Di ruangan redup di pinggiran New York, dindingnya dipenuhi tumpukan kertas kuning menguning, kotak-kotak arsip yang berdebu seperti relik dari perang yang tak pernah usai. Di tengahnya duduk seorang pria tua berusia 87 tahun, mata tajamnya masih menyimpan api kemarahan muda. Seymour Hersh, jurnalis yang namanya identik dengan bom waktu jurnalisme investigatif. Sejak awal, film ini menempatkan Hersh sebagai sosok yang tidak pernah puas dengan jawaban resmi.
Ambil Mikrofon, Gali Arsip, Bongkar Tutupan
Dokumenter Cover-Up (2025), karya sutradara Laura Poitras (Citizenfour) dan Mark Obenhaus, mengisahkan perjalanan mendebarkan menyusuri lorong-lorong gelap kekuasaan Amerika Serikat, dari darah My Lai di Vietnam hingga jeritan Abu Ghraib di Irak. Dirilis di Netflix pada 26 Desember 2025 setelah premiere megah di Venice Film Festival, film berdurasi 117 menit ini seperti pisau bedah yang membuka luka negara adidaya itu, mengingatkan kita bahwa kebenaran selalu punya harga mahal. Editor Amy Foote cukup brilian kala potongan cepat wawancara Hersh dengan klip berita lama, dipadukan dengan musik Maya Shenfeld yang menegangkan seperti detak jantung di ruang penyiksaan. Visual arsip hitam-putih kontras dengan wajah Hersh yang keriput tapi penuh semangat.
Hersh bisa disebut wartawan kasar dari Chicago yang memulai karirnya di Pittsburgh Post-Gazette era 1950-an. Warsa ’70-an bisa jadi era awalnya ketika ia mengungkap Pembantaian My Lai. Ratusan warga sipil Vietnam, termasuk perempuan dan anak-anak, dibantai oleh pasukan AS di bawah Komandan William Calley. Militer menutupinya, tapi Hersh, dengan sumber rahasia, membocorkan ke Associated Press. Calley diadili, Hersh raih Pulitzer. Rekaman audio langka Nixon dan Kissinger menjadi saksi, “Bomb the hell out of them,” kata Nixon sambil tertawa. Seolah perang bukan nyawa manusia, tapi angka di peta strategi.
Lanjut ke Watergate, skandal yang menumbangkan Nixon. Hersh, saat itu di New York Times, menggali lebih dalam dari Woodward-Bernstein. Ia menyingkap spionase CIA domestik, program CHAOS yang mengawasi aktivis antiperang. Arsip pribadi Hersh yang terdiri dari 7.000 item yang ia simpan bertahun-tahun, jadi tulang punggung film. Kamera lantas zoom ke surat-surat rahasia, memo bertanda “Top Secret”, rekaman Hersh mewawancarai sumber anonim. Hersh sendiri tampil mentah. Suara serak dan tatapan sinisnya saat bercerita soal keraguan awal ikut proyek ini. “Saya tak suka bicara diri sendiri,” katanya, tapi akhirnya setuju karena kebenaran butuh saksi terakhir.
Tak berhenti di era Nixon. Hersh lanjut bongkar “Pentagon Papers” Daniel Ellsberg, tapi sorotan film jatuh ke Irak 2004 tentang Penjara Abu Ghraib. Foto-foto penyiksaan tahanan, anjing ganas, dan siksaan listrik genital, dibocorkan Hersh di New Yorker. Administrasi Bush menuduhnya hoaks, tapi bukti Hersh menghancurkan narasi perang melawan teror. Dokumenter lantas menyajikan footage mentah, wawancara Hersh dengan korban dan pelaku, plus analisis bagaimana media utama awalnya abai.
Film juga menyinggung soal Gaza sekilas di bagian akhir. Hersh yang menerima telepon dari sumber anonim di Gaza membahas soal IDF yang menargetkan sipil wanita dan anak-anak. Ia mencoba menghubungkan dengan pola cover-up masa lalu seperti tragedi My Lai dan skandal Abu Ghraib. Saya termasuk di antara banyak komentar yang menganggap segmen ini dibuat-buat, terasa tiba-tiba, dan kurang arsip kuat seperti segmen Vietnam, karena hanya mengandalkan telepon dan bukan dokumen.
Sisi Subyektif
Poitras, dengan pengalamannya di Citizenfour (2014) yang membongkar spionase Edward Snowden, membangun narasi seperti thriller politik, All the President’s Men versi 2025. Ia memilih sudut subyektif, Hersh narator sekaligus tokoh, membuat penonton dapat merasakan beban etis.
“Jadi di sinilah kita sekarang, di mana tampaknya impunitas telah menjadi hal yang lumrah,” ujarnya dalam sebuah diskusi.
Namun Cover-Up tak mengabaikan sisi gelap Hersh. Ada bab kontroversial kala bukunya The Dark Side of Camelot (1997) menuduh JFK selingkuh dan terikat mafia, berdasarkan surat palsu dari Marita Lorenz. Hersh mengakui kesalahan, tapi film tidak menyalahkannya, justru itu menunjukkan bagian dari jurnalis yang ambisius, rela ambil risiko. Ini membuat Hersh manusiawi, bukan patung. Kita melihat bagaimana tekanan, ancaman, bahkan keraguan pribadi menjadi bagian dari perjalanan panjangnya.
Namun justru di situlah letak kekuatan film ini. Hersh memperlihatkan bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan kemampuan untuk tetap menulis meski rasa takut itu hadir. Kritikus bahkan menyebutnya kekuatan, “Hersh, di masa kejayaannya, bukanlah seorang agitator puritan seperti Chomsky; dia adalah pria biasa yang hanya ingin kebenaran terungkap ,” tulis Owen Gleiberman di Variety.
Di Indonesia, saat disinformasi banjiri medsos, jurnalisme investigatif yang menghadapi sensor, film ini seakan jadi tamparan. Ingat kasus Century, e-KTP, atau revisi sejarah 1965? Hersh mengajarkan jurnalisme bukan kedua sisi cerita, tapi gali fakta mentah. “Jika pemerintah bohong, tugas kita mengungkapnya,” katanya. Film ini mengajak untuk merenungkan warisan jurnalisme. Di era AI, Hersh, dengan typewriter jadulnya, mengingatkan nilai manusiawi, empati, ketekunan, moral.
Menutup layar setelah menonton, film ini pengingat manis sekaligus tegas, bahwa di balik setiap cerita yang berusaha ditutupi, selalu ada seseorang yang memilih untuk membuka.