(yang) Tersisa dari Jalur Kereta Api; Menapak Gambir-Juanda

Durasi Baca: 3 menit

Kereta api dinilai memiliki kelebihan dibandingkan kendaraan darat lainnya. Kelebihan dimaksud antara lain, bisa mengangkut orang maupun barang secara bersamaan dan dalam jumlah besar, dengan waktu relatif lebih cepat dibandingkan kendaraan darat lainnya.

Tak ayal, kereta api terus dikembangkan mulai dari lokomotif uap menjadi bertenaga diesel dan listrik. Jalur kereta api dibangun sebagai bagian penunjang utama kereta api dapat berjalan.

Jalur kereta api dibangun dan menghubungkan antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Dari yang semula untuk mengangkut hasil bumi dan perkebunan, hingga bertransformasi menjadi salah satu moda transportasi andalan dalam mengangkut manusia.

Adalah Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan Staat Spoorwagen (SS) yang mengembangkan jalur kereta api di Pulau Jawa. Mengutip Kereta Api.Info, perkeretaapian di Indonesia diawali pada 1864, di mana pemerintah Hindia Belanda membangun jalur kereta pertama kali dari Kemijen menuju desa Tanggung sepanjang 26 km dengan lebar sepur 1435 mm.

Pembukaan jalur tersebut menjadikan Indonesia, sebagai negara kedua di Asia yang memiliki jalan kereta api, setelah India. Menyusul jalur kereta api pertama tersebut, dilakukan pembangunan rel disejumlah tempat antara lain di Aceh (1874), Sumatera Utara (1886), Sumatera Barat (1891), Sumatera Selatan (1914), dan pada 1922 di Sulawesi juga telah dibangun jalan kereta sepanjang 47 Km antara Makasar-Takalar.

Batavia-Buitenzorg
Masih mengutip sumber sama yang, disebutkan cikal bakal jalur kereta rel listrik (KRL) di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) sendiri pembangunanya diawali oleh proyek Lintas Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor) yang dibangun oleh NIS. Kemudian, NIS menjual jalur tersebut kepada SS pada 1913 hingga kemudian pada 1925, jalur KRL pertama di Hindia Belanda dibuka dengan elektrifikasi lintas Bogor-Jakarta dengan tegangan 1500V (DC).

Disebutkan, penggunaan KRL bermula ketika lokomotif zaman Belanda dianggap sudah tak layak jalan dan kemudian digantikan oleh kereta listrik buatan Jepang pada 1976. Di sisi lainnya, disebutkan Kereta Api.Info, pemerintah Indonesia juga secara rutin mendapat hibah serta membeli sendiri rangkaian kereta listrik dari Jepang sejak 2000.

Sumber yang lain menyebutkan, seiring perkembangan laju transportasi berikut pengguna jalan, pemerintah pada saat itu melalui Departemen Perhubungan atau Kementerian Perhubungan, pada 1980an membuat jalur kereta api baru pada rute Jakarta-Bogor khususnya antara Stasiun Manggarai hingga Stasiun Jakarta Kota. Jalur kereta api melayang selesai dibangun pada 1992.

Alhasil, dengan adanya jalur melayang, jalur kereta api menapak yang menghubungkan Jakarta Kota hingga Manggarai (1876), kelak tidak dipergunakan lagi. Petak rel baru atau rel atas yang dioperasikan pada 1991, awalnya hanya dipergunakan untuk KRL ekonomi dan Pakuan Bisnis Jakarta-Bogor (PP), dan satu rangkaian KA Parahyangan PP. Hingga kemudian, pengoperasian KA Parahyangan dipangkas cuma sampai Gambir saja.

Sumber lainya menyatakan pada 1993, rel bawah antara Kota-Gambir resmi dicabut atau tidak dipergunakan, kemudian menyusul pada 1994 rel kereta antara Gambir-Manggarai juga dicabut. Disebutkan, saat kereta api masih beroperasi di jalur bawah atau menapak, KRL ekonomi sering ketahan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ) di Stasiun Cikini saat menuju ke Manggarai.

Yang Tersisa
Sisa jalur kereta api menapak tersebut, saat ini masih dapat kita jumpai di bawah jembatan kereta antara Stasiun Gambir menuju Stasiun Juanda. Tepatnya, sebelah sisi barat Masjid Istiqlal dan atau sebelah kiri Jalan Veteran; sebelah kanan jalur kereta ini adalah jalan bawah rel dari arah Pasar Baru dan juga Stasiun Juanda ke arah Stasiun Gambir yang melintasi sodetan Sungai Ciliwung di belakang Masjid Istiqlal.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Bersama sekitar 25 orang dalam rombongan Ngojak 18, pada Sabtu (10/11/2018), kami melihat sisa jalur kereta api menapak antara Stasiun Gambir dan Stasiun Juanda tersebut. Masih dapat kita lihat sisa dua jalur kerangka besi jembatan kereta api menapak, yang berdiri di atas Kali Ciliwung.

Sofyan dari Ngojak menyampaikan, meterial jalur kereta yang dibangun Belanda itu berasal dari Jerman. Salah satu dari jembatan kereta api buatan Belanda itu pada saat ini masih dipergunakan sebagai jembatan baik untuk orang maupun kenderaan roda dua dan empat.

Berdiri di atas sodetan Sungai Ciliwung pada jalur percabangan sebelum pintu air Istiqlal yang kemudian dipecah alirannya (ke kiri ke Harmoni dan ke kanan ke Jalan Gunung Sahari), sisa jembatan kereta api ini menjadi penanda dulunya terdapat jalur kereta menapak antara Stasiun Kota hingga Stasiun Gambir.

Meski sejumlah kerangka besinya telah keropos dimakan waktu serta cuaca, jembatan kereta api menapak di atas Sungai Ciliwung ini seolah menjadi bagian penanda bahwa sejarah tak bisa melulu dengan mudah diabaikan dan atau dilupakan.

Sumber:
Achmad Sofyan dalam Ngojak 18
https://megapolitan.kompas.com/read/2018/09/28/13482861/krl-jakarta-dari-era-belanda-hingga-hilangkan-tradisi-penumpang-di-atap
http://www.krl.co.id/

Sejarah Perkembangan Kereta Api Jaman Belanda Di Indonesia

Jalur Kereta Api Listrik – Commuter Line – Rute Jabodetabek

Martina prianti

Martina prianti (2)

Penikmat cerita dan tempat bersejarah.

%d blogger menyukai ini: