politik

Yorrys, dari Premanisme ke Politik

Pada pertengahan 1990-an, sayup-sayup saya mendengar nama Yorrys TH Raweyai sebagai salah satu tokoh pemuda yang ditakuti. Dia disebut-sebut dekat dan disegani para preman di seantero ibukota. Karena itu ketika awal menjadi wartawan Tempo, 2001, mendapat tugas untuk mewawancarinya saya blingsatan bukan kepalang. Tapi untuk mengelak dari tugas, tentu haram hukumnya.

Nyatanya dia tak seangker yang dicitrakan. Rasa gemetar saat memencet bel dan memarkir Honda Kharisma di halaman rumahnya di kawasan Pejaten langsung luruh begitu berhadapan langsung dengannya. Dia ramah. Punya sense of humor yang baik.

Ketika dia mencalonkan diri sebagai Gubernur Papua Barat, Juli 2006, saya meliput aktivitas kampanyenya di Manokwari dan Sorong. Selama empat hari bergaul di sana, ada kalanya memang sisi keras dia muncul.Selengkapnya »Yorrys, dari Premanisme ke Politik

Tionghoa, Marga, dan Nama Sebagai Identitas

Nama merupakan hal yang pasti dimiliki oleh setiap orang dan rasanya hampir tak mungkin seseorang tidak memiliki nama. Biasanya nama seseorang terdiri paling sedikit dari satu suku kata. Sering kita jumpai nama orang-orang “dulu” hanya terdiri dari satu suku kata, seperti nama paman, kakek, kakek buyut, dan satu generasi di atas kakek buyut saya pun hanya memiliki satu suku kata. Baru generasi saya yang menggunakan lebih nama lebih dari dua suku kata, keponakan saya memiliki nama dengan lima suku kata.

Nama indentik dengan siapa dan di mana ia berasal, dari kelas strata sosial dan agama yang dianut memengaruhi pemberian nama seseorang. Seorang Jawa atau Sunda dengan nama turunan Raden sudah pasti ia berasal dari kalangan menak (Bangsawan), ataupun seorang yang memiliki gelaran Teuku atau Cut/Po Cut dipastikan berdarah Aceh, ataupun nama identik dari suatu suku seperti Meutia dan Keulama yang dipakai oleh anak perempuan di keluarga saya. Nama depan Muhammad, Abdullah, Abdul, hampir dipastikan yang memiliki nama tersebut adalah seorang Muslim. Fransiskus, Theodore, Abraham sebagian besar dipakai oleh orang-orang yang beragama Nasrani. Nama-nama dari orang Minang juga memiliki khas tersendiri, bahkan ada yang bilang jika namanya kebarat-baratan dan Muslim bisa ditebak dia orang Minang, dan juga gemar menamai anak laki-laki dengan akhiran -zul dan akhiran -niar untuk anak perempuannya. Seperti nama kenalan saya Zalzul dan Yusniar. Beberapa contoh nama Barat bukan lagi dominasi nama-nama dari suatu bangsa dan agama tertentu, semisal David, Jack, Tommy, dan sebagainya.

Kadang saya juga menemukan nama-nama untuk bayi diambil dari tren nama pemain sinetron yang sinetronnya terkenal semisal nama Farel. Untuk nama Jawa sudah bisa ditebak vokal suku kata yang didominasi dengan vokal ‘O’. Cerita tentang nama-nama di atas hanya bagian pembuka untuk bahasan tentang nama Tionghoa yang memiliki sejarah nama yang menurut saya cukup kompleks, di mana nama-nama yang mereka gunakan berubah, diubah, hilang, diganti kemudian menjadi tren. Dan kisah-kisah tentang nama Tionghoa yang saya dapat dari orang-orang yang saya kenal. Salah satu contoh, teman saya bernama Melky, asli Tionghoa-Indonesia bermarga Hong (洪) atau Ang dalam dialek Hokkian tapi saya panggil dia dengan nama Cina, De Wen (德文) atau Tik Bun dalam dialek Hokkian.Selengkapnya »Tionghoa, Marga, dan Nama Sebagai Identitas

Pages: 1 2

Baur Politik Seni Cikini

Bagi sebagian kalangan, boleh menganggap Cikini sebagai kantung kesenian, dengan kehadiran komplek Taman Ismail Marzuki. Atau boleh juga mereka lekatkan sebagai medan politik, menilik beberapa kantor partai politik bermukim di sini. Tidak ada yang salah dengan identifikasi Cikini tersebut, tergantung dari irisan mana kita menikmati Cikini. Beruntung bagi saya sebab bisa sedikit menikmati sebagian irisan tadi.

Suatu Sabtu pagi sekitar pukul 06:00 WIB, saya mengayuh sepeda, melewati jalan menuju stasiun Cikini dari arah Jalan Cikini Raya. Pagi yang masih lengang, kafe-kafe yang berderet belum pulih beristirahat dari malamnya, dan aspal yang masih menyisakan basah hujan.

Bersama komunitas Ngopi Jakarta (Ngojak), saya turut serta dalam jelajah yang niatnya mengambil rute memutar. Komunitas yang berangkat dari premis peradaban manusia bermula dari sungai ini, tentu memasukkan rute jalur Kali Ciliwung dalam daftar Cikini.Selengkapnya »Baur Politik Seni Cikini

Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

  • by

Beberapa waktu ke belakang, cukup ramai polemik mengenai Landhuis Cimanggis. Rumah peristirahatan abad 18 milik pembesar VOC yang mungkin tinggal tersisa 30-an persen itu ditengarai hendak digusur untuk perluasan kampus sebuah universitas. Perdebatan terjadi tentang signifikansi sejarah bangunan tersebut dan urgensi-urgensi lainnya. Yang ikut urun argumen beragam. Mulai dari komunitas pemerhati sejarah, sampai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pendapat Kalla berkisar pada pandangan bahwa secara histori dan kultural, tidak ada signifikansi dari bangunan tersebut. Terlebih isu yang beredar, bangunan itu adalah milik salah satu istri Gubernur Jenderal paling korup di jaman VOC, Albertus van der Parra. Para pembela bangunan, di sisi lain, berpendapat bahwa bangunan ini penting secara sejarah dan arsitektur untuk diselamatkan karena masuk dalam kategorisasi-kategorisasi benda cagar budaya.

Perdebatan itu singkatnya berlangsung dengan pandangan yang berbeda tentang terminologi “sejarah kita”. Saya sendiri berpandangan bahwa penceritaan kita tentang sejarah haruslah ada dalam kerangka poskolonial. “Kita” harus bisa mengkritisi dan melepaskan diri seutuhnya dari konteks-konteks kolonialisme dalam menulis dan menceritakan ulang sejarah. Menempatkan secara egaliter subjek-subjek sejarah dengan memperhitungkan struktur kemasyarakatan yang berlaku di setiap masa.Selengkapnya »Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

Pages: 1 2

Membaca Jakarta bersama Ngojak, dari Cikini hingga Salemba

Halo 2018!

Senang bisa berjumpa denganmu.

Semoga banyak pula kesenangan yang bisa saya jumpai di tahun ini.

Seperti kesenangan saat mendengar kabar bahwa kegiatan Ngojak offline akan kembali diadakan. Suka cita saya mendengar kabar ini. Butuh waktu 84 hari menunggu dalam rindu agar saya bisa kembali ikut merasakan kesenangan mengenal kota Jakarta tercinta. Membaca Jakarta, melalui kegiatan Ngojak offline yang kali ini mengambil tema “#Ngojak11 – Cikini; Bentrok Ideologi di Kampung Juang”.

Ngojak offline adalah sebuah kegiatan kopi darat yang diinisiasi oleh para pegiat apresiasi kehidupan kota. Kehidupan yang mencakup ruang, sejarah, budaya, tradisi, lingkungan dan manusia. Para penggiat ini memfokuskan kegiatan mereka di kota Jakarta, mereka menamakan diri dengan nama Ngopi Jakarta atau Ngojak.Selengkapnya »Membaca Jakarta bersama Ngojak, dari Cikini hingga Salemba

Pages: 1 2 3 4

Politik Jawa Jokowi Pasca-Ahok

Setelah Ahok habis, kini Jokowi dan koalisinya ada baiknya segera move on dan beralih ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ahok kalah. Sosok yang setahun lalu nampak sebagai calon tak terkalahkan ini harus menerima nasib menjadi warga DKI biasa selama lima tahun kedepan setelah ia dan Djarot Saeful Hidayat kalah suara oleh Anies Baswedan dan pasangannya, Sandiaga Uno. Ibarat sepakbola, Ahok adalah Real Madrid era 2003-2005, sadis dalam menyerang, tapi sering melakukan blunder. Blunder tersebut, disikat habis oleh lawan-lawannya. Ahok terbantai oleh kesalahannya sendiri.

Kekalahan di DKI tentunya sangat merugikan posisi politik Jokowi. Jokowi terpilih dalam posisi penguasa-oposisi yang 50-50. Sama kuat antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Partai-partai in between kubu Jokowi dan kubu Prabowo bergerak cenderung random diantara kedua polar tersebut, harap maklum, untuk mencari makan diantara porsi-porsi PDIP, Gerindra, dan Golkar. Sebagaimana teori atas bipolaritas politik, akan selalu ada perang dingin antara dua kubu, dan dalam diam, keduanya kasak-kusuk mencari sekutu untuk menjadi satu tahap lebih kuat dibanding musuhnya.

Jawa adalah kunci, begitu dialog palsu Aidit di film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu tayang di tanggal 30 September malam saat Orde Baru. Tak salah, Jawa, meskipun tak mutlak, adalah salah satu kunci pokok untuk memenangkan persaingan politik tingkat nasional. Jokowi, sembari kerja keras membangun infrastruktur, pasti tidak akan luput dari plot penguasaan Jawa. 2014 kedua kubu cenderung seimbang di Jawa, dan Jokowi justru memiliki keunggulan suara di Indonesia Timur. Namun jika bisa menguasai Jawa, tentunya akan jauh lebih mudah bagi Jokowi untuk menang di 2019.
Selengkapnya »Politik Jawa Jokowi Pasca-Ahok

Demokrasi Kentut

Tidak ada yang membahas epistemologi keburukan kentut ini secara detail meskipun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas itu bisa dibahas dari beragam sudut pandang: biologis, sosiologis, antropologis, syariah, siyasah, bahkan tasawuf.

Siapakah yang lebih bersalah daripada orang yang kentut di tengah kerumunan orang? Tidak ada. Semua aktivitas akan terhenti untuk bersama-sama mencari sumber bau dan suara kentut, menertawakan, mempersalahkan, atau malah menghukum si empunya kentut dengan makian. Kalau itu anak sendiri, maka hukumannya lebih bertubi-tubi. Dibilang tak beretika dan tak menguasai kontek sosio-kultur masyarakat yang menempatkan kentut sebagai perbuatan tidak menyenangkan. Maka, jangan salah kalau banyak teks merasa perlu untuk menuliskan kata (maaf) dalam tanda kurung sebelum menulis kata ‘kentut’. Perlu juga menyebut kata ‘maaf’ itu ketika Anda sedang berbicara di podium kehormatan seolah-oleh kentut itu barang yang menjijikan.

Tapi, apa sebenarnya yang membuat kentut itu patut dianggap sebagai sebuah ‘keburukan’? Apakah zat kentut itu yang bersalah dan layak dilarang? Ataukah proses membuat kentut itu yang keliru? Ataukah baunya yang berdosa –sehingga kalau tak bau maka boleh dan sah-sah saja melakukannya? Ataukah bunyinya yang mengganggu pendengaran –sehingga kalau tak berbunyi maka halal dilakukan di tempat umum? Ataukah situasinya di kerumunan orang yang menyebabkan kentut itu dikecam –sehingga jika kentut seorang diri itu hukumnya berubah dari haram menjadi mubah, bahkan wajib? Ataukah karena kentut diyakini sebagai hal yang membatalkan wudhu –yang dengannya pula membatalkan shalat, maka pada setiap yang membatalkan wujud sembah kepada Tuhan itu berarti sah keburukannya?Selengkapnya »Demokrasi Kentut

Kisah Dua Belas Marga: Depok Lama

Tak perlu menunggu lama lagi, dunia akan segera menjadi sangat seragam. Manusia akan menjalani hidup dengan cara yang sama. Vodka tidak lagi diminum di suhu minus, Coca-Cola sudah sampai ke Kampung Naga, Avanza terjual hingga pelosok Palopo, dan tiap seratus langkah di kota besar, pasti ada satu jendela dimana terdengar lagu Rihanna. Lebay sih, hehehe. Tapi sebagian memang benar. Proses karsa, cipta dan karya manusia nampaknya sudah cukup terseragamkan oleh apa yang disebut Globalisasi, dengan Kapitalisme dan Budaya Populer sebagai poin-poin utama dibantu oleh teknologi komunikasi yang makin mendekati ide connecting people dari Nokia.

Tak terkecuali di Indonesia. Budaya-budaya lokal nan unik hasil sejarah panjang harus berjuang keras untuk tetap eksis. Eksis secara organik nampaknya cukup berat, sehingga kebanyakan memerlukan konservasi, bahkan mistifikasi dan fusion, untuk tetap eksis.
Selengkapnya »Kisah Dua Belas Marga: Depok Lama

Pages: 1 2 3 4