kerja

Jakarta dan Sebuah Impresi Kepada Seorang Kawan

Apa yang membuat kamu bertahan di Jakarta selain utamanya pekerjaan?

Berkali, bahkan saking sering pertanyaan itu mengendap di kepala, pertanyaan tersebut menjadi tidak lagi relevan. Pada akhirnya kita bicara tentang bertahan hidup, untuk terus menjaga kewarasan dan aktivitas mencari beras. Meski raga tergadaikan dan pemikiran terpinggirkan.

Misal hidup tidak menawarkan pilihan seperti itu, tidak ada suatu hal yang memaksa kita untuk bergulat dengan dunia. Makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, senggama tinggal senggama. Saya tentu saja tidak mau menyia-nyiakan sebagian besar hidup saya di kota Jakarta. Saya tak akan menjadi klise lain untuk menjalani hidup bersama orang-orang tergesa-gesa.Selengkapnya »Jakarta dan Sebuah Impresi Kepada Seorang Kawan

Manusia-Manusia Jakarta

Stasiun Gondangdia tiap pukul 18.30 selalu penuh sesak. Para pekerja kantoran yang menunda pulang untuk melaksanakan Shalat Magrib, naik tergesa menuju peron. Naas, kereta jarak jauh harus berangkat duluan. Kereta Bekasi dan Bogor harus antri di Stasiun Juanda. Dua puluh menit kemudian, orang-orang itu saling mendorong di pintu kereta. Mencari ruang setengah kali seperempat meter persegi sekedar untuk terangkut sampai Depok dan Bogor. Badan-badan lembab berdempetan, paling lama 1.5 jam, paling cepat setengah jam.

Tujuh ratus meter ke arah barat, kendaraan roda empat mengular dari Persimpangan Sarinah hingga Bundaran Senayan. Cahaya lampu, bunyi klakson, dan asap tak terlihat menguasai ruang. Empat kilometer ditempuh dalam 45 menit. Lagu-lagu pemuncak tangga lagu bergantian menemani. Diselang oleh candaan renyah dari penyiar radio kesayangan. Pembangunan-pembangunan fisik Jakarta memakan korbannya.

Terbayang oleh mereka wajah ceria anak-anak yang menanti di rumah. Senyum mengembang tanpa sengaja dikembangkan. Namun berganti cemas, membayangkan jika nasib buruk kembali datang ; anak-anak tidur sebelum ia datang. Tak ingin membunuh waktu dalam cemas, ponsel pun dibuka. Terlihat notifikasi surat elektronik dan pesan Whatsapp. Terbayang kembali sejak meletakkan sidik jari di mesin absen setengah jam lebih dari pukul delapan. Peristiwa pemeras otak dan otot silih berganti datang. Sampai hembusan nafas lega dan salam pamit pada rekan semeja.Selengkapnya »Manusia-Manusia Jakarta

Sol Sepatu

Siapa berani telanjang kaki ke pesta pernikahan mantan atau gebetan?

Sejak awal peradaban, alas kaki memang menjadi penghias, pelindung, juga sebagai penunjuk status sosial seseorang.  Sepatu tertua diketahui publik ditemukan di Fort Rock Cave, Oregon, negara bagian Amerika Serikat, pada tahun 1938.  Sepatu dengan anyaman sederhana dari jerami tersebut menurut penelitian radio karbon, setidaknya berusia lebih dari 10.000 tahun.  Ketika manusia mulai berkembang, mulailah ada penambahan unsur hewan seperti bulu kelinci atau kulit-kulit binatang buas. Ini dipercaya karena sifat magis yang dapat menambah kecepatan dan keberanian pemakainya.

Para pelaut Fenisia yang terletak di pesisir laut wilayah Timur Tengah lain lagi. Untuk menopang pelayaran, alas kaki mereka biasanya dibuat dengan model hak tinggi, perpaduan kayu dan kain dengan hiasana aneka aksesoris. Modis seperti ini juga mewabah di kalangan Mesir Kuno, Romawi, India, China, dan Babilonia yang lebih dulu mengenal sandal sebagai alas kaki. Bedanya mereka suka menambahkan mutiara, wewangian, serta pernak-pernik identitas lainnya sebagai jimat. Di era Renaissance, seorang pelacur Venesia sempat mempopulerkan sepatu kayu dengan ketinggian 30 cm dan kembali jadi tren tahun 70 dan 90-an.  Bahkan sepatu yang kita kenakan hari ini, tak lebih hanya adaptasi modern dari gaya di masa lalu.Selengkapnya »Sol Sepatu

Pamit

Source: here

Jumat pekan yang lalu, saya pulang cepat dari kantor. Memang pekerjaan di hari itu sudah habis, bahkan hampir separuh waktu saya di kantor malah dihabiskan untuk menulis makalah yang hendak saya lombakan, kuliah daring, hingga numpang tidur siang. Saya menemani teman saya yang harus mewawancarai seorang narasumbernya di mall seberang kantor. Pokoknya, di hari itu, saya benar-benar kosong melompong.

Namun, hari yang kosong itu tidak membuat pikiran saya kosong. Sewaktu meninggalkan kantor, tak jauh dari lokasi saya terjebak macet akibat kereta yang lewat, saya mendengar suara yang mengejutkan sekali.Selengkapnya »Pamit

SAR.JA.NA

“Semakin tinggi sekolah, bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. HARUS SEMAKIN mengenal batas” ~ Pramoedya Ananta Toer

Jangan menduga saya tahu quotes keren di atas dari hasil membaca buku-buku Pram (biar akrab), tapi karena saya lihat tulisan di jalanan. Entah saya dan mereka yang nulis hal itu di jalanan punya kegelisahan yang sama atau enggak? Enggak tahu juga. Tapi daripada tebak-tebak buah manggis dan nanti kita berujung ke pantun, mendingan hiraukan saja sekelumit pemikiran gak penting barusan. Saya menemukan tulisan ini selagi mencari hiburan murah pembunuh waktu masa kini yaitu salah satu diantaranya adalah instagram-an, yang lebih murah? Banyak! Ngelamun, maenan ludah, nontonin bayangan, ngomelin anak orang yang maenan petasan, masih mau disebutin lagi? Gak usah yah.Selengkapnya »SAR.JA.NA

Jakarta dan Hal-hal yang (Tak) Terlupakan

 

Jujur saja, sebenarnya beberapa hari ini saya belum memiliki niat untuk menulis tentang Jakarta yang mana baru saja melangsungkan hajatan sederhananya setelah dia bertambah usia. Huh! Tambah tua saja kota ini. Itulah gerutu saya ketika kemacetan sedang mendera saya di tengah jalan, ketika baru saja pulang kantor dan orang-orang sedang sibuk membeli makan untuk berbuka puasa.

Memang benar kalau orang bilang ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Saya sudah membuktikannya. Ketika saya masih berada di Bandung, jarak tempuh dari tempat tinggal ke kampus masih bisa diprediksi. Sementara hidup di Jakarta, saya harus menambah durasi minimal satu jam untuk menempuh ke tempat tujuan, semisalnya saja kantor. Kadang saya berpikir, ini pula yang dilupakan oleh orang-orang yang hidup di kota besar seperti Jakarta: mereka akan menua di jalan-jalan Jakarta yang penuh sesak dan peluh ini.

Apalagi kota yang dipimpin oleh Ahok ini baru saja mendapatkan anugerah yang paling prestisius di dunia: Kota Termacet Sedunia. Tidak mengherankan apabila sepuluh atau dua puluh tahun yang akan datang, Anda yang berjalan kaki juga akan ikut terkena macet. Awalnya, saya pikir ini hanyalah kesalahan manajemen dari pemerintah, tetapi setelah menjalaninya sendiri mungkin saya kehilangan satu jejak baru: masyarakat yang egois.Selengkapnya »Jakarta dan Hal-hal yang (Tak) Terlupakan

Karena Kita Tidak Bisa “Ganti Server”

  • by

Hari jumat selalu jadi hari yang menyenangkan buat saya, seperti puncak jam kerja yang panjang di kantor. Jadi momen yang melegakan, dengan catatan semua beres di hari itu. Kalau mesti berurusan dengan banyak hutang kerjaan besoknya, apalagi besoknya lagi juga, enggak akan menyenangkan. Kenapa? karena besok dan besoknya lagi itu weekend. Waktu paling pas untuk istirahat. Sebenarnya istirahat kita itu tidak terlalu banyak juga, karena pada dasarnya otak kita terus kerja, bahkan saat kita tidur.  

Saat tidur, otak kita tetap bekerja dengan mengatur semua metabolisme tubuh. Buktinya adalah kita membuang kalori sampai sekitar 600 kalori. Itu sepadan dengan kalori dari 3 mangkok mie ayam. Otak kita itu super pintar, bahkan pada saat kita sedang tidak ingin menggunakanpun dia tetap bekerja. Otak itu seperti server dari tubuh kita. Saat kita rehat dia men-defrag, men-disk clean up, memonitor tubuh kita. Itulah kenapa tidur yang cukup sangat baik buat tubuh kita, artinya kita kasih cukup waktu di server tubuh kita untuk recovery system tubuh. Bayangkan kalau kita baru tidur satu atau dua jam terus harus bangun lagi untuk beraktifitas. Itu sama saja seperti kita suruh orang untuk beres-beres dalam waktu singkat. Kalau tidak terlalu berantakan bisa saja selesai dengan cepat, tapi kalau ada kerusakan besar ya tidak mungkin akan beres. Banyak tertinggal kerusakan lainnya di sana-sini. Kalau itu berlangsung terus menerus akan semakin banyak sisa kerusakan sampai kita benar-benar punya waktu buat full recovery. Kalau tidak sempat-sempat ya sudah… DEVICE ERROR!

Selengkapnya »Karena Kita Tidak Bisa “Ganti Server”

Dilarang Berkerut

Rekan saya sedang mengeluh betapa susahnya menyusun kalimat pada paragraf pertama sebuah tulisan. Sebagai pekerja paruh waktu, ia kerap ditagih setoran artikel oleh atasannya yang bawelnya minta ampun. Padahal bukan kali ini saja ia mengalami hal serupa. Sejak surat kabar tempatnya bekerja beralih fungsi menjadi media daring pada awal November tahun lalu, ia menjadi kutu loncat sebagai kuli tinta di berbagai ranah. “Sekalian fokus nyelesein buku nih, bro,” ujarnya. Anehnya, keluhan soal paragraf pertama tersebut cukup lancar ia sampaikan lewat tombol-tombol papan ketik dari gawainya yang keren itu.

“Gila. Lu ngeluh sulit nulis di paragraf awal, sementara bilangnya aja lebih satu paragraf lewat WhatsApp,” hardik saya geram.Selengkapnya »Dilarang Berkerut