urban

Sembuh dari Sunyi

Sebenarnya saya tidak ingin menjadi hipster dengan mengutip sepotong lagu Dewa, justeru ketika Dhani sedang direcoki khalayak sosial media untuk menunaikan “janjinya”. Sengaja saya kasih tanda kutip sebab ada juga pendapat yang menyebutkan bahwa sesumbar Dhani itu hanyalah hasil kreasi moda ranah editan. Namun begitulah, akhirnya saya kutip juga liriknya :

Di dalam keramaian aku masih merasa sepi, sendiri memikirkan kamu

Kalimat paradoks tersebut menguar menembus station kereta api, terminal bus, bandara, pelabuhan, dan jalanan jahanam yang kerap memakan para pengendara roda dua. Mudik telah berdiri di tubir titik didihnya yang paling riuh; berbondong-bondong dan dirayakan. Jika sejengkal dari kata “mudik” ada pertanyaan, maka saya hendak menawarkan; “demi apa mudik itu?”

Dari kuliah subuh di mesjid kampung ternyata jawabannya tidak rumit, agama menyediakan kata “silaturahim”. Dan kata tersebut tak main-main faedahnya, katanya dapat memperpanjang usia dan meluaskan rejeki. Namun saya tak hendak berjejak di ranah ini. Ada setapak lain yang coba saya catatkan.Selengkapnya »Sembuh dari Sunyi

A Short Story from Angkot yang Ngetem

Setelah turun dari commuter line, saya berjalan kaki menuju angkot yang ngetem di ujung jalan. Beberapa angkot berbaris tak rapi. Karena memang tidak dipersiapkan untuk itu. Terdengar suara riuh beberapa orang di dekat pintu sopir pada angkot yang parkir paling belakang.

Saya berjalan mendekat ke angkot tersebut. Dan memilih duduk di jok depan, samping sopir. Kebetulan angkotnya masih belum ada penumpang. Jadinya saya bebas memilih, dong. Lalu, secara terpaksa, saya pun mendengar pembicaraan sopir angkot ini dengan teman-temannya (yang diduga sopir juga).

Satu sama lain saling menyahut cepat. Terdengar heboh dan seru. Sepenangkapan saya, mereka sedang bercerita tentang seorang ibu yang melahirkan dalam angkot yang sedang berjalan. Hm, kira-kira begini…

Selengkapnya »A Short Story from Angkot yang Ngetem

Menikmati Bakso di Musim Hujan

Sore yang gerimis di pinggiran sebuah ruko, beberapa pengendara sepeda motor mulai berteduh meminggirkan kendaraannya. Rintik yang mulanya percikan saja, kini semakin deras. Tak ketinggalan para pedagang menyelamatkan diri dari guyuran air yang disertai angin. Jakarta seketika gelap. Segalanya berlangsung cepat ketika saya dan seorang kawan memesan bakso. Dalam suasana hujan seperti ini, satu kenikmatan telah hadir. Beberapa orang pun ikut memesan. Kadang saya sedikit sombong, tentu saja seraya mendo’akan, semoga benar karena kehadiran kami baksonya ini bisa laris manis.Selengkapnya »Menikmati Bakso di Musim Hujan

Surat untuk Hisanori Kato

Kato San yang baik,

Apa kabarmu sekarang?. Sejak terakhir kali kita bertemu di Transjakarta arah Tanjung Priok itu, rasa-rasanya waktu telah melebarkan sayapnya. Belum berlalu lama tentu saja, tapi sejak pertemuan terakhir di tahun 2011 itu, jarak yang membentang telah membawa saya ke warung roti bakar sendirian. Tak ada lagi obrolan-obrolan kita yang membicarakan banyak hal. Penjual roti bakar pun kini telah berganti, dan mulai sepi pengunjung. Apa yang kamu khawatirkan perlahan mulai menjadi kenyataan, selain anak-anak muda, orang-orang tua yang dulu sering kita jumpai pun mulai beralih ke convenience store yang lampunya menyala terang hampir menyilaukan mata. Benar katamu, apa enaknya melakukan transaksi jual beli hanya dengan bantuan mesin pembaca barcode, dan menerima  ucapan “terima kasih” dari pelayan yang tanpa ekspresi?.Selengkapnya »Surat untuk Hisanori Kato

Odong-odong dan Bidadari

Waktu adik saya masih kecil, dia gemar mendengarkan Tasya menyanyikan lagu anak-anak ciptaan Abdullah Totong Mahmud. Album Libur Telah Tiba diputar berulang-ulang hampir tiap hari, dia selalu ikut bernyanyi dan hapal semua lagu di album tersebut. Masa kecil yang ceria. Lalu waktu seperti datang tergesa, kini adik saya telah masuk kuliah, Tasya sudah besar, A.T. Mahmud telah berpulang, dan lagu anak-anak pun ikut menghilang. Generasi berganti, dan yang baru telah datang.

Selengkapnya »Odong-odong dan Bidadari

Wangi Hujan

Saya menyukai aroma tanah sehabis hujan, saat bola-bola air masih menggantung di kabel telepon dan pucuk daun. Itu saat yang tepat bagi dua ekor burung untuk terbang menyobek pemandangan awan. Beberapa waktu sebelumnya, angin berhembus kencang, lalu air berebut mencium bumi, melepaskan rindunya. Hari-hari belakangan ini, kerinduan air tumpah juga di Jakarta. Langit kelabu hampir sepanjang waktu. Jalanan becek, dan orang-orang mulai pandai mengumpat.

Arsiran hujan samar-samar terlihat dari jendela kantor yang dikuasai hawa gigil dari pendingin ruangan. Suara klakson dan derum mobil terdengar bersahutan dari jalan raya yang ditawan kemacetan. “Tanabang, Tanabang, Tanabang!,” kondektur bus kota berteriak lantang merayu calon penumpang. Pejalan kaki yang tanpa payung bergerak tergesa. Para pencopet mungkin tengah bersiap melancarkan aksinya. Berlima, berenam, atau bahkan bertujuh; mereka siap memangsa penumpang bus yang kurang waspada.

Adzan ashar hampir dua jam telah lewat, dan hujan membawa kelam yang datang lebih cepat. Komputer sudah dimatikan, tapi kerja belum selesai, dia menagih jatah lagi esok hari. “Pulang Bung, sudah sore,” kawan sebelah hanya mengangkat jempol, pandangannya masih tertuju pada rumus excel. Ada pula suara Benyamin dan Ida Royani dari speaker meja yang lain. Yang punya meja masih sibuk menghitung biaya kuli bongkar muat yang laporannya baru sampai dari kantor cabang. Lamat-lamat memang, tapi saya hafal betul liriknya.Selengkapnya »Wangi Hujan