Yorrys, dari Premanisme ke Politik

Durasi Baca: 2 menit

Pada pertengahan 1990-an, sayup-sayup saya mendengar nama Yorrys TH Raweyai sebagai salah satu tokoh pemuda yang ditakuti. Dia disebut-sebut dekat dan disegani para preman di seantero ibukota. Karena itu ketika awal menjadi wartawan Tempo, 2001, mendapat tugas untuk mewawancarinya saya blingsatan bukan kepalang. Tapi untuk mengelak dari tugas, tentu haram hukumnya.

Nyatanya dia tak seangker yang dicitrakan. Rasa gemetar saat memencet bel dan memarkir Honda Kharisma di halaman rumahnya di kawasan Pejaten langsung luruh begitu berhadapan langsung dengannya. Dia ramah. Punya sense of humor yang baik.

Ketika dia mencalonkan diri sebagai Gubernur Papua Barat, Juli 2006, saya meliput aktivitas kampanyenya di Manokwari dan Sorong. Selama empat hari bergaul di sana, ada kalanya memang sisi keras dia muncul.

Yorrys gagal menjadi gubernur. Meski dia lahir di Serui, 28 Januari 1951, dia lebih banyak menghabiskan waktu di Jakarta. Sejak 1979 suami dari Olga Olivia itu hijrah ke ibukota. Mayoritas Papua Barat memilih Laksamana Muda Abraham Octavianus Attururi.

Belum genap setahun di Jakarta, pada awal 1980 Yorrys menjadi anggota Pemuda Pancasila pimpinan Yapto Soerjosoemarno. Dia kemudian terpilih sebagai ketua untuk wilayah DKI Jakarta selama beberapa periode. Sejak itulah Yorrys mulai dikenal sebagai tokoh pemuda di Ibu Kota yang dekat dengan sejumlah preman.

Zaman berubah, siasat perjuangan berganti. Memasuki era reformasi, Yorrys aktif di Partai Golkar. Dia malah pernah menjadi anggota DPR. Di Pemilu 2019, kakek empat cucu itu juga dipastikan melenggang ke Senayan. Dia meraup suara terbanyak, 1 juta lebih, untuk menjadi angola Dewan Perwakilan Daerah.

“Doakan Abang tetap sehat dan bisa mengemban amanat dengan baik,” ujarnya saat kami bertemu kembali, Kamis (4/7/2019).

Di usia menjelang 70 tahun, dia masih tampak bugar saat hadir di rumah dinas Ketua DPR Bambang Soesatyo pagi itu. Saat turun dari kendaraan, langkah kakinya masih terlihat enerjik. Rambut dan brewok yang menjadi ciri khasnya juga masih dominan hitam. Begitu juga dengan kulit wajah dan lehernya masih kencang. Dari balik kemeja krem lengan pendek yang kancing atas dibiarkan terbuka, terlihat kalung rantai emas melingkari lehernya.

“Enak aja disemir, hitam asli ini. Abang gak pernah facial apalagi nyalon begitu. Emangnya gue cowok apaan,” ujarnya diiringi tawa berderai.

Lantas apa yang membuat dia tetap fresh dan bugar?

Yorrys mengaku rutin melakukan yoga dan push-up 100 kali setiap kali bangun tidur. Juga melakukan gerakan-gerakan karate. Untuk mengimbangi kebiasaannya mengisap nikotin, seminggu sekali dia berenang dan menyelam untuk menjaga pernafasan.

“Abang juga sebulan sekali biasakan jalan tanpa alas kaki sejauh 3 kilo (meter), ” Ujarnya.

Tips lain, rajin tersenyum. Pandai mensyukuri apa yang ada dan tidak ngoyo mengejar sesuatu.

Meski rajin tersenyum, toh bagi sebagian orang tetap jiper (ketakutan) bila berjumpa dia. Yorrys mengaku menyadari hal tersebut. Semua itu, kata dia, tak lepas dari stigma masa lalu yang lama tertanam melalui informasi-informasi yang berkembang di publik selama ini. Yorrys mencontohkan, istri seorang petinggi Golkar pernah spontan berujar saat bertemu dalam sebuah acara beberapa tahun silam.

“‘Ini Bang Yorrys yang preman itu kan? Kok enggak kayak yang dibayangin ya?'” katanya menirukan komentar perempuan itu.

Alexander sudrajat

alexander sudrajat (4)

penyunting di detik.com

%d blogger menyukai ini: