ramadhan

Suasana yang Begitu Jauh

Ini adalah Idul Fitri pertama saya di Indonesia sejak empat tahun terakhir. Saya sudah lupa seperti apa yang namanya takbiran. Beberapa hari sebelum lebaran, pasti saya sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta dengan tiket di tangan. Saya lupa seperti apa harumnya opor ayam buatan tetangga dan gema dari Masjid untuk Salat Ied. Entah, tahun ini memang saya sudah tidak lagi menginginkan meninggalkan Indonesia. Di negeri yang jauh, saya tak bisa lagi merasakan suasana lebaran yang semestinya.

Saya memang tidak pernah ikut berlebaran. Namun, saya selalu suka dengan suasana lebaran. Apalagi ketika saya tidak berada di Indonesia, suasana itu terasa begitu jauh. Saya suka berputar ke pasar tradisional dan membeli bungkus ketupat yang kosong. Tak saya isi, hanya saya mainkan saja. Saya juga sering menyaksikan orang yang melintas di depan rumah saya hanya untuk bertakbiran.Selengkapnya »Suasana yang Begitu Jauh

Dunia Tak Boleh Lagi Dimabuk Bola!

Kau dapat bermain dengan sebelas James Bond, tetapi kau takkan membunuh kesebelasan Jerman.

Tahun 1994, hampir di semua sudut stadion di Amerika Serikat memasang sebuah spanduk raksasa dengan tulisan, “The New Making History”. Bisa jadi ini merujuk kepada catatan, kali pertama negeri Paman Sam ini jadi penyelenggara Piala Dunia. Menariknya, spanduk tersebut kemudian ditafsirkan sebagai peluang tim Eropa untuk mengangkat trofi di daratan Amerika. Mitos ini berlangsung puluhan tahun. Sebagaimana diketahui, sejak digelar tahun 1930, belum satupun tim Eropa menjuarainya di daratan Amerika. Sebaliknya, Brasil pernah melakukannya di Eropa, tepatnya di Swiss pada tahun 1958.

Dari 8 tim yang lolos ke fase gugur, 7 tim adalah tim Eropa. Ada peluang sejarah baru tercipta. Faktanya, lagi-lagi Brasil memperpanjang mitos tersebut usai mengalahkan Italia di final lewat adu penalti di Rose Bowl, Los Angeles, 17 Juli 1994.

Saya terngiang kembali kenangan masa kecil lewat spanduk raksasa itu. Akankah Jerman meruntuhkan mitos dinihari nanti? Ataukah Argentina membuat sejarah baru, kali ketiga membawa pulang trofi setelah juara di tahun 1978 dan 1986?

Mari mundur sejenak ketika kedua tim ini berlaga di final Piala Dunia sebelumnya.Selengkapnya »Dunia Tak Boleh Lagi Dimabuk Bola!

Dari Presiden ke Presiden…

Bagi orang Brasil, sepak bola itu alam “bawah sadar”. Entah pemain maupun penontonnya, sepak bola mampu menjauhkan diri dari berbagai persoalan hidup.  Sejak era Zagalo, Vava, Pele,  Garrincha, hingga era Ramires, Hulk, dan Neymar sekarang.  Si kulit bundar mampu melekatkan ikon Brasil sebagai mutiaranya pemain hebat. Pemain-pemain ini mampu menyihir lawannya dengan tipuan fatamorgana. Penonton pun tak tinggal diam. Jika tim nasional bertanding,  mereka melakukan ritual tarian samba di dalam stadion, percis apa yang sering digelar sepanjang Februari di Rio De Jenairo.

Brasil tahun ini adalah tuan rumah Piala Dunia. Dan dinihari nanti mereka masuk semifinal untuk bertemu Jerman. Meski bintang mereka, Neymar, dipastikan absen karena cedera, Brasil justru diuntungkan dengan kondisi psikologis. ”Pemain dalam kondisi fisik dan psikologis bagus dan tahu apa yang harus dilakukan untuk juara dunia,” ujar gelandang Jerman, Bastian Schweinsteiger.

Bagaimana dengan Jerman?

“Piala Dunia tanpa Jerman seperti kita menonton film Star Wars tanpa  Darth Vader,” ujar David Winner, seorang penulis buku Brilliant Orange, the Neurotic of Dutch Football. Ia juga menambahkan, “Jerman adalah pemeran terhebat sejarah sepak bola antarbangsa. “Selengkapnya »Dari Presiden ke Presiden…

Ad-dien

I searched for God and found only myself. I searched for myself and found only God.
Rumi

Terjaga hingga ujung dini hari, lalu mendengar muadzin bernyanyi. Ketika bicara tentang Tuhan, ada di mana?

Ia yang tak berwujud, namun Maha Besar. Berpusat di setiap mahkluk, mengisi setiap pojok ruang semesta. Ia memenuhi udara, tak hanya di atas kita. Tak patut hanya ditakuti, tapi dicintai. Karena tak dihindari, namun diraih dan disimpan baik-baik dalam hati. Lebih daripada keluarga, kekasih, dan sahabat. Tak akan ada mereka kalau tak ada Pencipta.

Lalu ketika bicara agama, maka timbul wacana tentang tata cara, yang tertulis dalam sebuah buku sepanjang masa bernama kitab. Sembahyang, sebagai salah satunya. Menghadap kiblat, mengucap niat, mengangkat tangan sambil menyebut Maha Besar, membaca surat, mengucap pujian dan salam, hingga menyapa Malaikat yang mencatat segala perbuatan. Tanda penyerahan, dalam pertemuan. Karena yang diminta tak hanya sekadar ritual penyembahan berupa sederetan gerakan dan bacaan.Selengkapnya »Ad-dien