelah peristiwa kelam di Depok sekitar tahun 1950. (hal 27-28). Ah, kadang sejarah memang punya banyak versi.

Sebuah sudut di Depok Lama, potensi wisata yang belum tergarap (Foto: Diella Dachlan)
Sebuah sudut di Depok Lama, potensi wisata yang belum tergarap (Foto: Diella Dachlan)

 

Impian untuk Depok

Menjelajahi Depok Lama yang baru saja kami akrabi dalam waktu sangat singkat itu, tetapi sudah lebih jauh daripada sekedar melintasi Jalan Margonda Raya, membuat sebuah angan-angan muncul.

Terbayang jika Depok Lama ini menjadi rute baru para penjelajah sejarah. Atau, sekedar jalan kaki menikmati bangunan arsitektur, mencicipi kuliner Depok Lama seperti Perkedel Bakar, Dodol, Huzaren Sla dan lain-lain yang saat ini belum tersedia di pusat-pusat kuliner di Depok.

Dalam benak, terbayang rute, informasi yang dapat disajikan, lalu pada akhirnya mendorong ekonomi sekaligus melestarikan budaya dan sejarah.

Impian yang sama ternyata dimiliki lebih dulu oleh Yano. Bahkan lebih jauh, ia ingin Depok juga bisa dikenal lewat agrowisata, karena hasil kebun seperti jambu, mangga dan lain sebagainya.

Beliau masih punya banyak impian lain untuk Depok. Kata-kata beliau yang terus terngiang-ngiang meski kami sudah lama meninggalkan rumahnya adalah “Sekarang giliran generasi muda merawat sejarah lewat berbagai kegiatan. Saya ingin sekali Depok bisa jadi tujuan wisata sejarah, kuliner dan agrowisata”.

Yano telah melakukan bagiannya dengan meletakkan sekeping puzzle besar untuk mendokumentasikan sejarah Depok. Sekarang giliran kita untuk meletakkan kepingan puzzle berikutnya untuk mewujudkan impian itu.

Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi

Tinggalkan Balasan