urban

Jakarta dan Sebuah Impresi Kepada Seorang Kawan

Apa yang membuat kamu bertahan di Jakarta selain utamanya pekerjaan?

Berkali, bahkan saking sering pertanyaan itu mengendap di kepala, pertanyaan tersebut menjadi tidak lagi relevan. Pada akhirnya kita bicara tentang bertahan hidup, untuk terus menjaga kewarasan dan aktivitas mencari beras. Meski raga tergadaikan dan pemikiran terpinggirkan.

Misal hidup tidak menawarkan pilihan seperti itu, tidak ada suatu hal yang memaksa kita untuk bergulat dengan dunia. Makan tinggal makan, tidur tinggal tidur, senggama tinggal senggama. Saya tentu saja tidak mau menyia-nyiakan sebagian besar hidup saya di kota Jakarta. Saya tak akan menjadi klise lain untuk menjalani hidup bersama orang-orang tergesa-gesa.Selengkapnya »Jakarta dan Sebuah Impresi Kepada Seorang Kawan

Menilik Museum Santa Maria Bersama Ngojak

Dibalut kain kerudung berwarna cokelat, tak terlihat sehelai pun rambut di kepalanya.
Mimi Kartika, demikian namanya, datang ke Museum Santa Maria bersama sekitar 25 orang dalam rombogan Ngojak 18 pada Sabtu siang (10/11/2018).

Museum Santa Maria di Indonesia? Di mana? Museum Santa Maria berdiri di Jalan Ir.H.Juanda Nomor 29, Jakarta Pusat. Persisnya, berada dalam sekolah sekaligus terdapat kompleks biara Santa Ursula di Jalan Juanda, tak jauh dari Stasiun Juanda.

Ekspresi serius terlihat mulai mengisi wajah wanita berusia 23 tahun asal Tangerang ini saat mulai memasuki ruangan pertama Museum Santa Maria. Ruang Angela yang berisi sejumlah gambar dan barang terkait kedatangan tujuh (7) orang Suster Ursulin pertama ke Indonesia atau Hindia Belanda pada 7 Februari 1856. Salah satunya, miniatur Kapal Herman yang membawa ketujuh Suster Ursulin dari Komunitas Sittard Belanda melalui Pelabuhan Rotterdam pada 20 September 1855.Selengkapnya »Menilik Museum Santa Maria Bersama Ngojak

Menjelajahi Pasar Baru

Sekitar 40 orang sudah berkumpul di depan pintu keluar Stasiun Juanda, Jakarta Pusat sejak pukul 08.30 WIB. Mereka datang dari berbagai latar belakang yang berbeda. Tetapi berkumpul menjadi satu untuk mengeksplor bersama Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh komunitas bernama Ngopi Jakarta (NgoJak) ini memang rutin dilakukan sebulan sekali. Destinasinya pun selalu berbeda-beda. Tujuannya untuk melihat ruang-ruang publik yang ada di Jakarta dan belajar bersama mengenai sejarah suatu tempat.

Kali ini destinasi yang dituju adalah Pasar Baru. Perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menuju kantor berita Antara, Jalan Antara Nomor 24, Pasar Baru, Jakarta Pusat. Selengkapnya »Menjelajahi Pasar Baru

Tujuh Jam di Pasar Baru

Kalau bicara soal Pasar Baru, yang melintas di pikiran saya adalah toko bahan pakaian, toko sepatu lawas semacam Bata & Buccheri, tempat bikin jas yang terkenal sejak dulu kala, dan jajanan kaki lima yang enak-enak. 😀

Kemarin, bareng Ngopi Jakarta (Ngojak), saya dan Embun jalan-jalan keliling Pasar Baru dan sekitarnya, dari pagi sampai sore. Dari wangi sampe kuyup. Dari laper, kenyang, laper lagi, kenyang lagi. Dari asing jadi sayang.Selengkapnya »Tujuh Jam di Pasar Baru

Asian Games 1962 Dalam Jejak

Perhelatan Asian Games 2018 di depan mata. Indonesia, Jakarta pada khususnya, bersolek rupa. Mendempul wajahnya dengan berbagai kosmetik agar terlihat jelita di panggung Asia. Trotoar diperlebar, bangunan dicat warna-warni, jalan raya turut dipermanis jua. Bahkan, saking hingar bingarnya menyambut perhelatan Asian Games 2018, aksi saling ledek cebong dan onta meramaikan jagat dunia maya.

Di balik keramaian tersebut, tak rugi rupanya jika kita menengok ke belakang ke tahun dimana Asian Games pertama kali dilaksanakan di Indonesia. Bersama dengan komunitas Ngopi (di) Jakarta, saya menelusuri jejak – jejak ingatan di tahun sembilan belas enam dua.Selengkapnya »Asian Games 1962 Dalam Jejak

Jakarta Kota Tahi

Banyak yang tidak mengetahui bahwa kota lama Batavia sesungguhnya dibangun atas dasar sebuah konsep seorang arsitek bernama Simon Stevin (1548-1620) yang bekerja untuk militer Kerajaan Belanda. Skema ideal, itulah yang dirancang Simon dalam perencanaan tata kota Batavia. Sebagai seorang kepercayaan Prins Maurits, seorang panglima milter Belanda berjuluk Pangeran Oranye, Simon mengawinkan pengetahuan mengenai kota, teknis enjineering yang dikombinasikan dengan ilmu kemiliteran. Konsep ini berpijak pada konsep dasar kota Romawi yang mengandalkan pertahanan dan mobilisasi militer. Simon lantas memadukannya dengan aspek perdagangan dan aspek sipil. Semuanya didesaian secara hirarkis dengan menempatkan aspek-aspek tersebut di wilayah yang strategis. Hal ini pula yang menjadi andalan Kerajaan Belanda dalam membangun kota jajahan lainnya di seluruh dunia seperti di Srilangka dan Suriname. 1

Batavia kemudian dirancang oleh Simon dengan cara seperti negeri asalnya, Belanda, yakni dengan membelah kota menjadi dua bagian dan menemukannya dalam titik lintas pelayaran. Sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit dan tembok yang ditopang oleh benteng-benteng kecil. Di dalamnya terdapat jaringan jalan beserta terusan air yang lurus. Dalam hal ini Ci Liwung yang berkelok kemudian diluruskan menjadi Groote Rivier (Kali Besar) dan memaksa kota menjadi dua bagian, sisi timur dan sisi barat. Namun kota ini jika dilihat dari peta-peta yang ada, tidak berada di garis lurus utara-selatan, tetapi agak melenceng beberapa derajat menjadi timur laut-barat daya.Selengkapnya »Jakarta Kota Tahi

Bakteri Coliform dalam Segelas Kopi, Mungkinkah?

Segerombol anak kecil berusia sekolah berlarian menyeberangi jembatan, yang memisahkan dua kampung berisikan rumah-rumah berdinding tepas yang tampak berderet di kedua sisinya. Begitu melintasi gapura berwarna merah pada jalan masuk kampung, yaitu hasil dari sponsor perusahaan kopi lokal, terlihat berbagai macam aktivitas sederhana yang dilakukan warga. Mulai dari mencuci baju, memberi makan ayam atau bebek peliharaan berjumlah ala kadarnya, dan sebagian lainnya memilih sibuk memasak untuk dikonsumsi oleh keluarga atau dijual kembali pada usaha warung makan yang dimiliki.

Sebelum sebuah hotel berbintang lima yang berada tepat di sekitaran Tugu Tani dibangun, diperkirakan pada akhir tahun 1970an, pinggiran Ciliwung daerah Kwitang telah mulai dipadati pendatang dari Madura. Para perantau menetap bersisian dengan aliran Kali Ciliwung, membangun petak rumah berdinding kayu dan papan, beratap seng seadanya, kemudian membentuk komunitas kecil pedagang kopi yang berkeliling dengan sepeda, menyebar ke sudut-sudut jalan Ibukota. Hingga saat ini jumlahnya mencapai 250 KK, dan masuk ke dalam wilayah administratif Kelurahan Senen. Termos es, termos air panas, bertengger rapi pada kotak kayu atau keranjang plastik yang didesain sedemikian rupa di bagian setang dan jok belakang sepeda, menunggu untuk diisi kembali oleh bongkahan es yang telah dipecah-pecah dan air panas yang dimasak pada dandang besar. Selain sepeda yang diparkir di depan rumah masing-masing, puluhan lainnya berjajar di depan kios besar yang nantinya akan menyuplai gula, gelas plastik, juga berbagai macam merk kopi dan minuman sari buah siap seduh, melengkapi kebutuhan para pedagang sebelum diajak kembali berkeliling.Selengkapnya »Bakteri Coliform dalam Segelas Kopi, Mungkinkah?

Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

  • by

Beberapa waktu ke belakang, cukup ramai polemik mengenai Landhuis Cimanggis. Rumah peristirahatan abad 18 milik pembesar VOC yang mungkin tinggal tersisa 30-an persen itu ditengarai hendak digusur untuk perluasan kampus sebuah universitas. Perdebatan terjadi tentang signifikansi sejarah bangunan tersebut dan urgensi-urgensi lainnya. Yang ikut urun argumen beragam. Mulai dari komunitas pemerhati sejarah, sampai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pendapat Kalla berkisar pada pandangan bahwa secara histori dan kultural, tidak ada signifikansi dari bangunan tersebut. Terlebih isu yang beredar, bangunan itu adalah milik salah satu istri Gubernur Jenderal paling korup di jaman VOC, Albertus van der Parra. Para pembela bangunan, di sisi lain, berpendapat bahwa bangunan ini penting secara sejarah dan arsitektur untuk diselamatkan karena masuk dalam kategorisasi-kategorisasi benda cagar budaya.

Perdebatan itu singkatnya berlangsung dengan pandangan yang berbeda tentang terminologi “sejarah kita”. Saya sendiri berpandangan bahwa penceritaan kita tentang sejarah haruslah ada dalam kerangka poskolonial. “Kita” harus bisa mengkritisi dan melepaskan diri seutuhnya dari konteks-konteks kolonialisme dalam menulis dan menceritakan ulang sejarah. Menempatkan secara egaliter subjek-subjek sejarah dengan memperhitungkan struktur kemasyarakatan yang berlaku di setiap masa.Selengkapnya »Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

Pages: 1 2