urban

Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya

Jakarta sebagai Ibukota selalu menggambarkan kota-kota besar layaknya di negara besar lainnya. Pusat Jakarta memperlihatkan kemegahan dan keistimewaan hidup jika dilihat sebagai sebuah lingkup kota metropolitan yang diusungnya. Terdapat gedung-gedung megah bertingkat kanan-kirinya, mal-mal besar bersanding satu sama lainnya. Kota Jakarta bahkan tidak pernah tidur selama 24 jam dalam  sehari, untuk memenuhi kebutuhan manusianya dalam memenuhi hasrat-hasrat manusia modern. Lain daripada pembahasan soal pusat kota, Jakarta selalu bertarung dengan kampung kota dalam membangun kemewahannya. Pusat kota bukan saja menggusur sebagian besar kampung yang memiliki cerita besar di dalamnya. Pada lain pihak, kampung kota menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan para manusia yang tinggal di Jakarta, karena Jakarta bukan hanya ada di pusat kotanya saja.

Permukiman di Indonesia, pada umumnya memiliki 3 tipe permukiman, seperti tipe permukiman yang terencana (Well-Planned), tipe permukiman kampung dan tipe permukiman pinggiran/kumuh. Dalam konteks perumahan perkotaan, kampung merepresentasikan konsep housing autonomy dimana warga kampung mempunyai kebebasan dan otoritas untuk menentukan sendiri lingkungan kehidupan mereka. Kampung juga merepresentasikan apa yang dikatakan Turner sebagai housing as a process, as a verb. Konsep ini memaknai bahwa pembangunan perumahan, khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah/MBR, tidak bisa dilihat sebagai satu one stop policy, melainkan sebagai proses menerus yang dinamik seiring dengan proses pengembangan sosial dan ekonomi warga kota.Selengkapnya »Kampung Kota, Urbanisme, dan Stigma yang Hidup di Dalamnya

Tak Ada Lebaran

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam (Saw.) menaiki mimbar untuk berkhutbah. Tertunduk wajahnya saat menaiki anak tangga satu persatu. Lama ia beranjak dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Sahabat yang duduk paling depan mendengar beliau mengucapkan “Amin” di setiap anak tangga yang dipijaknya. Tiga kali. Di anak tangga pertama, beliau mengucap, “Amin.” Di anak tangga kedua, “Amin” lagi yang diucapkannya. Di anak tangga ketiga, beliau menutupnya pula dengan “Amin.”

Lepas khutbah, sahabat di barisan depan itu bertanya, “Engkau mengucapkan ‘Amin’ tiga kali. Ada apa gerangan?” Rasulullah bercerita tentang Jibril yang datang kala itu. “Jibril berdoa,” katanya, “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu dosa-dosanya tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki tangga mimbar kedua maka ia berkata: “Celakalah orang yang disebutkan namamu di hadapannya lalu tidak mengucapkan shalawat kepadamu”. Maka aku menjawab: “Amîn”. Ketika aku menaiki anak tangga mimbar ketiga, ia berkata: “Celakalah orang yang kedua orang tuanya mencapai usia tua berada di sisinya, lalu keduanya tidak memasukkannya ke dalam surga”. Maka aku jawab: “Amîn”.Selengkapnya »Tak Ada Lebaran

Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Di prasasti setinggi kurang lebih 2.5 meter itu tertulis, “Bulan Agustus, Musim Gugur Tahun 1761. Atas dasar rasa tanggung jawab, dari hasil pengumpulan sumbangan secara sukarela, maka dibukalah tanah ini untuk pemakaman, untuk menenangkan arwah-arwah yang menangis, tempat peristirahatan arwah-arwah, dan dengan harapan agar dikenang oleh para penerus… “.

Selanjutnya di bawahnya tertulis nama-nama para penyumbang, yang mana Jia Bai Dan Lin/Kapitan Lin sebagai penyumbang terbesar sebanyak 1000 koin emas dan Wu Zhi Mi Shi dan Hua penyumbang terkecil dengan 10 koin emas. Prasasti yang terletak di halaman Klenteng Di Cang yuan/Vihara Tri Ratna di Jalan Lautze 64 ini memuat peringatan tentang perluasan pekuburan Gunung Sahari. Dan ini merupakan pertanda bahwa di Sawah Besar, Kemayoran, dan sekitarnya merupakan kompleks kuburan bagi warga Tionghoa di sekitaran tahun 1761 sebelum dan sesudahnya.Selengkapnya »Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Dimabuk Kepayang Sayur Gabus Pucung

Panas sekali Bekasi di penghujung pagi menjelang siang ini.

Sayur gabus pucung yang kupesan baru saja datang, aroma kluwek yang khas menyerbak, hangat masuk ke rongga hidung. Serat daging ikan  gabus yang lembut kenyal dan tidak amis meluncur dengan segera ke dalam perut.

Paduan kemiri, bawang merah, bawang putih, cabai merah, jahe, kunyit dan daun salam yang ditumbuk kemudian ditumis menyemarakkan rasa kluwek yang gurih, ada sedikit rasa asin tapi masih dimaklumi sebagai pengaya rasa dan ciri dari kuliner Betawi pada umumnya.Selengkapnya »Dimabuk Kepayang Sayur Gabus Pucung

MH Thamrin dan Jejak Awal Persija di Petojo

Apa yang ada di benak Anda saat mendengar nama Petojo? Buat Anda yang tinggal di Jakarta, tentunya akan langsung teringat dengan kawasan padat ruko di Jakarta Barat yang dekat dengan salah satu pusat ritel elektronik terbesar di ibu kota Jakarta. Ya, apalagi kalau bukan Roxy. Tak sedikit juga sejumlah produsen ponsel yang membuka kios servisnya di kawasan itu. Sedikit intermezzo, karena saya juga tak mau bicara tentang ponsel atau lokasi servisnya di sana melainkan stadion bola yang ada di dekat Petojo atau tepatnya di Jalan Biak. Saya tidak bohong, stadion bola memang sungguh ada di sana.

Mundur sedikit ke beberapa hari setelah Hari Sumpah Pemuda, hari di mana saya pertama kali mengenal secara langsung sosok MH THamrin di museumnya. Lahir dan besar di Jakarta, saya mengenal sosok MH Thamrin hanya sebatas sebagai pahlawan nasional yang namanya di abadikan di salah satu sudut jalan mentereng ibu kota. Kenapa saya membahas sosok MH Thamrin? Karena masih ada hubungannya dengan stadion bola di Petojo yang akan saya bahas nanti.Selengkapnya »MH Thamrin dan Jejak Awal Persija di Petojo