Membaca Jakarta Memaknai Peradaban

Sungai Ci Liwung mengalir tenang. Tak begitu jernih, namun cukup meyakinkan untuk ketiga anak itu lari dari tepian dan berenang ke tengahnya. Matahari sore menghangatkan air sungai, sekaligus memantulkan warna jingga yang romantis.

Mereka tidak tahu, enam ratus tahun lalu, Pangeran Surawisesa dari Kerajaan Sunda,putra Prabu Siliwangi yang agung, duduk di tepian dekat anak-anak itu. Melepas lelah setelah seharian berjalan dari selatan. Surawisesa, sebagaimana diceritakan dalam dongeng Mundinglaya Di Kusumah, sedang dalam perjalanan panjang ke Jabaning Langit, untuk mengambil jimat Layang Salaka Domas dari para hantu sakti, yang dijuluki Guriang Tujuh. Ia berhenti di tempat itu, untuk bersiap mengikuti sayembara memperebutkan Putri Dewi Kania dari Kerajaan Muaraberes.

Tak sampai seratus tahun kemudian, datang seorang bangsawan lain. Kali ini berbeda, tempat itu bukan lagi pusat Kerajaan Muaraberes, melainkan sebuah kampung yang mengalami vacuum of power setelah kekalahan Surawisesa dan Kerajaan Sunda. Bangsawan itu masih pula keturunan Sunda. Raden Syafe’i, nama bangsawan itu, tak tinggal diam. Ia mulai menyebarkan Islam di kampung itu dan membuat sebuah masjid. Salah satu jejak penyebaran Islam paling tua di sepanjang Ci Liwung, yang nantinya menjadi tonggak penting penyebaran Islam di Priangan Barat.

Kini, kedatangan para bangsawan itu diabadikan pada nama kampung tersebut : Karadenan.

Bersama #NgoJak, mari kita cari tahu jejak para bangsawan itu. Bagaimana Karadenan berkembang dari masa ke masa, dan warisan apa yang masih bertahan dari masa para bangsawan tersebut.

 

Tinggalkan Balasan