puasa

Suasana yang Begitu Jauh

Ini adalah Idul Fitri pertama saya di Indonesia sejak empat tahun terakhir. Saya sudah lupa seperti apa yang namanya takbiran. Beberapa hari sebelum lebaran, pasti saya sudah berada di Bandara Soekarno-Hatta dengan tiket di tangan. Saya lupa seperti apa harumnya opor ayam buatan tetangga dan gema dari Masjid untuk Salat Ied. Entah, tahun ini memang saya sudah tidak lagi menginginkan meninggalkan Indonesia. Di negeri yang jauh, saya tak bisa lagi merasakan suasana lebaran yang semestinya.

Saya memang tidak pernah ikut berlebaran. Namun, saya selalu suka dengan suasana lebaran. Apalagi ketika saya tidak berada di Indonesia, suasana itu terasa begitu jauh. Saya suka berputar ke pasar tradisional dan membeli bungkus ketupat yang kosong. Tak saya isi, hanya saya mainkan saja. Saya juga sering menyaksikan orang yang melintas di depan rumah saya hanya untuk bertakbiran.Selengkapnya »Suasana yang Begitu Jauh

Lebaran dan Pulang

Satu sore di tahun 1954, Sitor Situmorang mendapati sebuah pemandangan yang menakjubkan. Usai pulang dari rumah Pramoedya Ananta Toer, ia melewati sebuah pekuburan Eropa. Dilihatnya rembulan yang memantul melalui sela pepohonan tua nan rimbun. Pemandangan itu kemudian melahirkan sebuah karya yang fenomenal lewat sebuah sajak berjudul Malam Lebaran. Isi sajak ini sangat pendek, hanya beberapa kata saja:

bulan di atas kuburan

Dalam pengakuannya, saat itu Sitor ingin bersilaturahmi karena masih suasana Lebaran. Pulangnya, ia kehilangan arah sembari dihinggapi rasa kecewa karena Pram tidak ada di rumah. Melewati jalan berkelok dan licin, tibalah di sebuah pekuburan tersebut. Maka saat ia melihat cahaya bulan itu, seakan menemukan jalan pulang yang sesungguhnya.Selengkapnya »Lebaran dan Pulang