tokoh

Arswendo, Jurnalisme Lher, dan Gus Dur

Di bulan-bulan pertama menjadi wartawan di sebuah koran terbitan sore pada pertengahan 1990-an, redaktur perkotaan menugasi saya meliput perubahan kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Kawasan kumuh ini sebelumnya langganan banjir. Tapi kemudian berubah berkat sentuhan inspiratif lurah baru. Sukarta, asal Cirebon.

Setiap akhir pekan si Lurah biasa turun membersihkan got-got di kawasan itu secara bergilir. Lama-lama warga sungkan dan ikut membantu. Tak cuma got, sungai yang membelah kawasan itu pun ikut dibersihkan bersama-sama.

Hasilnya, setiap kali hujan air menggelontor di saluran tanpa meruah ke pemukiman. “Kalau hujan sangat deras dan lama, paling air cuma sampai bibir sungai. Enggak sampai meluap ke rumah-rumah,” ujar seorang warga.Selengkapnya »Arswendo, Jurnalisme Lher, dan Gus Dur

Yorrys, dari Premanisme ke Politik

Pada pertengahan 1990-an, sayup-sayup saya mendengar nama Yorrys TH Raweyai sebagai salah satu tokoh pemuda yang ditakuti. Dia disebut-sebut dekat dan disegani para preman di seantero ibukota. Karena itu ketika awal menjadi wartawan Tempo, 2001, mendapat tugas untuk mewawancarinya saya blingsatan bukan kepalang. Tapi untuk mengelak dari tugas, tentu haram hukumnya.

Nyatanya dia tak seangker yang dicitrakan. Rasa gemetar saat memencet bel dan memarkir Honda Kharisma di halaman rumahnya di kawasan Pejaten langsung luruh begitu berhadapan langsung dengannya. Dia ramah. Punya sense of humor yang baik.

Ketika dia mencalonkan diri sebagai Gubernur Papua Barat, Juli 2006, saya meliput aktivitas kampanyenya di Manokwari dan Sorong. Selama empat hari bergaul di sana, ada kalanya memang sisi keras dia muncul.Selengkapnya »Yorrys, dari Premanisme ke Politik

Deddy Dhukun, Rhoma Irama, dan Vanessa Angel

Kejutan itu bernama Deddy Dhukun (DD). Dia muncul di tengah acara halal bihalal SMALIX, Sabtu (29/6), seraya melantunkan Aku Ini Punya Siapa. Lagu ini dirilis pada 1987, dan membuat nama mendiang January Christy (JC) kian berkibar sebagai penyanyi jazzy.

Susah juga ternyata / Punya pacar bermata liar / Sering kali memalukan / Dibuatnya aku tiada berharga

Hampir semua teman yang hadir fasih betul dengan lagu ini. Hal itu tak cuma terlihat dari komat-kamit di mulut, juga terekspresikan dari gerakan tangan dan lenggak-lenggok kepala mereka. Saya juga sebetulnya hapal, karena pernah mengoleksi album tersebut. Diam-diam saya pun bersenandung dalam hati, karena lebih suka menikmati eskpresi dan keceriaan teman-teman. Kami yang sudah berusia separuh abad seolah tenggelam bersama ke masa lalu.

Sebelum lagu itu, DD dan Dian Pramana Putra menciptakan Melayang yang juga dinyanyikan JC. Majalah musik, Rolling Stone menobatkan “Melayang” sebagai satu dari “150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa”.Selengkapnya »Deddy Dhukun, Rhoma Irama, dan Vanessa Angel

Kisah Souw Beng Kong dan Makamnya

Saya tertinggal rombongan!

Karena suatu keperluan, saya harus mampir ke anjungan tunai mandiri (ATM). Saya memisahkan diri dari rombongan teman-teman NgopiJakarta atau Ngojak yang masih berjalan sekitar 50 meter dibelakang saya. Saat selesai, saya tidak menemukan satu pun dari mereka. Gawat! saya tertinggal rombongan.

Saya pun mencoba mencari keberadaan rombongan Ngojak, saya susuri sisi Jalan Pangeran Jayakarta yang mengarah ke Kota dengan berbekal nama tujuan kami saat itu, makam Souw Beng Kong.

Sabtu, 23 Februari 2019. Saya mengikuti kegiatan Ngojak offline yang bertajuk ”#Ngojak19 Kampung Toapekong dan Jayakarta; Selusur Cerita Tua di Tepian Ciliwung Lama”. Sebuah kegiatan penambah pengetahuan, terutama terkait sejarah yang terjadi di Kota Jakarta, yang kali ini memulai perjalanannya dari Stasiun Sawah Besar dan berakhir di Gereja Sion, Pinangsia, Jakarta Barat.Selengkapnya »Kisah Souw Beng Kong dan Makamnya

Selamat Jalan Suka Hardjana

Kemarin, Suka Hardjana wafat. Tokoh ini adalah salah satu tokoh penting musik Indonesia. Suka Hardjana jatuh cinta dengan musik saat sering melewati Kampung Musikanan di Yogya. Kampung yang dihuni pemusik-pemusik keraton ini menjadi gerbang Suka Hardjana belajar musik, dari Sekolah Musik Indonesia di Yogya, sampai ke Deltmold, Jerman. Sempat menjadi dosen di Konservatorium Musik der Freien Hansestadt di Bremen, ia akhirnya memutuskan pulang ke Indonesia.

Di Indonesia, ia akhirnya dikenal bukan hanya sebagai musisi, namun juga sebagai seorang kritikus, esais, dan nantinya berkembang menjadi seorang budayawan. Pengetahuannya yang sangat luas tentang musik, terutama, dan juga sosial, budaya, ekonomi, hingga politik, menjadikan esai, kritik, dan review musik karyanya terasa sangat dalam, namun sekaligus luas dan multidimensional.

Salah satu kiprah terpenting Suka Hardjana adalah ketika ia memprakarsai Pekan Komponis Muda dan Pekan Komponis Indonesia di Jakarta. Ide itu lahir dari keresahannya setelah bergabung dengan Dewan Kesenian Jakarta di tahun 1979. “Kompetisi” tersebut melahirkan nama-nama besar seperti Harry Roesli, Tony Prabowo, Nano Suratno, Otto Siddharta, sampai Trisutji Kamal. Dalam “Esai & Kritik Musik” dan “Corat-Coret : Musik Kontemporer Dulu dan Kini”, ia “mendokumentasikan” beberapa pagelaran Pekan Komponis yang ia saksikan langsung.Selengkapnya »Selamat Jalan Suka Hardjana

Arief Budiman : Setia Melawan “Bebas Nilai”

  • by

Ilmu sosial di Indonesia bersifat ahistoris, karena ia mengabaikan konteks kesejarahan di mana masyarakat Indonesia hidup. Para ilmuwan sosial kita cenderung mengimpor begitu saja teori-teori sosial yang mereka dapat dari Barat tanpa mempertanyakan keabsahannya ketika diterapkan dalam konteks lokal. Padahal, “ilmu-ilmu sosial tidak bebas nilai” dan “ilmu sosial itu sebelumnya merupakan satu ideologi imperialisme ekonomi.

Pernyataan tersebut sampai sekarang masih terdengar kurang nyaman bagi para akademisi ilmu sosial. Bukankah jauh lebih mudah membaca kebijakan Jokowi melalui kacamata Simon Kuznet, atau mengimajinasikan negara persis seperti apa yang dipaparkan Taqiyuddin Al-Nabhani?. Mengapa harus mempersulit diri dengan menambahkan pengetahuan struktur sejarah, politik, budaya, dan ekonomi lokal Indonesia yang minim sumber dan data yang rawan terdistorsi?.  Namun bagi seorang Arief Budiman, salah besar jika seorang akademisi, atau praktisi ilmu sosial, menutup mata akan banyaknya faktor subjektif. Konsep Bebas Nilai, yang pada dasarnya justru menjadi nilai tunggal, tentu tidaklah tepat. Ketika hanya ada satu jenis “nilai” yang dipergunakan di seluruh dunia, seperti yang dipromosikan modernis-modernis Barat, tentunya akan terbentuk hierarki nilai. Padahal manusia dan pola interaksinya sebagai bahasan utama dalam ilmu-ilmu sosial, tentunya memiliki nilai-nilai yang unik dan struktur-struktur yang membentuk karakteristik suatu sampel.Selengkapnya »Arief Budiman : Setia Melawan “Bebas Nilai”

Petani-petani Kendeng dan Kebebasan

Siapa yang Sedang Terpasung? 

Aksi Dipasung Semen Jilid 2 dan  pro kontranya, menggelitik saya untuk bertanya, siapa yang (sebenar-benarnya) sedang terpasung? Dan siapa yang (sebenar-benarnya) paling bebas?

Semen yang membungkus kaki dan membatasi aktivitas para petani, aktivis, dan relawan yang ikut dalam aksi itu mengingatkan saya kepada tokoh dua tokoh dalam roman “Jalan Tak Ada Ujung” (1952) karya Mochtar Lubis. Sebuah roman yang begitu rapih menyusun jalur penjungkirbalikan perspektif tentang kebebasan. Guru Isa, yang semasa fisiknya bebas, justru begitu terpenjara jiwanya karena kepengecutannya sendiri dalam mengambil keputusan. Ia hampir tidak memiliki keberanian dan selalu gagal dalam mengambil tindakan-tindakan revolusioner untuk pembebasan diri. Sementara Hazil, dikisahkan sebagai seorang aktivis yang selalu bergerak penuh kebebasan. Hingga pada suatu akhir perjuangan kedua orang tokoh itu sama-sama terpenjara secara fisik, keadaan yang kasat mata terlihat sama, namun justru menghadirkan refleksi yang berbeda. Dibalik jeruji besi, Hazil merasa terpenjara juga jiwanya.. Sebaliknya, Guru Isa menganggap keterpenjaraan fisiknya sebagai proklamir bagi kebebasan jiwanya: secara fisik terpenjara, namun jiwanya merdeka.Selengkapnya »Petani-petani Kendeng dan Kebebasan