Diella Dachlan

Baca, ngopi, jalan

Suatu Masa di Depok Lama

Depok Lama bagi saya adalah “jendela perlintasan”. Hanya mengamatinya sekilas dari balik jendela kereta, mobil atau angkot. Tidak lebih dan tidak berkesan.

Menyimak penuturan Pak Yano Jonathans hari ini (9/10/16) tentang suatu masa di Depok Lama mengubah “lintasan jendela” itu.

Beliau adalah penulis buku “Potret Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat Depok Tempoe Doeloe”. Buku ini berawal dari hal sederhana yaitu penasaran untuk menggali kehidupan Depok di masa lalu diselesaikan dalam waktu sekitar 4 tahun.

Oleh Jan-Karel Kwisthout yang menulis kata pengantarnya, buku ini dipuji sebagai buku yang memuat sejarah Depok oleh warganya sendiri, setelah hampir 300 tahun!.

Yano Jonathans, sang penulis, masih keturunan salah satu dari 12 marga Depok yang dibentuk oleh Cornelis Chastelein sekitar awal 1700-an dan bukan sejarawan. Karenanya, buku ini meski sarat informasi, namun membacanya amat nyaman karena gaya bahasanya yang ringan dan memancing rasa penasaran.

(Catatan: 12 nama marga Depok yang diberikan oleh Chastelein: Bacas, Isakh, Jonathans, Jacob, Joseph, Loen, Laurens, Leander, Tholense, Soedira, Samuel dan Zadokh. Hal 40)

Siapa itu Cornelis Chastelein dan tentang sejarah Depok sendiri yang menurut Yano, di arsip nasional, menempati ruang yang cukup panjang, ada baiknya kau yang ingin tahu, memenuhi keinginantahuanmu dengan mencari tau sendiri.Selengkapnya »Suatu Masa di Depok Lama

Jakarta di Ujung September

Menjadi penghuni Jakarta yang numpang hidup, ternyata tak kalah galau dengan mereka yang secara resmi ber-ktp DKI.

Seumur hidup tidak menyukai Jakarta. Mulai jatuh cinta pada kota ini sejak 2012. Awal yang sederhana: ketika tahun baru bisa jalan kaki susur Sudirman-Thamrin dan melihat betapa sigapnya pasukan kebersihan berbenah. Lalu kebahagiaan demi kebahagiaan mulai muncul di kota ini: #Sungai bersih dan tempat2 umum relatif lebih bersih serta ada taman2 kota dan trotoar (maklum, pejalan kaki). Lalu mudah pergi kemana-mana pakai transportasi: TransJakarta, kereta, bajaj, ojek hingga taksi (lebih nyaman dan praktis). Melapor lebih cepat ditanggapi dan punya aplikasi lapor lagi. Kemewahan! bagi warga kota seperti saya yang puluhan tahun sering diabaikan oleh pemerintahnya sendiri.Selengkapnya »Jakarta di Ujung September

Karadenan Kaum, Sekeping Sejarah Peradaban di Sisi Ciliwung

Seorang sahabat pernah berkata “Indonesia yang kaya budaya adalah surga arkeologi, menggali di belakang rumah saja bisa ketemu benda sejarah”. Ketika kami mengunjungi Karadenan Kaum, Kec. Cibinong, Kab. Bogor (27/8/16) untuk melihat jejak peninggalan Raden Syafe’i, tokoh penyebar agama Islam di Priangan Barat (Bandung, Bogor dan Banten) pada abad 16, seloroh sahabat saya itu terjadi pada Raden Dadang Supadma.

Raden Dadang Supadma, nara sumber kami hari itu, merupakan keturunan ke-41 Raden Syafei. Beliau adalah tokoh dibalik gagasan penelusuran silsilah keturunan Raden Syafei sejak tahun 2013. Dari beliau dan Raden Suparta, kami belajar banyak tentang siapa itu Raden Syafei serta jejak peninggalannya.Termasuk tentang penemuan batu kepala makam yang tak disengaja itu.

“Saya sedang membersihkan komplek makam (di belakang Mesjid) dari pohon tumbang sekitar dua bulan lalu (Juni 2016), lalu ketemu batu makam ini. Rupanya selama ini terkubur” cerita Raden Dadang Supadma, sambil menunjukkan batu bermotif dari ujung makam.

Menurut beliau, peneliti sejarah dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat menduga batu nisan ini berasal dari abad ke-17, dengan pola ukir yang mirip dengan Cirebon. Raden Dadang Supadma ragu untuk memastikan identitas beberapa makam kuno di dalam komplek pemakaman tersebut. Warga percaya salah satu makam itu adalah makam Ratu Edok, yang merupakan istri Raden Syafe’i. Sejauh apa kebenarannya? Perlu penelitian panjang untuk menjawabnya.Selengkapnya »Karadenan Kaum, Sekeping Sejarah Peradaban di Sisi Ciliwung

Pages: 1 2 3