kerja

Hidup (tidak) Serumit Pikiran Kita

Sebagai manusia yang meniti karir di kota metropolitan, saya terkadang merasa hidup ini begitu rumit. Serumit itu, bahkan untuk menikmati akhir minggu dengan tenang pun saya merasa ragu karena harus menyiapkan pekerjaan di hari Senin. Segala pikiran mengenai apa yang harus saya lakukan di hari Senin selalu menyapa ketika saya terbangun di hari Minggu. Padahal, hal-hal tersebut pada akhirnya baru akan dikerjakan di hari Senin dan pada dasarnya apa yang saya lakukan di setiap hari Senin adalah pengulangan dari Senin-Senin sebelumnya. Jadi, untuk apa saya pusing di hari Minggu?

Kebanyakan dari kita sibuk memusingkan hal yang belum terjadi, kebanyakan dari kita mengkhawatirkan hal yang belum terjadi. “Bagaimana jika di meeting hari Senin nanti saya dibantai oleh atasan?”, “Bagaimana jika data yang saya sajikan salah?”, “Bagaimana jika target saya bulan ini tidak terpenuhi?”, dan puluhan kekhawatiran lain selalu menyelimuti kita hampir di setiap hari, jam, menit, bahkan detik. Tidak bisakah kita duduk sebentar di teras depan rumah sambil ditemani secangkir teh atau kopi untuk menikmati akhir minggu tanpa harus memikirkan apa yang akan terjadi di hari Senin?

Tidak jarang juga kita dipusingkan dengan pemikiran orang lain. Kita sibuk mencitrakan diri supaya tidak dinilai buruk oleh orang-orang yang mungkin sebenarnya tidak sepeduli itu, kita sibuk menunjukkan kesibukan kita di media sosial, sibuk pula menunjukkan kebahagiaan yang kebanyakan hanya pencitraan supaya dinilai kita menikmati hidup kita. Untuk apa segala pencitraan itu jika pada akhirnya kita sendiri tidak menikmati?

Selengkapnya »Hidup (tidak) Serumit Pikiran Kita

Pekerjaan Itu Musuh, Sekaligus Teman Baik.

  • by

Bangun jauh lebih awal pagi ini. Sangat jarang terjadi di hari kerja. Gamang sesaat, kopi belum lagi terhidang. Akhirnya saya putuskan untuk tidak beranjak.

Keputusan yang jadi seperti mosi. Mosi protes terhadap diri saya sendiri, terhadap semua pekerjaan saya, kenapa semua begitu menyita waktu dan pikiran. Yang paling kuat berteriak adalah sisi diri saya yang begitu merasa dirugikan karena semua itu telah menjauhkan saya dari orang-orang yang saya cintai. Menjauhkan saya dari teman-teman yang begitu saya hargai, bahkan menciptakan musuh bagi diri saya. Ironis, sesuatu yang tidak pernah saya bayangkan, sesuatu yang mungkin adalah kebalikannya yang menjadi visi dalam pekerjaan pada awalnya. Terlebih untuk orang yang seperti saya, bekerja disini dan harus meninggalkan anak istri di seberang sana, sedikit sekali dan berharga sekali waktu untuk berkumpul.Selengkapnya »Pekerjaan Itu Musuh, Sekaligus Teman Baik.

Catenaccio Haram Jadah

Tim yang tidak bertahan dengan baik tidak memiliki banyak peluang untuk menang. Ucapan pelatih Chelsea, Jose Maurinho ini dilontarkan dalam sebuah kesempatan. Ia menanggapi strategi “Parkir Bus” yang belakangan ramai dibicarakan pecinta sepak bola. Terakhir strategi ini diterapkan Mou saat menaklukkan Liverpool di Anfiled pada ajang Liga Inggris akhir pekan lalu.

Strategi “Parkir Bus” juga digunakan Carlo Anceloti ketika Real Madrid mengalahkan Bayern Munchen kemarin. “Parkir bus” merupakan gaya permainan ultra defensif yang diadopsi dari Catenaccio, salah satu strategi sepak bola kuno. Kesamaan kedua strategi ini adalah sama-sama fokus ke lini pertahanan. Catenaccio sendiri sudah kehilangan konteksnya semenjak peraturan offside diberlakukan di Piala Dunia 1990. “Parkir Bus” diperagakan sebuah tim dengan cara menumpuk pemain di area kotak penalti sendiri agar tidak kebobolan . 7 hingga 9 pemain biasanya bertahan di area kotak penalti, bahkan pemain yang seharusnya berposisi sebagai gelandang dan penyerang juga ikut bertahan layaknya “bis yang terparkir”.Selengkapnya »Catenaccio Haram Jadah

Memaknai Kelezatan Sate Padang

Selain Sate Padang, adakah yang lebih nikmat disantap di kala cuaca basah seperti sekarang ini? Pertanyaan ini beberapa kali saya tanyakan pada diri sendiri ketika lapar mendera usai perjalanan kereta sore dari Bogor menuju Jakarta. Belakangan saya mulai menambahkan makanan asal Minang ini ke dalam daftar makanan wajib sebagai menu favorit, selain kopi hitam, mie goreng, soto paru, dan tentu saja teh tawar panas.

Namun kata “nikmat” di paragraf awal sepertinya harus dipertanggungjawabkan: pertama, apakah dagingnya tipis-tipis, jika iya, ini akan menjadi pertanyaan yang sama ketika kita mengajak orang lain untuk mencicipinya, Selengkapnya »Memaknai Kelezatan Sate Padang

Berburu “Beras” di Jakarta

Waktu duduk di bangku sekolah dasar, entah kelas berapa lupa lagi, saya mulai mengenal segitiga kebutuhan dasar manusia; sandang-pangan-papan. Baru-baru setelah dewasa, ada pula yang menambahkan bahwa kebutuhan dasar yang ke empat adalah seks. Segitiga berubah menjadi segiempat. Tapi semenjak tinggal di Jakarta, rasa-rasanya yang paling sering terdengar adalah pangan. “Kalau kami digusur, kami mau makan apa?,” begitu kata pedagang kakilima yang kena razia polisi Pamong Praja. “Kerja sih kerja, tapi jangan ngambil priuk nasi orang dong!,” kata seorang salesman obat yang langganannya diserobot rekan kerja. Atau sebuah bisikan yang paling dekat dan nyata, “Bung, pegang uang?, saya pinjam dulu ya buat makan, awal bulan saya ganti.”

Dalam keseharian, persoalan pangan telah menjadi urat nadi interaksi. Memang dalam gerak semesta kerja, urusan perut bukanlah satu-satunya yang dikejar, namun seringkali menjadi yang pertama, atau yang didahulukan. Selengkapnya »Berburu “Beras” di Jakarta