NgoJak

Macan Ibu Kota Yang Tak Lagi Punya ‘Rumah’

sudah ku bilang kau jangan melawan Persija
kini kau rasakan sendiri akibatnya
lebih baik kalian diam di rumah saja
duduk yang manis nonton di layar kaca

Yel-yel The Jakmania di atas menggema saat saya memasuki Stadion Voetbalbond Indonesische Jacatra (VIJ-sekarang Persija), Cideng, Jakarta Pusat. Stadion VIJ menjadi saksi tumbuh kembang Persija. Namun, meski nama awal Persija diabadikan menjadi nama stadion, klub yang kini identik dengan warna oranye ini sekarang tidak memiliki ‘rumah’.

Persija lahir sebagai gerakan perlawanan. Saat itu sejumlah pemuda berinisiatif menggalang dana untuk korban kebakaran Pasar Baru dan Gang Bunder yang terjadi di tahun 1927 lewat pertandingan sepak bola. Namun niat baik itu terhalang karena Voetballbond Batavia Omstaken (VBO), asosiasi sepak bola milik Hindia-Belanda melarang mereka menggunakan Lapangan Deca (Monas).

Sering mendapat perlakuan diskriminatif seperti di atas, sejumlah pemuda lalu berinisiatif untuk membentuk wadah bermain bola. Setelah melalui beberapa kali rapat, klub dengan julukan Macan Kemayoran ini akhirnya lahir pada Rabu, 28 November 1928. Satu bulan setelah Sumpah Pemuda. Selengkapnya »Macan Ibu Kota Yang Tak Lagi Punya ‘Rumah’

Tujuh Jam di Pasar Baru

Kalau bicara soal Pasar Baru, yang melintas di pikiran saya adalah toko bahan pakaian, toko sepatu lawas semacam Bata & Buccheri, tempat bikin jas yang terkenal sejak dulu kala, dan jajanan kaki lima yang enak-enak. 😀

Kemarin, bareng Ngopi Jakarta (Ngojak), saya dan Embun jalan-jalan keliling Pasar Baru dan sekitarnya, dari pagi sampai sore. Dari wangi sampe kuyup. Dari laper, kenyang, laper lagi, kenyang lagi. Dari asing jadi sayang.Selengkapnya »Tujuh Jam di Pasar Baru

Aku Ingin Pindah ke Weltevreden

“Aku ingin pindah ke Meikarta!”

Apakah Anda familiar dengan kalimat di atas? Iya. Iklan Meikarta. Sebuah wilayah yang digadang-gadang akan menjadi kawasan elit bagi warga Jakarta. Di mana kebahagiaan dan kenyamanan tumpah ruah di dalamnya.

Tetapi karena ini bukan cerita tentang Meikarta, dan saya juga tidak mendapat bayaran apa-apa, maka cukup sampai di sini saja. Sejatinya saya ingin bercerita tentang Weltevreden.

Izinkan saya memulai dengan sedikit cuplikan sejarah agar pembaca paham konteksnya.

Sumber foto: Website Sinarharapan.net

Kawasan Weltevreden dahulunya hanyalah sebuah daerah tak bertuan hingga seorang perwira VOC bernama Anthony Paviljon membuka daerah ini pada tahun 1632, yang kemudian hari dikenal dengan nama Paviljoenplein. Kepemilikan Paviljoenplein kemudian berpindah tangan ke salah satu dewan Hindia Belanda bernama Cornelis Chastelein pada tahun 1696. Di tanah ini dibangun villa-villa peristirahatan bagi kaum elit Hindia Belanda. Dan nama Weltevreden lahir, yang bermakna tempat yang menyenangkan. Kawasan ini semakin pesat saat konglomerat Belanda, Justinus Vinck, membangun dua pasar yakni Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang.Selengkapnya »Aku Ingin Pindah ke Weltevreden

Ngopi (di) Jakarta

 

Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi. ~ Joko Pinurbo

Bahkan ketika malam telah sempurna menelan siang, dan suhu udara sudah mulai turun, Jakarta adalah tempat di mana kopi harus bergelas-gelas dituangkan jika kita taat kepada sepenggal puisi Joko Pinurbo di atas. Kalau mau jujur, rezeki bukan sekadar yang ditakar di penghujung hari, penghujung bulan, atau penghujung apa pun yang menandai masuknya uang ke kantong kita sebagai pendapatan. Rezeki lebih dari sekadar alat tukar yang berada di genggaman.

Dalam timbangan agama muncul kata “syukur” yang menunjuk kepada rasa terimakasih terhadap apa pun yang membuat kita bahagia, senang (sudah gajian,  misalnya), atau bernafas lega. Lebih dari itu, “syukur” adalah penanda, semacam garis demarkasi vertical antara “Yang Maha (Kuasa)” dan “yang biasa (lemah)”.

Pada kelahiran anak, hutang yang terbayar, istri yang cantik, selamat dari kecelakaan lalu-lintas, bergoyang dalam irama dangdut, timnas U19 juara Piala AFF, sarapan lontong sayur, punya pacar yang pengertian, sembuh dari sakit, kenaikan gaji, dagangan laris-manis, dan hal-hal lain yang mampu menenteramkan ego; biasanya kata “syukur” punya tempat tersendiri yang  terhormat. Dalam pengertian yang luas, hal-hal demikian adalah rezeki juga.
Selengkapnya »Ngopi (di) Jakarta