Jakarta diperkirakan akan tenggelam pada tahun 2050. Prediksi ini disebabkan oleh penurunan permukaan tanah dan kenaikan permukaan air laut.
Begitu bunyi satu berita di sebuah surat kabar online yang seringkali hanya kita baca sebatas judul saja. Ya, saya juga melakukan itu. Jakarta bagi saya hari ini sudah seperti ziarah pada lintasan-lintasan kenangan silam. Saya memang sepertinya tidak dilahirkan untuk hidup di Jakarta atau kota besar lainnya. Tidak ada lagi drama dan kebisingan yang merupakan keniscayaan sebuah kota, dan berita tentang Jakarta yang sebentar lagi akan tenggelam saya pikir tak jua membuat orang-orang untuk minggat dari sana.
Mungkin gambaran sederhana dari tenggelamnya sebuah tempat ada pada cover album anyar dari band Majelis Lidah Berduri bertajuk Hujan Orang Mati. Di cover itu terlihat orang-orang berdoa di kuburan yang terendam air, bukan disebabkan oleh banjir tapi karena air laut yang naik.
Dan jika memang itu benar terjadi di Jakarta, kalian dapat memutar lagu-lagu yang berkaitan dengan laut, di atas sampan atau sekoci sambil memegang gawai dan membayang hidup seperti apa yang ada dalam film Waterworld.
Float – Tiap Senja
Ini sebenarnya lagu cinta yang sangat khas float, tapi bagaimana perumpamaan laut dan riak riak pantai adalah sesuatu yang lain. dan jika jakarta benar benar tenggelam Float sudah menyiratkan dengan gamblang masih banyak pulau yang dapat kautemui, menepilah. Dan entah kebetulan atau tidak Float juga berarti mengapung. Setiap kali mendengarkan Tiap Senja saya selalu teringat dengan Nice Dream nya Radiohead, kedua lagu itu seperti memiliki kesamaan suara.
Banda Neira – Langit dan Laut
Tampaknya memang langit dan laut adalah sebuah perpaduan paling paripurna, di antara batas langit dan laut ada garis horizon yang membentang indah. Hal-hal yang selalu kita kagumi keindahannya, tapi entah mengapa ketika mendengar nama Banda Neira saya selalu teringat dengan sjahrir. Kata-katanya “jangan mati sebelum ke Banda Neira” selalu menghantui dan memanggil-manggil. Begitulah yang pasti lagu Langit dan Laut dari Banda Neira, seperti hidup sebagai pembaur kerinduan dan kalimat-kalimat yang tak tersampaikan.
Asteriska – Ibu Pertiwi
Barangkali lagu ini adalah tema paling relevan dengan tema tenggelam. Asteriska dari Barasuara membuat EP Rumah Kita pada 2020. Ia beserta Greenpeace berkunjung ke Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat. Asteriska datang bersamaan Greenpeace dan Watchdoc untuk proyek video Tenggelam Dalam Diam yang mendokumentasikan dampak abrasi terhadap wilayah di pesisir pantai Jawa Barat.
Ep ini berisi empat lagu, yang kesemuanya bertema tentang alam. Asteriska merasa belum pernah melakukan hal berguna untuk alam. Sehingga ia merasa perlu membuat sebuah karya tentang alam.
Taman Nada – Drama Ombak
Sebenarnya semua tulisan di atas hanyalah sebuah prolog yang terlalu panjang dan cuma sebagai alasan belaka agar saya bisa menulis tentang Taman Nada. Beberapa hari ke belakang saya begitu terpesona dengan lagu Drama Ombak, sehingga saya merasa perlu untuk mengabarkan sebuah lagu bagus. Taman Nada mungkin adalah grup musik yang asing bagi sebagian besar kalian. Mereka tidak terlalu terkenal dan mereka juga tidak terlalu produktif, bahkan ada masa sebelas tahun mereka hanya mengeluarkan sebiji lagu. Taman Nada seperti menegaskan bahwa folk di Surabaya tidak hanya berkisar tentang Silampukau, sekaligus memberi makna pada hal-hal remeh. Satu hari di tahun 2014 saya masih ingat ketika mendengarkan lagu Pulang dari Taman Nada, Pulang bersama dua lagu lain dari Taman Nada, terdapat dalam sebuah website subside dan waktu itu dapat diunduh gratis, websitenya sekarang sudah tidak ada, tapi saya trackback menggunakan internet archive masih bisa. Tapi toh kalian tidak perlu melakukan itu, cukup cari di youtube atau spotify.
Drama Ombak yang dirilis beberapa bulan lalu bagi saya adalah sebuah pengingat bahwa Taman Nada masih “merupakan perwujudan Surabaya dengan kerendahan hati, bermodalkan instrumen minimalis tapi dengan pilihan kata yang kaya. Lagu lagunya yang berupa seruan, pengingat juga renungan berfungsi sebagai saluran kontemplatif bagi sang seniman dan pendengar.” yang tercetak miring itu adalah kalimat yang saya sandur dari liner notes karya sebelumya yang rilis pada 2013.
Dan yang paling istimewa dalam karya anyar mereka ini adalah liriknya. Penuh dengan metafora tanpa terlihat norak sedikitpun, mereka tetap memilih kata demi kata dengan tepat. Drama Ombak mengajak kita untuk melihat bengisnya laut, dan itu mengingatkan saya pada satu perempuan penyuka laut. Sialnya saya punya kenangan buruk dengan dirinya. Secara tidak langsung saya merasa terwakili dengan lirik sudahkah terbilang bahwa laut tak sebaik yang kita tahu.
Mereka masih elok dan menawan, segalanya seperti jatuh pada tempatnya. Atau itu hanya sekedar anggapan seorang fans yang kadung jatuh cinta dan melepas dahaganya karena bertahun-tahun hanya hidup dengan bualan mereka, sambil sesekali mengunjungi sisa-sisa ingatan yang masih ada ketika proses pendewasaan satu dekade lalu. Ah sudahlah saya merasa sangat emosional.