souw beng kong

Kisah Souw Beng Kong dan Makamnya

Saya tertinggal rombongan!

Karena suatu keperluan, saya harus mampir ke anjungan tunai mandiri (ATM). Saya memisahkan diri dari rombongan teman-teman NgopiJakarta atau Ngojak yang masih berjalan sekitar 50 meter dibelakang saya. Saat selesai, saya tidak menemukan satu pun dari mereka. Gawat! saya tertinggal rombongan.

Saya pun mencoba mencari keberadaan rombongan Ngojak, saya susuri sisi Jalan Pangeran Jayakarta yang mengarah ke Kota dengan berbekal nama tujuan kami saat itu, makam Souw Beng Kong.

Sabtu, 23 Februari 2019. Saya mengikuti kegiatan Ngojak offline yang bertajuk ”#Ngojak19 Kampung Toapekong dan Jayakarta; Selusur Cerita Tua di Tepian Ciliwung Lama”. Sebuah kegiatan penambah pengetahuan, terutama terkait sejarah yang terjadi di Kota Jakarta, yang kali ini memulai perjalanannya dari Stasiun Sawah Besar dan berakhir di Gereja Sion, Pinangsia, Jakarta Barat.Selengkapnya »Kisah Souw Beng Kong dan Makamnya

Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta

Di prasasti setinggi kurang lebih 2.5 meter itu tertulis, “Bulan Agustus, Musim Gugur Tahun 1761. Atas dasar rasa tanggung jawab, dari hasil pengumpulan sumbangan secara sukarela, maka dibukalah tanah ini untuk pemakaman, untuk menenangkan arwah-arwah yang menangis, tempat peristirahatan arwah-arwah, dan dengan harapan agar dikenang oleh para penerus… “.

Selanjutnya di bawahnya tertulis nama-nama para penyumbang, yang mana Jia Bai Dan Lin/Kapitan Lin sebagai penyumbang terbesar sebanyak 1000 koin emas dan Wu Zhi Mi Shi dan Hua penyumbang terkecil dengan 10 koin emas. Prasasti yang terletak di halaman Klenteng Di Cang yuan/Vihara Tri Ratna di Jalan Lautze 64 ini memuat peringatan tentang perluasan pekuburan Gunung Sahari. Dan ini merupakan pertanda bahwa di Sawah Besar, Kemayoran, dan sekitarnya merupakan kompleks kuburan bagi warga Tionghoa di sekitaran tahun 1761 sebelum dan sesudahnya.Selengkapnya »Tanah Kematian, dari Sawah Besar Sampai Jalan Pangeran Jayakarta