urban

Membaca Jakarta bersama Ngojak, dari Cikini hingga Salemba

Halo 2018!

Senang bisa berjumpa denganmu.

Semoga banyak pula kesenangan yang bisa saya jumpai di tahun ini.

Seperti kesenangan saat mendengar kabar bahwa kegiatan Ngojak offline akan kembali diadakan. Suka cita saya mendengar kabar ini. Butuh waktu 84 hari menunggu dalam rindu agar saya bisa kembali ikut merasakan kesenangan mengenal kota Jakarta tercinta. Membaca Jakarta, melalui kegiatan Ngojak offline yang kali ini mengambil tema “#Ngojak11 – Cikini; Bentrok Ideologi di Kampung Juang”.

Ngojak offline adalah sebuah kegiatan kopi darat yang diinisiasi oleh para pegiat apresiasi kehidupan kota. Kehidupan yang mencakup ruang, sejarah, budaya, tradisi, lingkungan dan manusia. Para penggiat ini memfokuskan kegiatan mereka di kota Jakarta, mereka menamakan diri dengan nama Ngopi Jakarta atau Ngojak.Selengkapnya »Membaca Jakarta bersama Ngojak, dari Cikini hingga Salemba

Pages: 1 2 3 4

Refleksi Awal Tahun; Jangan Berhenti Membaca Jakarta

Menyeragamkan cara pikir adalah mustahil, alih-alih menuntut orang lain bertindak seperti yang diinginkan tanpa penjelasan, itu jauh lebih tidak mungkin. Bagaimana sebuah kota dapat memberikan hal layak, juga baik, bagi keberlangsungan hidup orang-orang di dalamnya tanpa adanya apresiasi. Entah itu terhadap historinya, budaya yang dilakoni oleh masing-masing kelompok, lingkungan sekitar, hingga pada proses membangun interaksi sosial antar individu.

Sejak memutuskan untuk mengikuti aliran Cilwung setahun silam yang berawal dari perjalanan ke Karadenan pada bulan Agustus 2016, Ngopi Jakarta terus mencoba menggali apa saja yang bersinggungan dengan entitas keberadaan manusia-manusia di Jakarta. Tak hanya membahas keberadaan ruang -dan transformasinya karena kapitalisasi kota, tuntutan modernisasi, tapi juga mencoba melakukan pendekatan makna. Meyakini bahwa Ciliwung adalah salah satu saksi perubahan tingkah laku warga kota. Jika dulu warga di Kampung Makasar masih bisa menikmati aliran Ciliwung yang jernih, mengapa saat ini mereka terus mengeluhkan bau limbah dan waswas akan meluapnya air saat musim hujan. Atau warga Kampung Tanah Rendah di Jatinegara dan kampung-kampung lainnya di Jakarta, yang seakan sudah tak tahu lagi bagaimana cara untuk mendapatkan air bersih dengan mudah, dan murah.Selengkapnya »Refleksi Awal Tahun; Jangan Berhenti Membaca Jakarta

Doa dan Harapan dalam Sepiring Nasi Goreng

  • by

Seberapa besar pengaruh menu sarapan pada harapan dan doa untuk aktivitas pagi hari? Cerita ini adalah secuil harapan ibu kepada seorang anaknya untuk menikmati sepiring nasi goreng dijadikan menu sarapan di pagi hari.

Hari minggu saya memang tidak ada rencana kemana-mana. Saya hanya merebahkan badan di kamar; meluruskan tulang; relaksasi otot sambil melakukan hal-hal kecil; baca buku dan baca status media sosial tentunya. Mata mulai redup saat buku yang saya baca telah sampai menjorok ke tengah. Alunan rintik-rintik air dan bau tanah sisa hujan tadi pagi membawa pada rasa kantuk sisa semalam.

Alih-alih tertidur, mata berbinar seketika saat perempuan paruh baya datang dan sodorkan nasi goreng hangat. Di luar, hujan mulai lagi. Bau tanah sisa hujan semalam hilang terhapus oleh hujan yang baru. Hujan yang intensitas pelan namun konsisten menahan orang-orang kampung beraktivitas.Selengkapnya »Doa dan Harapan dalam Sepiring Nasi Goreng

Filosofi Ngopi Sebelum Filosofi Kopi

Jauh sebelum Dewi Lestari menulis Filosofi Kopi, orang-orang sudah mencari makna di balik kegemaran mereka minum kopi, atau yang lebih akrab di telinga kita dengan istilah ‘ngopi’.

Ngopi sejatinya tak sekadar minum kopi. Penyederhanaan istilah ‘minum kopi’ menjadi ‘ngopi’ justru menunjukkan kompleksitas kegiatan tersebut.

Ada yang menganggap ngopi sebagai keisengan untuk mengisi waktu luang. Saya kurang setuju. Mereka yang sedang ngopi bisa jadi malah sedang fokus berpikir, merenung, bertukar ide, atau mencurahkan isi hati.

Ada relasi yang sedang mereka bangun, entah dengan dirinya sendiri atau orang lain.

Saat ini ngopi sudah menjadi gaya hidup. Di tempat kerja saya, beberapa teman membawa kopi dari berbagai jenis dan merek. Ada kopi Gayo, Lampung, Sidikalang, dan Toraja. Teman-teman yang fanatik tahu bedanya kopi-kopi itu, tapi di lidah saya semua nyaris sama. Maklum, saya tahunya cuma kopi Liong.

Kalau baru pulang liburan, sering mereka membawa oleh-oleh kopi asli dari kota yang mereka kunjungi. Dan beberapa hari kemudian, perbincangan di antara teman-teman tak jauh-jauh dari kopi tersebut. Sembari beristirahat di sela-sela pekerjaan, mereka saling mencicipi kopi itu.Selengkapnya »Filosofi Ngopi Sebelum Filosofi Kopi

Lima Lagu Tentang Jakarta

Jakarta (dan banyak kota besar lain) adalah magnet yang sangat besar untuk orang-orang daerah yang mempunyai anggapan classic rock akan harapan kehidupan yang lebih baik. Sesaknya tiap-tiap ruang yang ada di Jakarta tak lepas dari orang-orang urban semacam ini. Jakarta bagai laut yang menampung muara anak sungai yang mengalir ke sana, ada banyak riak juga keruh berkelindan bersamanya. Kota yang diumpati seribu umat.

Meski begitu, seberapapun seringnya kita misuh-misuh tentang Jakarta, nyatanya Jakarta tetap ada dalam sudut hati yang paling tak terjamah. Jika kalian meninggalkan kota ini, katakanlah sedang tugas di luar kota atau hal lain yang membuat kalian meninggalkan kota ini untuk beberapa waktu. Pada akhirnya rindu terlarang itu datang juga. Kalian mulai merindukan macetnya, berdesakan dengan orang-orang di KRL, atau juga pemandangan warung pinggir jalan yang memakan ¾ badan jalan. Untung saja Jakarta bukanlah kota yang buruk-buruk amat untuk membuat bungah, meski dalam kadar yang tak pernah benderang. Untungnya lagi, dalam suasana seperti itu masih ada seniman yang membuat karya mengenai kota Jakarta. Ini adalah deretan lima lagu tentang jakarta yang mungkin bisa mengobati rindu terlarang kalian jika sedang tidak di Jakarta. Jakarta adalah paradok itu sendiri, kota yang menawarkan harapan lebih baik di samping kemiskinan yang tidak lebih baik.Selengkapnya »Lima Lagu Tentang Jakarta

Lelaki Muslim yang Menjaga Klenteng

Seperti lazimnya gang-gang di Jakarta, Gang Padang di Jatinegara ini bentuknya tak jauh berbeda. Memiliki lebar tak lebih dari satu mobil, berdinding semen kasar, dan rumah-rumah yang rapat tiada jarak. Dua bapak-bapak duduk di depan rumah. Bercerita, mengepulkan asap rokok, dan tersenyum ketika saya menyapa. Tak jauh dari mereka, di salah satu sudut gang, bangunan serba merah dan kuning nampak kontras di antara abu-abu tembok.

“Yayasan Bio Shia Jin Kong” tertulis rapi dengan cat warna kuning di bawah huruf-huruf Mandarin yang berwarna merah terang. Sesaat sebelum masuk lebih jauh, harum dupa telah menyambut hidung dengan tegas. Saya membuka alas kaki dan langsung duduk bergabung dengan teman-teman Ngopi Jakarta lainnya.Selengkapnya »Lelaki Muslim yang Menjaga Klenteng

Bersenyawa dengan Pedagang-pedagang Malam

Bersenyawa dengan Pedagang-pedagang Malam. Menziarahi kota dengan ‘navigasi’ yang jelas menghantarkan perasaan senang juga takjub. Kota, dengan tampilan ke-desa-desa-an menjadi sisi lain yang unik di tengah mall-mall dan gedung-gedung tinggi menjulang.

Keunikan itu hadir bukan dari acara yang diisi oleh artis-artis ibu kota atau ibu-ibu sosialita yang bergaya lenggang lenggok di sudut-sudut kota, melainkan kota yang serius merawat “kesemerawutan” lokalitas suatu tempat. Pendek kata, kota yang merawat ke-tradisional-an suatu objek akan menjadi destinasi yang menarik bagi para pengunjung.

Suatu malam yang dingin itu, kami menjelajahi sisi Barat Kota Tangerang dari tempat saya bermukim saat ini. Tempat itu tidak lain adalah pasar. Ya, tempat yang saya jelajahi bersama teman-teman itu adalah Pasar Lama Tangerang. Pasar Lama yang dipenuhi kuliner, cemilan dan jajanan tersedia pada malam hari saja. Menurut teman sekaligus saya menyebutnya local guide, tempat-tempat yang asik dan ramai dikunjungi oleh pengunjung. Ya, Pasar Lama Tangerang jika pada waktu subuh sampai siang hari menjadi rujukan warga Tangerang untuk jual-beli dagangan. Secara tidak langsung, di Pasar Lama geliat perekonomian sangat terasa. Pagi, siang, sore dan bahkan malam hari pun masih ramai dari aktivitas jual-beli.Selengkapnya »Bersenyawa dengan Pedagang-pedagang Malam

Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai

Minggu ini sebenarnya kurang cocok untuk bernostalgia. Jiwa raga saya banyak tersita untuk urusan masa depan. Membuat banyak perencanaan, untuk rumah tangga dan terutama untuk kepentingan perusahaan. Angka-angka dalam konteks pendapatan, biaya, cicilan, sampai ke perjanjian penjualan dan rebate fee klien, hadir sejak Senin pagi. Yang saya lakukan persis seperti apa yang saya kritisi di tulisan sebelumnya tentang “Manusia Jakarta” yang hidupnya banal dan sempit waktu. Tidak cukup waktu dan/atau kemampuan untuk membaca, baik buku, ataupun kehidupan. Pergi pagi pulang malam, tidur sebentar untuk kemudian berangkat lagi pagi hari berikutnya.

Namun obrolan di grup pegiat inti Ngojak, atau tertasbihkan dengan nama Grup Komisaris Ngojak, akhirnya sukses menjadi rem yang pakem untuk saya, manusia Jakarta yang meluncur mengikuti arus deras yang memabukkan ini. Obrolan membuat saya merasa harus kembali ke 12 November 2016. Tepatnya ke Ngojak #3, yang berjudul Jakarta, Sebuah Awalan. Perjalanan ini ternyata belum tercatatkan oleh siapapun.Selengkapnya »Awal Mula Jakarta, Manusia dan Sungai