opini

Jakarta Kota Tahi

Banyak yang tidak mengetahui bahwa kota lama Batavia sesungguhnya dibangun atas dasar sebuah konsep seorang arsitek bernama Simon Stevin (1548-1620) yang bekerja untuk militer Kerajaan Belanda. Skema ideal, itulah yang dirancang Simon dalam perencanaan tata kota Batavia. Sebagai seorang kepercayaan Prins Maurits, seorang panglima milter Belanda berjuluk Pangeran Oranye, Simon mengawinkan pengetahuan mengenai kota, teknis enjineering yang dikombinasikan dengan ilmu kemiliteran. Konsep ini berpijak pada konsep dasar kota Romawi yang mengandalkan pertahanan dan mobilisasi militer. Simon lantas memadukannya dengan aspek perdagangan dan aspek sipil. Semuanya didesaian secara hirarkis dengan menempatkan aspek-aspek tersebut di wilayah yang strategis. Hal ini pula yang menjadi andalan Kerajaan Belanda dalam membangun kota jajahan lainnya di seluruh dunia seperti di Srilangka dan Suriname. 1

Batavia kemudian dirancang oleh Simon dengan cara seperti negeri asalnya, Belanda, yakni dengan membelah kota menjadi dua bagian dan menemukannya dalam titik lintas pelayaran. Sekitarnya dikelilingi oleh parit-parit dan tembok yang ditopang oleh benteng-benteng kecil. Di dalamnya terdapat jaringan jalan beserta terusan air yang lurus. Dalam hal ini Ci Liwung yang berkelok kemudian diluruskan menjadi Groote Rivier (Kali Besar) dan memaksa kota menjadi dua bagian, sisi timur dan sisi barat. Namun kota ini jika dilihat dari peta-peta yang ada, tidak berada di garis lurus utara-selatan, tetapi agak melenceng beberapa derajat menjadi timur laut-barat daya.Selengkapnya »Jakarta Kota Tahi

Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

  • by

Beberapa waktu ke belakang, cukup ramai polemik mengenai Landhuis Cimanggis. Rumah peristirahatan abad 18 milik pembesar VOC yang mungkin tinggal tersisa 30-an persen itu ditengarai hendak digusur untuk perluasan kampus sebuah universitas. Perdebatan terjadi tentang signifikansi sejarah bangunan tersebut dan urgensi-urgensi lainnya. Yang ikut urun argumen beragam. Mulai dari komunitas pemerhati sejarah, sampai Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pendapat Kalla berkisar pada pandangan bahwa secara histori dan kultural, tidak ada signifikansi dari bangunan tersebut. Terlebih isu yang beredar, bangunan itu adalah milik salah satu istri Gubernur Jenderal paling korup di jaman VOC, Albertus van der Parra. Para pembela bangunan, di sisi lain, berpendapat bahwa bangunan ini penting secara sejarah dan arsitektur untuk diselamatkan karena masuk dalam kategorisasi-kategorisasi benda cagar budaya.

Perdebatan itu singkatnya berlangsung dengan pandangan yang berbeda tentang terminologi “sejarah kita”. Saya sendiri berpandangan bahwa penceritaan kita tentang sejarah haruslah ada dalam kerangka poskolonial. “Kita” harus bisa mengkritisi dan melepaskan diri seutuhnya dari konteks-konteks kolonialisme dalam menulis dan menceritakan ulang sejarah. Menempatkan secara egaliter subjek-subjek sejarah dengan memperhitungkan struktur kemasyarakatan yang berlaku di setiap masa.Selengkapnya »Melihat Yang Terkini Dari Cikini Dengan Kekinian

Pages: 1 2

Politik Jawa Jokowi Pasca-Ahok

Setelah Ahok habis, kini Jokowi dan koalisinya ada baiknya segera move on dan beralih ke Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ahok kalah. Sosok yang setahun lalu nampak sebagai calon tak terkalahkan ini harus menerima nasib menjadi warga DKI biasa selama lima tahun kedepan setelah ia dan Djarot Saeful Hidayat kalah suara oleh Anies Baswedan dan pasangannya, Sandiaga Uno. Ibarat sepakbola, Ahok adalah Real Madrid era 2003-2005, sadis dalam menyerang, tapi sering melakukan blunder. Blunder tersebut, disikat habis oleh lawan-lawannya. Ahok terbantai oleh kesalahannya sendiri.

Kekalahan di DKI tentunya sangat merugikan posisi politik Jokowi. Jokowi terpilih dalam posisi penguasa-oposisi yang 50-50. Sama kuat antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo. Partai-partai in between kubu Jokowi dan kubu Prabowo bergerak cenderung random diantara kedua polar tersebut, harap maklum, untuk mencari makan diantara porsi-porsi PDIP, Gerindra, dan Golkar. Sebagaimana teori atas bipolaritas politik, akan selalu ada perang dingin antara dua kubu, dan dalam diam, keduanya kasak-kusuk mencari sekutu untuk menjadi satu tahap lebih kuat dibanding musuhnya.

Jawa adalah kunci, begitu dialog palsu Aidit di film Pengkhianatan G30S/PKI yang selalu tayang di tanggal 30 September malam saat Orde Baru. Tak salah, Jawa, meskipun tak mutlak, adalah salah satu kunci pokok untuk memenangkan persaingan politik tingkat nasional. Jokowi, sembari kerja keras membangun infrastruktur, pasti tidak akan luput dari plot penguasaan Jawa. 2014 kedua kubu cenderung seimbang di Jawa, dan Jokowi justru memiliki keunggulan suara di Indonesia Timur. Namun jika bisa menguasai Jawa, tentunya akan jauh lebih mudah bagi Jokowi untuk menang di 2019.
Selengkapnya »Politik Jawa Jokowi Pasca-Ahok

Petani-petani Kendeng dan Kebebasan

Siapa yang Sedang Terpasung? 

Aksi Dipasung Semen Jilid 2 dan  pro kontranya, menggelitik saya untuk bertanya, siapa yang (sebenar-benarnya) sedang terpasung? Dan siapa yang (sebenar-benarnya) paling bebas?

Semen yang membungkus kaki dan membatasi aktivitas para petani, aktivis, dan relawan yang ikut dalam aksi itu mengingatkan saya kepada tokoh dua tokoh dalam roman “Jalan Tak Ada Ujung” (1952) karya Mochtar Lubis. Sebuah roman yang begitu rapih menyusun jalur penjungkirbalikan perspektif tentang kebebasan. Guru Isa, yang semasa fisiknya bebas, justru begitu terpenjara jiwanya karena kepengecutannya sendiri dalam mengambil keputusan. Ia hampir tidak memiliki keberanian dan selalu gagal dalam mengambil tindakan-tindakan revolusioner untuk pembebasan diri. Sementara Hazil, dikisahkan sebagai seorang aktivis yang selalu bergerak penuh kebebasan. Hingga pada suatu akhir perjuangan kedua orang tokoh itu sama-sama terpenjara secara fisik, keadaan yang kasat mata terlihat sama, namun justru menghadirkan refleksi yang berbeda. Dibalik jeruji besi, Hazil merasa terpenjara juga jiwanya.. Sebaliknya, Guru Isa menganggap keterpenjaraan fisiknya sebagai proklamir bagi kebebasan jiwanya: secara fisik terpenjara, namun jiwanya merdeka.Selengkapnya »Petani-petani Kendeng dan Kebebasan

Yang Fana Adalah Mantan, Kebaikan Abadi

Seorang kawan bertanya dalam sebuah kegiatan seminar, “Kamu beneran gak kenal sama Bapak itu? Dia tuh punya banyak aset properti, gelarnya udah Doktor, profilnya berberapa kali muncul di koran dan sering jadi pembicara deh setau gue di beberapa media televisi.”

“Oh iya? Hebat yak. Gue belum kenalan. Hehe.” saya jawab pakai tambahan cengengesan

Kata ‘hehe’ pada akhir kalimat saya coba analisis sendiri. Pertama [mungkin] semacam pernyataan bahwa saya kurang gaul sampai-sampai sinis dalam hati kalau tak mengakrabi media televisi di era sekarang itu adalah kesalahan fatal, yang kedua [mungkin lagi] adalah jawaban bahwa saya tidak peduli. Saya belum mengenalnya, dan tak tahu kebaikan apa yang pernah ia lakukan. Ini sarkastik.Selengkapnya »Yang Fana Adalah Mantan, Kebaikan Abadi

Kamu Anu, Tapi Anu

Suatu saat ada pertanyaan tentang demokrasi negeri ini –di mana posisinya? Saya bingung bukan kepalang. Saya bukan pengamat, apalagi pengkaji. Setidaknya, saya masih menjaga marwah –yang definisinya kerap salah kaprah– profesi  dan keilmuan. Karena hari ini orang bisa bicara apapun tentang kedokteran meski baru membaca buku populer kesehatan dan tulisan terasimilasi hoax di saluran maya. Cukup sampirkan jenggot dan sorban, didengarnya hafal dua-tiga hadits pun Anda akan dicium tangan bolak balik. Dipanggil Kiai. Yang tak suka pada istilah Kiai mungkin akan memanggil Anda ustadz –dan hebohlah Anda memenuhi jadwal wira-wiri. Lebih-lebih, corongkan kamera ke muka Anda dan bicaralah tentang korupsi dan laknat semua orang yang Anda anggap penuh muslihat, Anda akan dibilang penegak demokrasi dan pemegang tampuk suci kepemimpinan sampai mati. Begitu sialnya negeri ini, memang.Selengkapnya »Kamu Anu, Tapi Anu

Gue Bukan Aing

Sebuah masa, seperti halnya sebuah tempat, tentu punya bahasa sendiri.  Kata nyokap dan bokap lahir dari bahasa prokem yang punya kaidah menyisipkan “ok” sambil membuang bagian akhir kata. Prokem sendiri adalah arti dari kata preman. Menurut masanya, bahasa gaul ini lahir kisaran tahun 70-an.

Belakangan, di mana arus informasi begitu cepat, istilah-istilah baru pun bermunculan dalam keseharian kita. Media sosial banyak sekali menyumbangkan bahasa baru dalam percakapan verbal. Walau sebagian besar tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baku dan terkadang salah kaprah. Ciri utama yang mudah dikenali adalah penghilangan fenom pada sebuah kata, penambahan onomatope, atau bisa berupa singkatan, misalnya yang lagi ngehits: leh uga (boleh juga), warbyasa (luar biasa), atau baper sebagai akronim dari bawa perasaan.Selengkapnya »Gue Bukan Aing

Menuli(s)

“Lama gak nulis, otak gue bego,” seloroh seorang kawan lewat obrolan daring. Betul ternyata, dua bulan terakhir otak saya nyaris tumpul merangkai kalimat. Alasan klasik tentunya kesibukan pekerjaan yang bertubi-tubi. Tapi nampaknya saya naif ketika menjadi malas menulis di blog ini. Padahal banyak sekali momen yang sebetulnya sayang jika tidak ditorehkan menjadi sebuah catatan, minimal tentu saja untuk dikonsumsi sendiri sebagaimana tujuan blog keroyokan ini; jadi cendramata yang asik bagi penulisnya mengenang kota Jakarta. Ujar Abah Amin, mana tahu, tahun depan sudah berlabuh di kota atau negara lain. Amin, Abah.

Banyak hal yang ingin ditulis, mulai dari hal-hal serius di kegiatan komunitas, rencana melamar Isyana Sarasvvati, isu-isu sosial politik sepanjang tahun 2015, orang-orang yang asal tekan tombol share di media sosial,- istilahnya ‘sarsersor muncrat-muncrat’- atau hal-hal remeh soal dunia sepak bola atau fotografi. Ide-ide yang hanya membuncah di kepala, minta diledakkan. Selengkapnya »Menuli(s)