NgoJak, Aku Kangen Padamu Tak Karuan!

Rasanya baru kemaren saya mengenal komunitas ini, namun rasanya sangat lama sekali. Kenangan itu saya rawat, dan merawat itu butuh waktu dan perjuangan. Sesekali dalam sunyinya malam, saya memeriksa sendiri dengan segala indikator yang menurutku tidak berdiri sendiri, indikator kenangan soal komunitas yang bernama Ngopi (di) Jakarta. Apa kemudian yang kudapat pasca berpengetahuan di dalam menghayati situs sejarah, gejala sosial masyarakat dan harapan-harapannya, tidak lebih dari persahabatan tanpa curiga, persekawanan tanpa syarat, dan menjadi pribadi yang dewasa dalam menyikapi perbedaan dan persamaan. Sungguh jika ini diletakan bersama dalam kerangka berhubungan, berkomunikasi dan pertengkaran, mungkin dugaan saya di sana akan selalu hidup apa yang di namakan “persekutuan abadi”.

Betapa tidak sangat berharga, Jika orang berilmu dan berpengalaman yang berbeda-beda membentuk satu klan bicara, tukar ide, menjajakan hegemoni satu sama lain, sedih, bahagia, sesekali campur dendam karena kecewa, tetap saja masih eksis sampai hari ini. Sungguh, sangatlah indah. Ya sangat indah sekali. Itu saya, itu perasaan saya secara pribadi, dan mungkin kalian penghuni NgoJak bisa berbeda, saya sangat menghormati itu. Saya junjung tinggi kalian sebagai manusia, yang bagi pemahaman saya diciptakan Tuhan untuk saling menghormati, saling mengenal dan tentu sesekali saling kecewa.

Ngojak Dalam Beberapa Episode.

Saya bukanlah anggota resmi Ngopi Jakarta ini, saya mungkin bisa dikategorikan sebagai pembaca, tak lebih. Kalau toh pakai ukuran pengamat, saya tak punya indikator dan hati saya menolak dilabeli oleh pikiran saya sendiri ketika mencari-cari, saya di NgoJak ini cocoknya di wilayah apa, di dalam hal apa atau di sudut mana?

Namun, mungkin ada istilah menarik dalam bahasa Arab, sebut saja “Muhibbin”, Pecinta. Ya. Makna ini sangat cocok bagi saya yang berlatarbelakang orang desa, lulusan pesantren yang mengalami kehadiran dan perjumpaan dengan komunitas ini. Komunitas yang berada di ibukota Jakarta, pusat segala makanan, pusat segala informasi, kadang ada guyonan dari pedagang kaki lima, mereka berkata sambil menikmati rokoknya; “Cak Bash, di ibukota ini kalau ingin tertawa harus bayar, nonton komedi juga harus bayar, padahal dalam sudut tertentu kita ini sudah layak ditertawakan. Ya mentertawakan diri sendiri.

Di sanalah Ngopi (di) Jakarta alias NgoJak punya sisi lain dalam memandang, dalam memasang titik-titik tertentu. Kalau toh, ada yang harus bayar, misalnya loh ini, misalnya. Untuk membuat kebahagiaan harus bayar, maka NgoJak bukan dari madzab ini, sangatlah bukan. Mereka secara sukarela kangen dengan apa yang dinamakan pejalan kaki, langkah sunyi, jejak pengetahuan, solidaritas hati, dan dari sudah kepengen lagi, dari lagi, ditambah dan terus ditambah. Kadangkala di sini saya bicara batas, apa kemudian hari kalian duhai para komisaris papan atas NgoJak, punya batas akan segala cita-cita yang ideal untuk ditumbuhkan di jantung Jakarta itu. Ataukan hanya sebagai sisi lain, dinamika lain atau hanya aksi sepihak. Aku kira tidak itu semua. Kalian tidak sama sekali ada di dalam angan-anganku yang sangat kerdil, berisik dan bodoh ini.

Saya sangat salut dengan kalian, karena kalian tak mati di koyak sepi, kalian setia di garis yang kalian lakukan dan tak pernah mengeluh di depan massa.

Ngojak Dalam Harapan-harapan.

Kalau melihat dari pojok yang jauh, melihat anotomi sepak terjang dan daya nafas komunitas ini, tentunya komunitas NgoJak ini akan berumur panjang, kalau toh suatu hari bubar, mungkin akan dan akan sudah melahirkan generasi baru, hibrida baru. Kenapa saya bisa saya katakan itu, karena itu sebuah harapan-harapan. Ya. Selamat pagi harapan-harapan, senja dan harapan-harapan, dan mewaspadai harapan. Itulah kalimat yang kuulangi beberapa tahun terakhir ini, saya tidak akan cerita soal bagaimana dalam diskursus agama yang membicarakan soal harapan, istilah Arab namanya raja’.

Ini saya kira Reyhan bisa cerita sejarah harapan, situs harapan, filsafat harapan, kanan kiri harapan, di tengah harapan, kaya harapan, kebahagiaan harapan, yang harapan, bahkan keluarga harapan. Jadi kalau saya ditanya soal harapan-harapan, maka saya tidak bisa menjawabnya. Toh, siapa juga yang suruh saya nulis begini, apa motif saya, apa tujuan saya, apa maksud saya, saya juga tak tahu. Tapi inilah hidup, selalu tak terduga mungkin besok Mbak Asta jadi duta besar yang berkuasa penuh, Mbak Ruri jadi katalisator nisan se-Asia tenggara, Mbak Ika jadi tokoh filantrop Indonesia bersejajar dengan bos Mayapada, Mbak Nopi jadi Mentri KLHK, atau Dodo jadi sekertaris pribadi Emha Ainun Najib. Kanjeng Reyhan bersama istri punya padepokan yang mirip kastil di Eropa dekat pantai, Mas Bimo dan Mbak Diella jadi konsultan dewan pertimbangan Presiden dan Ali Jadi sesepuh desa.

Loh, kenapa kok mainstream-nya kekuasaan? Ini namanya juga harapan-harapan. Kan yang lebih penting daripada nganggur kayak begini kan merawat harapan. Semoga Para Peserta, Pencinta dan keluarga besar komunitas Ngopi (di) Jakarta alias NgoJak ini menjadi sebuah bangunan sejarah yang akan menginspirasi generasi masa yang akan datang, generasi yang lebih baik dari kita hari ini.

Selamat ulang tahun NgoJak, sebagai pecinta yang kadang suka dan duka, aku kangen padamu tak karuan.

Parakan, 4 Agustus 2021.
Hasan Bashori.

Tinggalkan Balasan